Orang Tua: Sejauh Mana Kita Bisa Menghargai Anak-Anak?

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Anak-anak bermain dengan riang dan gembira. Dok pribadi

Sejauh mana kita bisa menghargai anak-anak kita? pertanyaan nan nyaris susah sekali diterima orang tua. Alih-alih menjawab, biasanya ego membikin kita menyepelekannya.

Menjadi orang dewasa seringkali membikin kita tak sadar, bahwa seiring bertambahnya usia tak melulu membikin kita jadi dewasa. Faktanya banyak orang tua alergi mengenal langkah menghargai seorang anak.

Stigma bahwa anak kudu patuh, kudu mendengar orang tua dan tetap kecil, seakan menjadi tembok kokoh nan menghalangi kita mengenal siapa anak-anak kita. Sehingga pada akhirnya, susah menerima niat baik mereka.

Dalam kehidupan sehari-hari misalnya, banyak kita temukan seorang anak nan menjatuhkan gelas dengan tak sengaja, berhujung dengan bentakan. Atau ketika dia dimintai tolong dan justru tak sesuai pengarahan dan angan kita maka makian dan kemarahan nan menyertainya.

Mereka hanya diam, kaget, alias apalagi menangis. Sering juga ada anak nan merusak peralatan mainan, alias perkakas di dapur dan kita menjadi murka. Pikiran kita penuh dengan penghakiman "keterlaluan, kenapa senang merusak barang!"

Bagaimana Melihat Diri Anak

Padahal jika saja kita mau sedikit lebih tenang, cobalah amati dan gunakan pikiran kita. Jangan marah dulu, jangan teriak dulu, jangan dibentak dulu, tapi rendahkan badanmu sejajar dengan mereka.

Cobalah untuk duduk dan amati prosesnya, apa nan dia lakukan sebelum gelas pecah, jangan-jangan dia hanya terpeleset ketika mau mengambilkan kita air minum, alias ketika dia tidak mau merepotkan kita saat merasa haus.

Cobalah untuk mengamati, ketika dia sedang merusak mainannya, apakah dia hanya merusak alias justru muncul corak baru nan sesuai imajinasinya. Iya, imajinasinya nan sangat luar biasa kreatif.

Cobalah perhatikan, ketika kita meminta bantuannya dan dia mengerjakannya tak sesuai pengarahan kita, tapi justru bergerak sesuai keinginannya. Apakah di sana ada manusia mini baru nan belajar mendengar inisiatifnya?

Analisa dan Kesadaran Orang Tua

Lalu terakhir, munculkan tanya dalam akal kita, apa sebenarnya niat anak kita? Kenali lebih dekat manusia mini nan tak berdosa ini, nan tetap tumbuh dan baru mengenal dunia. Tapi seringnya kita paksa menelan dan menghadapi ego kita sebagai manusia dewasa.

Pada dasarnya, tak ada anak beriktikad jelek. Niat mereka baik, hanya tak mengerti gimana langkah nan benar, belum mengerti apakah itu merugikan, tetap berpikir gimana mewujudkan maunya dan imajinasinya. Dia berpikir hasil akhir tapi tetap belum berkawan dengan prosesnya.

Dari sini, semestinya kita sebagai orang tua sadar, sungguh mudahnya kita menghancurkan jiwa mini mereka. Betapa minimnya penghargaan kita terhadap niat baik mereka. nan kita lihat hanya akhirnya saja nan menyebalkan dan membikin kita semakin lelah.

Ingatlah, seorang inovator bakal selalu berimajinasi dengan pikiran "bagaimana seandainya", alias "bagaimana kalau". Dan ujung dari kata-kata itu adalah praktik dan eksperimen. Tidak ada penelitian tanpa pengorbanan, seperti mainan nan mahal berubah menjadi rongsokan di mata kita, tapi menjadi bentuk khayalan nan sangat berbobot di mata anak-anak kita.

Ada talenta nan terpendam di sana, nan kudu kita hargai dan arahkan agar berkembang lebih baik.

Dewasa berfaedah bisa bersikap bijak dengan menghargai niat baik mereka dan upaya mereka.

Tokoh Dunia nan Melegenda

Karena faktanya, bumi terperangah ketika dari seorang anak nan dulu menyebalkan dan membikin bingung, beralih bentuk menjadi sosok seperti :

1. Albert Einstein

Waktu mini dianggap lambat belajar dan sering melamun. Tapi kemudian menjadi intelektual besar nan mengubah bumi dengan teori relativitas.

2. Thomas Alva Edison

Waktu mini dikenal sangat aktif dan sering dianggap “nakal”. Ia apalagi pernah dianggap tidak cocok di sekolah, sehingga ibunya mengajarnya di rumah. Rasa penasarannya nan besar (kadang sampai bikin masalah) justru membuatnya menjadi penemu hebat.

3. Steve Jobs

Saat mini dan remaja, Jobs dikenal suka melawan patokan dan keras kepala. Orang tua dan gurunya sering kewalahan. Tapi sifatnya nan berbeda itu akhirnya membuatnya berani menciptakan penemuan besar di bumi teknologi.

4. Elon Musk

Semasa mini dia sering dianggap “aneh”, suka tenggelam dalam pikirannya sendiri, dan mengalami banyak kesulitan sosial. Ia juga sering dimarahi lantaran terlalu enak-enak dengan hal-hal nan dia minati. Namun sekarang dikenal sebagai inovator di bagian teknologi dan luar angkasa.

5. Nikola Tesla

Tesla punya kebiasaan unik dan obsesif sejak mini nan sering membikin orang di sekitarnya bingung alias kesal. Namun justru dari pola pikirnya nan tidak biasa, dia menghasilkan banyak penemuan penting..

Mereka semua orang-orang sukses nan menjadi legenda. Orang tuanya pasti bangga, namun tak semua dari mereka hidup untuk menghargai nan dulu tak mereka sukai itu.

Lalu, akankah kita menjadi orang tua nan malu saat anak-anak nan tak pernah kita hargai itu, menjadi sukses dengan pikiran dan khayalan mereka? Tanpa pendampingan kita.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan