Paradoks Perdamaian Global, Indonesia Bisa Apa?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi peta Indonesia. Foto: hyotographics/Shutterstock

Sejarah tidak pernah betul-betul damai. Ia bergerak dalam ketegangan nan terus-menerus antara gairah manusia untuk hidup stabil dan dorongan untuk menguasai. Dalam lanskap dunia hari ini, paradoks itu semakin nyata: perdamaian sering kali tidak datang sebagai ketiadaan konflik, tetapi sebagai hasil dari bentrok itu sendiri. Dunia modern, dengan segala kemajuan teknologinya, belum sepenuhnya sukses keluar dari logika purba tentang kompetisi, dominasi, dan akumulasi.

Di titik ini, kita perlu jujur memandang bahwa perang bukan sekadar anomali, melainkan juga bagian inheren dari dinamika peradaban. Ia lahir dari tumbukan kepentingan nan tidak terkelola, dari ambisi nan melampaui pemisah etis, dan dari kepercayaan bahwa kebenaran dapat dimonopoli.

Ketika identitas—baik agama, ideologi, maupun nasionalisme—diposisikan sebagai absolut, kekerasan menjadi mudah dibenarkan. Ini adalah wajah gelap modernitas nan sering disembunyikan di kembali retorika kemajuan.

Namun, paradoks terbesar justru terletak pada negara-negara nan selama ini dianggap sebagai penjaga tatanan global. Sejarah kekuatan besar bumi tidak pernah betul-betul steril dari ekspansi, eksploitasi, dan pertentangan moral.

Ilustrasi demokrasi. Foto: Sorapop Udomsri/Shutterstock

Demokrasi, dalam banyak kasus, tidak tumbuh secara organik di dalam negeri saja, tetapi juga dibawa keluar dengan cara-cara nan sering kali problematis. Ada lembah antara nilai nan diklaim dan praktik nan dijalankan.

Di kembali gambaran kemakmuran negara maju, tersimpan narasi panjang tentang kerentanan. Banyak dari mereka pernah melewati fase kemiskinan nan ekstrem—fase di mana masyarakat hidup dari pertanian subsisten, menggantungkan hidup pada alam, dan memperkuat dengan sumber daya nan terbatas. Artinya, kemajuan bukanlah kondisi nan given, melainkan hasil dari proses panjang nan penuh ketidakpastian dan bentrok internal.

Kesadaran ini penting, lantaran dia menggeser langkah kita memandang pembangunan. Selama ini, ukuran kemajuan terlalu sering direduksi menjadi angka—pertumbuhan ekonomi, produk domestik bruto, alias akumulasi kapital. Padahal, ukuran nan lebih mendasar adalah sejauh mana pembangunan itu bisa menciptakan keberartian bagi manusia. Kemajuan nan tidak menghadirkan makna hanya bakal melahirkan kekosongan baru.

Dalam konteks inilah Indonesia menemukan momentumnya. Di tengah pergeseran geopolitik dunia menuju tatanan multipolar, Indonesia mempunyai posisi nan tidak hanya strategis secara geografis, tetapi juga struktural. Ia berada di simpul jalur perdagangan dunia, mempunyai populasi muda nan besar, dan dianugerahi kekayaan sumber daya alam nan luar biasa. Namun, potensi ini sering kali dibaca secara parsial—terjebak dalam logika ekstraktif jangka pendek.

Ilustrasi logika. Foto: Shutterstock

Padahal, jika dikelola secara progresif, sektor perkebunan, pertanian, dan peternakan Indonesia dapat menjadi pedoman kekuatan dunia nan jauh lebih berkepanjangan dibandingkan industri berbasis pemanfaatan semata. Indonesia bukan sekadar produsen komoditas mentah seperti kelapa sawit, karet, kopi, alias kakao. Ia juga mempunyai kesempatan untuk naik kelas menjadi pusat penemuan agroindustri dunia—mengintegrasikan teknologi, riset, dan nilai tambah dalam setiap rantai produksinya.

Dalam sektor pertanian, misalnya, tantangan ketahanan pangan dunia justru membuka ruang strategis bagi Indonesia. Dengan biodiversitas nan tinggi dan kondisi agroklimat nan beragam, Indonesia mempunyai kapabilitas untuk menjadi lumbung pangan dunia—bukan dalam makna tradisional sebagai pemasok bahan mentah, melainkan sebagai tokoh utama dalam sistem pangan berkepanjangan berbasis teknologi dan kearifan lokal.

Hal nan sama bertindak pada sektor peternakan. Selama ini, Indonesia tetap berjuntai pada impor untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Namun, dengan pendekatan nan tepat—mulai dari penguatan peternakan rakyat, integrasi dengan sektor pertanian, hingga pemanfaatan bioteknologi—Indonesia berpotensi membangun kedaulatan pangan nan tidak hanya mandiri, tetapi juga kompetitif secara global.

Sementara itu, kekayaan sumber daya alam—dari mineral hingga energi—harus dikelola dengan paradigma baru. Tidak lagi sekadar diekspor sebagai bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi produk berbobot tinggi melalui industrialisasi nan berbasis hilirisasi. Ini bukan hanya soal ekonomi, melainkan juga kedaulatan. Negara nan bisa mengendalikan rantai nilai produksinya bakal mempunyai posisi tawar nan jauh lebih kuat dalam percaturan global.

Ilustrasi hukum. Foto: Shutterstock

Namun, semua potensi ini tidak bakal berarti tanpa fondasi institusional nan kokoh. Rule of law, transparansi, dan tata kelola nan akuntabel adalah prasyarat mutlak. Tanpa itu, kekayaan justru bakal menjadi sumber bentrok baru, bukan kesejahteraan. Sejarah banyak negara menunjukkan bahwa sumber daya alam bisa menjadi berkah, tetapi juga bisa menjadi kutukan—tergantung pada gimana dia dikelola.

Lebih dari itu, pembangunan Indonesia ke depan kudu melampaui sekadar pertumbuhan ekonomi. Ia kudu diarahkan pada pembuatan makna kolektif. Ketika kebutuhan dasar masyarakat—pangan, pendidikan, kesehatan—telah terpenuhi, tantangan berikutnya adalah gimana membangun peradaban nan berakar pada keadilan, keberlanjutan, dan kemanusiaan.

Abad ke-21 bukan lagi tentang siapa nan paling kuat secara militer alias paling besar secara ekonomi. Ia adalah tentang siapa nan bisa mendefinisikan ulang makna kemajuan.

Dalam konteks ini, Indonesia mempunyai kesempatan historis untuk bukan hanya menjadi kekuatan besar, melainkan juga menjadi model peradaban baru—yang mengintegrasikan kemajuan material dengan kedalaman nilai. Pertanyaannya bukan lagi "Apakah Indonesia bisa menjadi besar?" melainkan "Apakah Indonesia bisa menjadi bermakna?"

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan