
Mantan Ketua Komisi III DPR RI, Pieter C Zulkifli
JAKARTA - Mantan Ketua Komisi III DPR RI, Pieter C Zulkifli, menegaskan kritik dan pendapat hinaan bentuk saat ini sangat rawan bagi kualitas kerakyatan dan kepintaran publik. Menurutnya, kerakyatan semestinya menjadi panggung adu buahpikiran bukan arena adu hinaan fisik
Pakar norma dan politik ini menilai, kejadian body shaming politik disebutkan sebagai indikasi serius menurunnya etika dan logika elite.
‘’Demokrasi idealnya adalah arena adu gagasan, bukan lomba mencela raga. Namun nan belakangan kita saksikan justru sebaliknya, politik Indonesia kerap tergelincir ke wilayah paling dangkal, ialah tubuh manusia,’’ujar Pieter Zulkifli, Rabu (28/1/2026).
Dia mencontohkan, soal pernyataan sejumlah pihak nan menyebut perubahan kulit wajah mantan Presiden Joko Widodo dipelintir menjadi 'karma'.
Menurutnya, kejadian ini bukan sekadar soal etika komunikasi, melainkan cermin bugil kemiskinan intelektual elite dan partai politik. Ketika argumen habis, info mentok, dan prestasi susah dibantah, tubuh musuh dijadikan sasaran.
"Kulit, gestur, usia, apalagi ekspresi wajah diperlakukan seolah parameter kepemimpinan. Di titik ini, politik kehilangan martabatnya sebagai ruang rasional," katanya.
"Ini bukan kritik, ini pengalihan rumor nan dibungkus takhayul. Mengaitkan kondisi biologis dengan legitimasi moral adalah praktik purba nan semestinya sudah lama ditinggalkan oleh kerakyatan modern,"lanjutnya.
Menurutnya, dalam tradisi makulat dan logika, praktik semacam ini dikenal sebagai argumentum ad hominem, ialah langkah berdebat dengan menyerang pribadi alias kondisi individual musuh alih-alih menguji pendapat dan kebijakannya.
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·