Pabrikan Motor Listrik Ini Makin Agresif Garap Pasar RI

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah berita dua pabrik komponen otomotif Jepang di Jawa Timur nan disebut berpotensi memindahkan investasi ke Vietnam lantaran konsentrasi pada pengembangan kendaraan listrik, produsen motor listrik ALVA justru mengambil arah berbeda. Perusahaan ini mengaku tetap garang membangun ekosistem kendaraan listrik dari Indonesia, termasuk memperkuat produksi di Cikarang, Jawa Barat.

Belakangan, rumor relokasi investasi mencuat setelah adanya rumor perusahaan komponen otomotif nan mempertimbangkan memindahkan investasi ke Vietnam. Kondisi ekonomi dunia nan penuh tekanan membikin sejumlah perusahaan melakukan pertimbangan terhadap strategi upaya dan letak investasinya.

"Kalau secara makro memang ekonomi dunia sedang cukup menantang dan Indonesia juga pasti merasakan dampaknya. Tapi kami tetap terus bekerja sama dengan supply chain otomotif di Indonesia. Itu juga salah satu argumen kenapa letak pabrik ALVA ada di Cikarang," kata Chief Marketing Officer ALVA, Putu Swaditya Yudha alias Adit di Pakubuwono Jakarta Selatan, Selasa (23/6/2026).

ALVA mengungkapkan selama enam bulan pertama 2026 jumlah konektor charging station miliknya meningkat nyaris dua kali lipat dibanding akhir tahun lalu. Jaringan tersebut sekarang tidak hanya berada di Jawa dan Bali, tetapi mulai merambah Sumatera dan Kalimantan.

PT. Ilectra Motor Group (IMG), selaku perusahaan nan menghadirkan lifestyle mobility solution melalui merek motor listrik ALVA. (Dok.Alva)PT. Ilectra Motor Group (IMG), selaku perusahaan nan menghadirkan lifestyle mobility solution melalui merek motor listrik ALVA. (Dok.Alva) Foto: PT. Ilectra Motor Group (IMG), selaku perusahaan nan menghadirkan lifestyle mobility solution melalui merek motor listrik ALVA. (Dok.Alva)

"Kami memandang kendaraan listrik bisa menjadi salah satu solusi untuk ketahanan daya Indonesia. Karena itu konsentrasi kami bukan hanya menjual motor, tetapi membangun ekosistem dari charging station, after sales, sampai kesiapan spare part," ujarnya.

Pabrikan menilai pertumbuhan pasar motor listrik tidak lagi semata berjuntai pada subsidi. Konsumen mulai mempertimbangkan aspek biaya operasional, kenaikan nilai BBM, hingga biaya perawatan kendaraan konvensional nan semakin mahal.

"Tahun 2025 tanpa insentif pun penjualan kami tetap tumbuh lebih dari 50%. Artinya jika produknya tepat, infrastrukturnya ada, dan masyarakat teredukasi, demand itu tetap terjadi," jelas Adit.

Perusahaan juga menyatakan permintaan motor listrik sepanjang tahun ini tetap tumbuh. Bahkan hingga Mei 2026, penjualan disebut sudah melampaui capaian periode nan sama tahun sebelumnya meski tanpa support insentif pemerintah nan hingga sekarang tetap menunggu kepastian.

"Indonesia tetap punya kesempatan nan sangat besar, sehingga kami terus berinvestasi dan mengembangkan ekosistem kendaraan listrik dari sini," sebut Adit.

(fys/wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News