OPEC+ Sepakat Tambah Produksi Minyak 188.000 Barel/Hari Mulai Juni

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta -

Organisasi negara-negara pengekspor minyak dan sekutunya (OPEC+) sepakat menambah produksi minyak mulai Juni sebesar 188.000 barel per hari (bph). Hal ini dilakukan di tengah ketidakpastian pasokan imbas perang di Timur Tengah dan keluarnya salah satu personil kunci mereka, Uni Emirat Arab (UEA).

Pengumuman peningkatan produksi pada Juni nan disampaikan oleh golongan tujuh produsen minyak utama bumi (Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman) sebenarnya sedikit lebih rendah dari rencana kenaikan produksi pada Mei ini nan mencapai 206.000 barel per hari. Angka produksi tersebut sudah tidak memasukkan bagian produksi UEA nan secara resmi keluar dari OPEC pada 1 Mei.

"Dalam komitmen kolektif mereka untuk mendukung stabilitas pasar minyak, tujuh negara peserta memutuskan untuk menerapkan penyesuaian produksi sebesar 188 ribu barel per hari dari penyesuaian sukarela tambahan nan diumumkan pada April 2023," kata OPEC dalam pernyataannya, dikutip dari CNBC, Senin (4/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk diketahui, pasokan minyak dunia sekarang masuk dalam masa krisis sejak perang Iran nan dimulai pada 28 Februari lalu. Sebab tak lama sejak perang dimulai, area Selat Hormuz nan selama ini menjadi jalur pelayaran vital untuk pasokan minyak dan gas dunia ditutup.

Belum cukup, di tengah krisis ini UEA selaku produsen terbesar ketiga dari OPEC memutuskan untuk keluar dari golongan tersebut. Negara Teluk itu menyimpulkan keputusan keluar dari golongan itu sesuai dengan kepentingan nasional setelah dilakukan tinjauan komprehensif terhadap kebijakan dan kapabilitas produksinya.

Beruntung di tengah beragam tekanan ini, nilai minyak dunia sempat turun pada Jumat (1/5) kemarin setelah Iran mengirimkan proposal perdamaian terbaru kepada para mediator di Pakistan, nan kembali membangkitkan angan bahwa penyelesaian dengan AS tetap mungkin terjadi.

Dalam perihal ini, nilai minyak mentah berjangka AS turun 3% dan ditutup pada US$ 101,94 per barel, sementara patokan minyak mentah internasional, Brent, turun nyaris 2% dan ditutup pada US$ 108,17 per barel. Namun, penurunan ini tetap jauh dari nilai normal sebelum perang dimulai lantaran kedua patokan nilai minyak bumi ini sudah naik nyaris 78% lebih tinggi jika dibandingkan dengan awal 2026.

(igo/ara)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance