Panas Mendidih Gulung Eropa! 40 Tewas di Prancis-Situasi Darurat

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang panas ekstrem melanda dahsyat wilayah Eropa awal musim panas ini. Prancis secara resmi mencatat hari terpanas sepanjang sejarah pembukuan meteorologi mereka, berbarengan dengan laporan tragis mengenai puluhan orang nan tewas tenggelam akibat berupaya mendinginkan diri di area nan tidak diawasi.

Mengutip The Guardian, Rabu (24/6/2026), Perdana Menteri Prancis, Sébastien Lecornu, mengonfirmasi situasi darurat ini pada hari Selasa. Pihaknya mencatat adanya lonjakan korban jiwa nan signifikan di tengah cuaca ekstrem nan sedang berlangsung.

"Ada musibah tragis dari kasus tenggelam. Data terbaru nan kami terima menunjukkan ada 40 kematian sejak 18 Juni. Sebagian besar korbannya adalah anak muda," ujar Lecornu.

Lecornu langsung menggelar rapat krisis berbareng jejeran menteri untuk merespons gelombang panas nan membikin wilayah Prancis barat mendidih dengan suhu menembus di atas 40 derajat Celsius. Menurutnya, Prancis sedang mengalami bagian cuaca dengan intensitas nan luar biasa berbahaya, di mana rekor suhu lokal maupun nasional terus pecah setiap hari dan malam.

Badan cuaca nasional Prancis, Météo-France, menyatakan bahwa hari Selasa merupakan hari terpanas sejak pengukuran pertama kali dimulai pada tahun 1947. Suhu termometer apalagi melonjak hingga 44,3 derajat Celsius di wilayah Pissos (Landes) serta mencatat rekor baru di kota Bordeaux nan mencapai 42,1 derajat Celsius. Akibatnya, 54 wilayah departemen di Prancis berada dalam status siaga merah akibat panas nan dinilai sangat menyesakkan dan melelahkan ini.

Menara Eiffel Dibatasi

Suhu ekstrem nan membakar ini memaksa dua lokasi wisata paling terkenal di dunia, Menara Eiffel dan Museum Louvre, untuk memangkas jam kunjungan mereka demi keselamatan. Menara Eiffel ditutup lebih awal pada hari Selasa pukul 16.00 waktu setempat-atau delapan jam lebih sigap dari agenda normal-dan kemungkinan besar bakal menerapkan kebijakan serupa pada hari Rabu.

Sementara itu, pihak manajemen Museum Louvre memutuskan memperpendek jam operasional sebanyak dua jam lebih awal mulai hari Rabu hingga Sabtu. Pengelola museum mengakui bahwa meski gedung berhistoris tersebut mempunyai ketahanan alami, strukturnya tetap rentan dan belum cukup beradaptasi dengan perubahan suasana nan ekstrem, ditambah dengan akumulasi panas dari tingginya jumlah pengunjung.

Météo-France mencatat indeks panas nasional Prancis-rata-rata suhu tertinggi siang dan malam dari 30 stasiun cuaca-menyentuh nomor rekor baru ialah 29,8 derajat Celsius. Angka ini melampaui rekor terburuk sebelumnya nan tercatat pada gelombang panas Agustus 2003 dan Juli 2019 sebesar 29,4 derajat Celsius.

Otoritas Paris mengimbau masyarakat untuk bekerja dari rumah (work from home/WFH) dan menghindari perjalanan menggunakan kereta api. Kepala wilayah Île-de-France, Valérie Pécresse, menjelaskan bahwa jaringan transportasi mengalami tekanan berat lantaran rel kereta tidak bakal bisa menahan suhu di atas 50 derajat Celsius. Di sektor energi, pembangkit listrik tenaga nuklir Golfech terpaksa mematikan satu reaktornya setelah air sungai nan digunakan sebagai pendingin memanas melampaui pemisah kondusif 28 derajat Celsius.

Peta Suhu Eropa

Kondisi ekstrem ini juga memicu penutupan sekitar 1.350 sekolah di Prancis dan diduga kuat berangkaian dengan kematian tragis dua anak balita nan terjebak di dalam mobil family mereka. Ilmuwan suasana dari Imperial College London, Clair Barnes, menjelaskan bahwa kejadian ini dipicu oleh massa udara panas dari gurun Sahara di Afrika Utara nan bergerak sangat lambat tanpa adanya hembusan angin.

Dampak jelek gelombang panas ini juga meluas secara masif ke negara-negara tetangga. Di Inggris, otoritas setempat menghadapi potensi rekor suhu baru hingga 40 derajat Celsius, nan memicu peringatan merah kedua dari Met Office serta penutupan sejumlah sekolah. Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, secara langsung memperingatkan bahwa krisis suasana dari bahan bakar fosil ini tengah mendorong bumi mendekati titik kritis bencana.

Sementara itu di Italia, Kementerian Kesehatan memberlakukan siaga merah di 15 kota besar termasuk Milan dan Roma. Lonjakan penggunaan pendingin ruangan memicu pemadaman listrik massal di Milan dan Turin, sementara ribuan orang dilaporkan dilarikan ke jasa darurat rumah sakit akibat komplikasi cuaca panas. Di tempat lain, Jerman melaporkan adanya lonjakan kecelakaan berenang selama akhir pekan nan menewaskan lima orang.

Kondisi tidak kalah mengerikan terjadi di Spanyol, di mana nyaris seluruh wilayahnya berada di bawah status siaga panas ekstrem. Di provinsi Almería, suhu udara apalagi tidak turun di bawah 30 derajat Celsius saat malam hari selama tiga malam berturut-turut, menciptakan situasi mencekam nan digambarkan oleh media lokal sebagai malam neraka.

(tps/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News