OPEC+ Beri Sinyal Naikkan Produksi Minyak Usai Uni Emirat Arab Hengkang

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Logo Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) di Aljir, Aljazair Foto: Ramzi Boudina/REUTERS

Negara-negara pengekspor minyak dan sekutunya (OPEC+) memberi sinyal untuk meningkatkan produksi, meski menghadapi tekanan internal dan keluarnya Uni Emirat Arab (UEA) dari keanggotaan. Keputusan tersebut dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga persepsi stabilitas sekaligus menunjukkan bahwa arah kebijakan golongan tidak berubah di tengah dinamika geopolitik.

Dilansir Bloomberg, Minggu (3/5), dalam pembicaraan nan berjalan akhir pekan, personil OPEC+ nan dipimpin oleh Arab Saudi dilaporkan telah menyepakati kenaikan kuota produksi untuk Juni 2026. Volume nan dibahas berada di kisaran 188.000 barel per hari.

Meski demikian, gangguan pasokan nan terjadi akibat bentrok di Iran membikin tambahan produksi dalam jangka pendek diproyeksi tidak bisa terealisasi sepenuhnya. Apalagi jalur pengedaran utama minyak mengalami tekanan, sehingga membatasi arus bentuk minyak ke pasar global.

Dengan kondisi tersebut, konsentrasi utama pertemuan OPEC+ bukan semata pada kenaikan jumlah produksi, melainkan juga keahlian untuk berbisnis. Para delegasi sebelumnya telah mengantisipasi kenaikan dalam jumlah nan moderat.

Keluarnya UEA menjadi salah satu guncangan terbesar dalam sejarah OPEC+. Setelah nyaris enam dasawarsa menjadi anggota, langkah Abu Dhabi mencerminkan akumulasi ketegangan dengan Arab Saudi mengenai kebijakan produksi. UEA selama ini mendorong elastisitas nan lebih besar untuk memaksimalkan kapabilitas produksi, sementara sistem kuota OPEC+ dinilai membatasi ambisi tersebut.

video story embed

Perpecahan ini juga menambah tekanan terhadap pengaruh OPEC+ di pasar minyak global. Dalam beberapa tahun terakhir, keahlian aliansi untuk mengendalikan nilai telah tergerus oleh meningkatnya produksi dari negara non-anggota, termasuk produsen minyak di Amerika Serikat.

Namun, sejumlah personil utama menegaskan komitmennya untuk tetap bertahan. Rusia dan Kazakhstan menyatakan tidak mempunyai rencana untuk keluar dari aliansi. Wakil Perdana Menteri Rusia, Alexander Novak, menegaskan bahwa kesempatan terjadinya perang nilai dalam waktu dekat relatif kecil, terutama lantaran keterbatasan produksi akibat bentrok nan sedang berlangsung.

Di sisi lain, negara seperti Irak juga tetap memilih berada di bawah payung OPEC, meski selama ini dikenal kerap melampaui kuota produksi. Pelanggaran serupa juga terjadi di Kazakhstan, mencerminkan tantangan disiplin internal nan telah lama dihadapi aliansi. Sementara itu, Aljazair menegaskan komitmennya untuk tetap mendukung kebijakan kolektif OPEC+.

Harga minyak mentah Brent tercatat memperkuat di kisaran USD 108 per barel pada akhir pekan lalu, turun dari level tertinggi lebih dari USD126 per barel nan sempat dicapai di awal pekan. Lonjakan tersebut dipicu oleh gangguan pasokan nan disebut sebagai salah satu nan terbesar dalam sejarah, mendorong kenaikan nilai beragam produk daya seperti solar, bensin, hingga bahan bakar jet.

Kenaikan nilai daya mulai berakibat pada sisi permintaan. Sejumlah pelaku pasar memperingatkan potensi kehancuran permintaan (demand destruction), seiring meningkatnya beban biaya bagi konsumen dan industri.

Para pelaku pasar saat ini tetap memandang situasi, apakah keluarnya UEA dari OPEC bakal menjadi kasus tunggal alias justru memicu langkah serupa dari negara lain.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan