Overthinking atau Insting? Ini Cara Sikapi Kondisi Anak dengan Tepat

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi anak nan mengalami ruam kemerahan akibat alergi. Foto: Shutterstock

Ibu sering dihadapkan dengan emosi resah nan datang tanpa bisa diprediksi terhadap kondisi anak. Tak jarang, kekhawatiran itu muncul di saat nan tidak terduga, apalagi ketika sedang menikmati waktu santuy sekalipun.

Contohnya, saat sedang me time di kafe dan berjauhan dengan anak, tiba-tiba muncul rasa resah tentang kondisi si kecil. Tanpa disangka, setelah diperiksa, rupanya anak sedang gelisah, tidur tidak nyenyak, dan apalagi muncul tanda-tanda gangguan kesehatan.

Atau saat tengah melakukan rutinitas di rumah, tiba-tiba muncul kekhawatiran tentang kondisi anak di sekolah. Setelah kembali ke rumah, rupanya anak terlihat lesu serta muncul ruam merah.

Perasaan ibu memang tidak bisa diabaikan. Namun di sisi lain, situasi tersebut kerap membikin ibu kebingungan dan terjebak dalam bentrok jiwa lantaran gejalanya nan terbilang “abu-abu”.

Ditambah lagi, kekhawatiran tersebut seringkali diredam dengan penjelasan nan terdengar masuk akal, misalnya fase pertumbuhan alias perubahan mood. Bukannya menenangkan, perihal itu justru dapat menambah kebimbangan, “Apakah emosi ini hanya overthinking alias justru insting?”.

Moms, tarikan antara logika nan mencoba menenangkan dengan bunyi hati nan terus memberikan sinyal waspada tidak selalu corak overthinking, lho. Bisa jadi itu adalah hatikecil ibu nan sedang bekerja.

Dilansir laman Parents, hatikecil ibu terjadi lantaran adanya ikatan emosional nan terbentuk lantaran meningkatnya produksi hormon oksitosin alias hormon "cinta" selama kehamilan, melahirkan, dan saat merawat anak. Hormon oksitosin membikin ibu lebih peka terhadap perubahan-perubahan mini nan terjadi pada anak, apalagi nan mungkin tidak disadari oleh orang lain.

Lalu, gimana langkah membedakan hatikecil dan overthinking?

Ilustrasi anak mengalami masalah pencernaan akibat alergi susu. Foto: Shutterstock

Saat rasa resah menguasai, ibu merasa perlu segera mencari tahu apa nan terjadi. Namun sebelum itu, perihal pertama nan kudu dilakukan adalah menenangkan diri dan mengawasi situasi dengan saksama agar konsentrasi ibu tetap terjaga dan tidak terpecah.

Biasanya saat overthinking datang, ibu condong merasa resah tanpa dasar nan jelas, seakan-akan ada sesuatu nan mengganjal meski tidak bisa dijelaskan. Namun ketika hatikecil bekerja, ibu rasa cemas biasanya muncul setelah memperhatikan hal-hal tidak biasa nan terlihat secara bentuk maupun emosional, seperti perubahan perilaku anak, penurunan nafsu makan, alias indikasi lainnya, meskipun anak tidak mengeluh secara langsung.

Senada dengan itu, menurut Dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A, Dokter Spesialis Anak di Tzu Chi Hospital, ibu nan mendengarkan instingnya condong lebih peka dalam mendeteksi masalah kesehatan anak meski gejalanya belum terlihat jelas.

Ketika merasakan hatikecil alias memandang tanda-tanda nan berbeda pada anak, Dr. Ian pun mendorong para ibu untuk segera mengambil langkah lanjutan, seperti melakukan tes alergi, sebagai langkah pertama untuk mencegah masalah kesehatan nan lebih besar

Bukan tanpa alasan, berasas info nan dihimpun IDAI, potensi alergi anak Indonesia mencapai 2-7,5 persen. Masalah alergi pada anak juga kerap susah dideteksi lantaran gejalanya nan bervariasi dan serupa dengan gangguan kesehatan lain. Misalnya, ruam pada kulit, sesak napas, alias gangguan pencernaan, bisa saja dianggap sebagai kondisi umum akibat cuaca alias jangkitan ringan.

Agar pengamatan tersebut tidak sekadar menjadi beban pikiran, sebaiknya pertimbangkan juga untuk untuk berkonsultasi dengan tenaga medis, apalagi jika muncul karakter alias indikasi seperti ruam merah hingga perut kembung setelah si mini mengonsumsi susu sapi alias turunannya. Sebab, gejala-gejala tersebut bisa menjadi tanda bahwa anak tidak cocok dengan susu sapi.

Demi memvalidasi rasa overthinking sekaligus memahami akibat alergi anak lebih awal, tersedia perangkat penemuan awal digital nan praktis dan telah sesuai dengan pedoman medis resmi dari IDAI. Alat ini memungkinkan Ibu untuk mengubah keraguan menjadi info objektif hanya dalam hitungan menit, serta mengambil langkah proaktif nan terukur demi memastikan kesehatan si kecil.

Jadi, jangan overthinking lagi ya, Moms!

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan