Jakarta, CNBC Indonesia - Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) mengungkapkan kondisi pariwisata di Indonesia tetap mengalami tekanan dan belum pulih seperti sebelum pandemi Covid-19. Meski begitu, jumlah akomodasi hotel di Indonesia tumbuh signifikan.
Ketua Umum GIPI Hariyadi B.S. Sukamdani memberikan contoh untuk total akomodasi hotel pada 2025 sebanyak 34.702 unit. Angka itu meningkat 20,4% dibandingkan 2021 nan mencapai 27.607 unit.
"Jadi jika kita memandang info di 2025 untuk sektor perhotelan dibandingkan dengan tahun 2021, itu terjadi peningkatan dari sisi suplai ialah peningkatan dari jumlah hotel dan akomodasi secara total sebesar 19,5% menjadi 34.702 unit. Dibandingkan dengan 2021, jumlahnya mencapai 27.607 unit," kata Hariyadi dalam konvensi pers Rapimnas dan Rakernas IV GIPI, Rabu (14/10/2026).
Sedangkan untuk okupansi perhotelan di 2025 juga membaik dibandingkan 2021, di mana rata-rata okupansinya mencapai 49,26% dari sebelumnya hanya 36,64%. Sayangnya jika dibandingkan dengan 2019 alias sebelum pandemi Covid-19, okupansi hotel belum kembali normal di mana saat itu rata-ratanya mencapai 54,99%.
"Tingkat okupansi rata-rata di 2021 mencapai 36,64%, di 2025 adalah 49,25%. Nah jika kita lihat sebelum Covid-19 alias di 2019, okupansinya mencapai 54,99%. Jadi jika dari sektor jasa akomodasi, jika kita lihat dari sisi penambahan suplai dan juga penurunan okupansi, maka mungkin itu ada hubungan lantaran kenaikan suplainya juga cukup besar," terang Hariyadi.
Secara akumulasi, menurutnya, kondisi jasa akomodasi condong stabil alias stagnan, lantaran adanya kenaikan suplai alias penambahan jumlah akomodasi.
"Jadi perkembangannya kita anggap tidak terlalu signifikan namalain stagnan, jangan dilihat dari penurunan okupansinya saja," ujarnya.
Konferensi Pers Rapimnas & Rakernas IV Gabungan Industri Pariwisata Indoensia (GIPI), Rabu (14/10/2026). (CNBC INdonesia/Chandra Dwi) Foto: (CNBC INdonesia/Chandra Dwi)
Dari sisi sektor penerbangan, Hariyadi mengungkapkan tetap adanya tantangan, di mana jumlah penumpang pesawat domestik di 2025 turun 22,9% menjadi 61,2 juta orang, dari sebelumnya pada 2019 nan mencapai 79,4 juta orang.
"Jadi jika kita memandang seperti ini, maka secara pikulan penumpang, terutama pesawat domestik itu turun, tapi secara catatan di masing-masing unit sektor itu relatif stabil," jelas Hariyadi.
Tak hanya itu saja, jumlah unit pesawat maskapai nasional pada 2025 juga tetap rendah dibandingkan dengan 2019, di mana jumlah 2025 mencapai 560 unit, turun dari posisi 2019 nan mencapai 616 unit. Sementara dari sisi kunjungan visitor mancanegara (wisman), jumlah pada 2025 tetap lebih rendah dari 2019, di mana pada 2025 jumlahnya mencapai 15,39 juta orang, sedangkan di 2019 mencapai 16,11 juta orang.
Namun, pada periode Januari-Agustus 2026, rata-rata pertumbuhan wisman ke Indonesia mencapai 5,38%, sehingga jika pertumbuhan ini konsisten terjaga, maka pihaknya memproyeksikan kunjungan wisman di 2026 bisa pulih dari 2019, di mana pihaknya memproyeksikan kunjungan wisman di 2026 mencapai 16,22 juta orang.
"Data kunjungan Wisman, ini juga trennya dari Januari hingga Agustus 2026, mencapai 10,57 juta, tumbuh ata-ratanya 5,38%, dibandingkan dengan periode nan sama di 2025. Jadi jika trend ini terus terjaga, tumbuhnya setiap bulan 5,38%, maka di 2026 itu bakal tercapai 16,2 juta orang wisman, bisa pulih dari 2019," ungkap Hariyadi.
Pihaknya pun mencatat ada beberapa hambatan nan tetap dihadapi oleh industri pariwisata di Indonesia. Adapun hambatan pertama adalah promosi nan tidak optimal lantaran terbatasnya anggaran dari Kementerian Pariwisata. Kedua ialah biaya nan dipungut dari sektor pariwisata tidak dibelanjakan untuk sepenuhnya mendukung pertumbuhan pariwisata.
"Contohnya, pungutan biaya visa Rp 5,03 triliun di 2024 dan pajak pariwisata nan dipungut oleh daerah, ini contohnya aja ya, DKI Jakarta itu memungut pajak hotel untuk 2023 adalah Rp 1,9 triliun dan untuk restoran Rp 3,95 triliun. Sedangkan Bali, info 2025 untuk hotel dan restoran digabung jadi satu itu Rp 8,66 triliun. Sebagai gambaran, anggaran Kemenpar 2026 adalah Rp 1,8 triliun. Jadi jika kita lihat dari potensi-potensi nan ada ini, nan kembali dari pariwisata itu relatif kecil," jelasnya.
Ketiga, nilai tiket pesawat nan tetap tinggi, membikin penumpang terutama perjalanan domestik sekarang lebih selektif untuk mencari penerbangan.
"Kendala nan kita hadapi adalah tetap tingginya nilai tiket, lantaran tingginya nilai avtur dan besarnya biaya penerbangan lainnya, seperti penggunaan PPN avtur, biaya passenger service charge, biaya ground handling, biaya suku cadang pesawat, dan lain-lain," ujarnya lagi.
Selain itu, ada beberapa hambatan lain seperti biaya tenaga kerja nan terus meningkat, izin nan berbiaya tinggi, kurangnya support pembiayaan perbankan, dan lain-lainnya.
Namun, Hariyadi juga mengungkapkan tetap ada kesempatan di industri pariwisata Indonesia, seperti pelemahan rupiah, makin bermunculan lokasi wisata nan beragam dan atraktif, jumlah penerbangan internasional ke beberapa wilayah Indonesia nan bertambah, dan pola perjalanan golongan menengah ke atas dan Gen Z nan mulai melakukan perjalanan wisata di dalam negeri.
"Kita juga ada kesempatan sebetulnya untuk meningkatkan pertumbuhan pariwisata kita. Pertama adalah nilai rupiah nan terdepresiasi, menjadikan pariwisata di Indonesia itu sebetulnya menjadi lebih kompetitif. Jumlah penerbangan internasional menuju beberapa airport internasional di beragam daerah, itu juga mengalami peningkatan," pungkas Hariyadi.
(chd/wur)
[Gambas:Video CNBC]
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·