Pasar Hunian Mengarah ke Dua Kutub

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Pasar Hunian Mengarah ke Dua Kutub Kawasan Lippo Cikarang, Kabupaten Bekasi.(Dok. MI)

PASAR properti mulai menunjukkan perubahan pola permintaan. Di tengah tantangan daya beli masyarakat dan biaya pembiayaan nan tetap menjadi perhatian konsumen, segmen rumah tapak justru menjadi motor utama penjualan, terutama pada produk hunian terjangkau dan premium.

PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) mencatat pra-penjualan (marketing sales) sebesar Rp902 miliar pada semester pertama 2026, tumbuh 14% dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya. Dari capaian tersebut, rumah tapak menjadi kontributor terbesar dengan porsi 69% dari total pra-penjualan.

Presiden Direktur LPCK Agus Arismunandar mengatakan permintaan terhadap kediaman tetap menunjukkan tren positif, khususnya pada segmen nan bisa menjawab kebutuhan pasar saat ini.

“Pencapaian 53% dari sasaran pra-penjualan tahunan pada semester pertama mencerminkan kepercayaan konsumen nan tetap tinggi terhadap produk kami,” ujar Agus.

Menurut dia, perusahaan memandang kesempatan pertumbuhan terutama pada segmen kediaman terjangkau dan premium nan tetap mempunyai permintaan kuat.

Capaian LPCK menunjukkan bahwa pasar kediaman saat ini tidak bergerak secara merata. Konsumen condong lebih selektif dan memilih produk nan mempunyai nilai tambah jelas, baik dari sisi nilai maupun fasilitas.

Rumah tapak menjadi pilihan dominan dibandingkan kediaman vertikal. Selama enam bulan pertama 2026, LPCK sukses menjual 956 unit, dengan kontribusi proyek seperti Cendana Suites @ The Patio, NEO 5enses, dan The Allegra @ Casa De Lago.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa area penyangga industri seperti Cikarang tetap mempunyai daya tarik sebagai letak hunian. Kedekatan dengan pusat pekerjaan, pengembangan infrastruktur, serta konsep kota berdikari menjadi aspek nan mendorong permintaan.

Di sisi lain, kenaikan keahlian LPCK juga tidak hanya terlihat dari sisi penjualan. Perseroan mencatat pendapatan Rp1,62 triliun pada semester pertama 2026, dengan untung kotor Rp511 miliar. Margin untung kotor meningkat menjadi 31% dari 21% pada periode nan sama tahun sebelumnya, sementara margin EBITDA naik menjadi 20% dari sebelumnya 13%.

Peningkatan margin tersebut menunjukkan adanya perubahan dalam strategi upaya pengembang, mulai dari efisiensi biaya hingga penguatan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

Selain penjualan hunian, upaya pengelolaan kota juga mulai menjadi sumber pendapatan penting. Segmen jasa pengelolaan kota mencatat kontribusi Rp262 miliar, memperkuat model upaya developer area nan tidak lagi hanya berjuntai pada penjualan lahan dan rumah.

Meski demikian, tren ini perlu dilihat lebih luas untuk mengetahui apakah pola serupa terjadi di pasar properti nasional. Data dari developer lain, penyaluran KPR perbankan, serta daya beli golongan masyarakat menengah bakal menjadi parameter apakah pasar properti memang tengah mengalami pergeseran menuju dua kutub: kediaman terjangkau dan premium. (Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia