Okultasi Venus 2026: Fenomena Langit dengan Beragam Wajah dari Berbagai Wilayah

Sedang Trending 54 menit yang lalu
 Fenomena Langit dengan Beragam Wajah dari Berbagai Wilayah Proses okultasi venus nan diamati dari Cigadung, Kecamatan Cibeunying Kaler, Kota Bandung pada Senin (14/9).(Dok Istimewa)

MASYARAKAT di sejumlah wilayah Indonesia bagian barat menyaksikan kejadian langit langka berupa okultasi Venus oleh Bulan pada Senin (14/9). Dalam peristiwa tersebut, Venus perlahan menghilang di kembali piringan Bulan sabit sebelum kembali muncul beberapa saat kemudian.

Fenomena tersebut turut diamati melalui Livestream Pengamatan Okultasi Venus nan diselenggarakan Observatorium Bosscha, Institut Teknologi Bandung (ITB), pada pukul 19.00–21.00 WIB. Siaran langsung menggabungkan pengamatan Observatorium Bosscha dengan sejumlah kolaborator dari beragam wilayah di Indonesia dan luar negeri, antara lain Lampung, Bengkulu, Banten, Semarang, Lamongan, Yogyakarta. Medan, Padang, serta Bangkok.

Okultasi terjadi ketika Bulan bergerak pada orbitnya dan melintas tepat di antara Bumi dan Venus dari perspektif pandang pengamat. Akibatnya, piringan Bulan untuk sementara menghalangi sinar Venus nan terlihat dari Bumi. Perbedaan kenampakan dari beragam wilayah menjadi salah satu bagian menarik dalam pengamatan tersebut.

Observatorium Astronomi ITERA Lampung (OAIL ITERA) berada di wilayah nan mengalami okultasi. Dalam siaran langsung, Venus tampak sebagai titik sinar terang di dekat Bulan sabit sebelum secara perlahan mendekati tepi Bulan dan menghilang di kembali piringannya.

Pengamatan dari Observatorium Bosscha, Lembang, Jawa Barat (Jabar), juga memperlihatkan Venus nan semakin mendekati Bulan. Perbandingan pengamatan dari kedua letak tersebut menunjukkan bahwa posisi tampak Venus terhadap Bulan dapat berbeda andaikan diamati dari wilayah nan berbeda. Perbedaan tersebut berangkaian dengan jarak Bulan nan jauh lebih dekat ke Bumi dibandingkan Venus. Karena itu, perpindahan posisi pengamat di permukaan Bumi dapat menghasilkan perspektif pandang nan berbeda terhadap posisi relatif kedua barang langit tersebut.

“Bulan posisinya lebih dekat dengan Bumi dibanding Venus, itu nan menyebabkan posisi tampak kedua barang langit tersebut dapat berbeda ketika diamati dari letak nan berbeda,” ungkap Agus T. P. Jatmiko, salah seorang peneliti dari Observatorium Bosscha saat Livestream Pengamatan Okultasi Venus.

Menurut Agus, perbedaan tersebut terlihat jelas dari laporan sejumlah lokasi. Yogyakarta, misalnya, berada di luar jalur okultasi sehingga Bulan dan Venus hanya tampak berdekatan dalam kejadian konjungsi. Sementara itu, pengamatan dari Semarang menunjukkan kondisi nan mendekati grazing, ialah ketika lintasan tampak Venus berada sangat dekat dengan bagian tepi Bulan. Secara umum, proses okultasi berjalan bertahap. Dari wilayah nan berada pada jalur okultasi, Venus tampak semakin mendekati tepi Bulan, kemudian menghilang di kembali piringannya selama beberapa waktu. 

"Setelah itu, Venus kembali muncul dari sisi lain Bulan. Perbedaan letak menyebabkan waktu masuk, lama tertutup, dan posisi Venus saat muncul kembali dapat berbeda-beda," terangnya.

Selain letak geografis, kondisi cuaca menjadi aspek krusial dalam keberhasilan pengamatan. Di Bangkok, Robin dari WRWO Space melaporkan kondisi berawan. Bulan sempat terlihat sekitar satu menit sebelum kembali tertutup awan. Di Medan, tim OIF UMSU juga menghadapi hujan dan gerimis sehingga Bulan dan Venus belum dapat diamati dengan baik.

Kondisi serupa terjadi di Padang. Bima dari organisasi astronomi Sumatra Barat melaporkan kabut tebal di letak pengamatan nan berada pada ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, meskipun tim telah menyiapkan smart telescope untuk melakukan pengamatan.

“Yang paling krusial dalam pengamatan itu instrumennya siap, pengamatnya siap, dan nan terakhir cuacanya bagus,” ucap Agus.

Pengamatan dari Lamongan juga memperlihatkan gimana kondisi atmosfer dan instrumen dapat memengaruhi hasil pengamatan. Bulan tampak kemerahan lantaran berada rendah di dekat horizon, sedangkan Venus tidak masuk dalam bagian pandang instrumen. Berdasarkan peta jalur okultasi nan ditampilkan dalam siaran langsung, Lamongan berada di luar wilayah nan mengalami okultasi penuh.

Melalui pengamatan secara serentak dari beragam titik, Observatorium Bosscha menunjukkan bahwa hasil pengamatan kejadian astronomi tidak hanya ditentukan oleh peristiwa nan berjalan di langit. Lokasi pengamat, posisi barang langit, waktu pengamatan, kondisi atmosfer, serta instrumen nan digunakan turut menentukan apa nan dapat disaksikan dari suatu tempat.

Kolaborasi tersebut juga memungkinkan masyarakat membandingkan secara langsung gimana satu peristiwa astronomis dapat mempunyai kenampakan berbeda. Di satu wilayah, Venus dapat menghilang di kembali Bulan; di wilayah lain, keduanya hanya tampak berdekatan; sementara di tempat lain kejadian tersebut apalagi susah diamati lantaran tertutup awan, hujan, alias kabut.

Okultasi Venus pada 14 September 2026 dengan demikian tidak hanya menjadi kejadian langit nan menarik untuk disaksikan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran mengenai pengetahuan ukur barang langit dan pentingnya pengamatan dari beragam letak untuk memahami satu peristiwa astronomi secara lebih utuh.(H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia