Sebanyak 10 orang nan merupakan ibu dari anak-anak korban kekerasan dan penelantaran Daycare Little Aresha Yogyakarta dihadirkan sebagai saksi dalam sidang nan digelar di Pengadilan Negeri Yogyakarta (PN Yogyakarta), Rabu (26/8).
Di hadapan majelis pengadil nan dipimpin Hakim Ketua Sunaryanto, para orang tua ini satu per satu menceritakan kronologi mereka memasukkan anaknya ke daycare tersebut.
Saksi pertama adalah Imedia Dwi Anjani. Dia memasukkan anaknya saat berumur 3 tahun 6 bulan. Saat ini anaknya telah berumur 4 tahun 6 bulan.
Imedia menjelaskan anaknya merupakan penyandang Autism Spectrum Disorder (ASD) ringan. Sebelumnya Imedia tinggal di Bekasi, di sana anaknya juga masuk daycare.
Saat kembali ke Yogyakarta, dia kembali memasukkan anaknya ke daycare agar bisa terus terstimulasi dan bersosialisasi dengan teman-teman seumurannya.
"Kembali ke Yogya saya mau memasukkan ke daycare dengan tujuan nan sama agar tetap terstimulasi dan bisa bersosialisasi dengan anak-anak seumuran," kata Imedia di persidangan.
Dia menemukan info Daycare Little Aresha di Google. Saat itu ratingnya tinggi. Setelah itu dilanjutkan dengan survei ke lokasi. Survei disebutkan hanya bisa dilakukan hari Minggu, tidak di hari lain.
"Karena saya ibu dari anak kebutuhan khusus. Setiap mau cari sekolah saya menjelaskan dulu kondisi anak saya. Anak saya ASD apakah bisa menerima anak saya. Dari Bu Diyah (terdakwa, pemilik daycare) jawabnya bisa, di sini ada nan berkebutuhan unik juga," tuturnya.
Saat itu dia mendapatkan penjelasan sederet akomodasi di daycare apalagi termasuk support memberikan terapi bicara, nan sampai daycare tersebut digerebek janji itu tidak pernah ditunaikan.
"Saya positif thinking lantaran jujur Diyah orangnya sangat lembut tutur katanya, kayak ya ngemong banget. Jadi positif waktu itu," ujarnya.
Masuk di daycare itu, Imedia bayar Rp 250 ribu untuk pendaftaran, biaya lain-lain Rp 500 ribu, seragam Rp 200 ribu, dan SPP bulanan Rp 1,1 juta.
"Saya bertanya (soal izin) apakah di sini ada izinnya, ibu (Diyah) jawabnya udah. Tapi setelah penyergapan rupanya sekolah nan ada izinnya kudu terpampang izinnya. Saya nggak tahu tentang itu. (Kalau tahu tak berizin) nggak lanjut," tuturnya.
Selama mengantar anaknya, Imedia juga tak diperkenankan masuk dia hanya boleh mengantar sampai pagar saja.
"Tidak boleh (masuk ke dalam) alasannya area steril anak. Orang tua tidak boleh masuk ke dalam," katanya.
Anak Diikat dan Dikurung
Imedia mengatakan setelah Daycare Little Aresha digerebek polisi, dia mencari info soal peristiwa nan dialami anaknya ke teman-teman anaknya nan sudah bisa berkomunikasi lantaran anaknya tetap kesulitan berkomunikasi dua arah.
"Menurut teman-temannya, Bilang B (anak Imedia) sering diikat padahal B tetap mini dia hanya pengin main. B sering dikurung di bilik sendirian," katanya
Anak Imedia juga pernah dikurung berbareng satu anak lain di sebuah ruangan. Selain itu, info nan Imedia dapat anaknya juga pernah jatuh dari tangga hingga nangis guling-guling.
"Temannya (Inisial) L juga bilang pernah dikurung bareng B. B diikat," katanya.
Anaknya Terekam Video Penggerebekan Polisi
Usai penggerebekan, Imedia kehadiran polisi ke rumahnya. Polisi tersebut nan menyelamatkan anaknya nan saat penyergapan sedang diikat.
Imedia juga ditunjukkan video penggerebekan. Saat itu anaknya tengah diikat.
"Saya diperlihatkan video penyergapan itu saya memandang anak saya sedang diikat di engsel pintu. Diikatkan lagi ke kakinya. Cuma pakai diapers (popok) tidak pakai baju. Berdiri dan background banyak anak-anak lain nan tidak pakai baju," tuturnya.
Anak Alami Scabies
Kesaksian lain datang dari Zly Wahyuni, anaknya masuk ke Little Aresha saat berumur 7 bulan kurang 1 hari. Saat penyergapan usianya 17 bulan.
Selama di Daycare Little Aresha, anaknya sempat mengalami gatal di bagian pantat nan rupanya adalah penyakit scabies.
"Gatal-gatal di pantat anak saya. Dijawab (pihak daycare) mungkin ruam popok berjalannya kasus verifikasi di Sardjito anak saya terkena scabies," kata Zly.
Ika Lailatul, orang tua anak lainnya menjelaskan anaknya nan berinisial N masuk Daycare Little Aresha pada 14 April 2025. Saat masuk usia anaknya 8 bulan dan saat penyergapan usianya 21 bulan.
Semasa di Little Aresha, anaknya dua kali dirawat di rumah sakit.
"Dua kali rawat saat di LA (Little Aresha) dengan diagnosa bronkopneumonia," kata Ika.
Anak Ika juga mengalami gangguan sensorik dan gangguan tidur.
23 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·