OJK Ungkap Penyebab IHSG Bisa Turun ke Level 5.000

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Taufik Fajar , Jurnalis-Sabtu, 10 Oktober 2026 |05:15 WIB

OJK Ungkap Penyebab IHSG Bisa Turun ke Level 5.000

IHSG (Foto: Okezone)

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi terkoreksi hingga level 5.000-an sejak Februari 2026. Proyeksi tersebut muncul sebagai akibat dari agenda reformasi struktural pasar modal nan mulai digulirkan untuk memperkuat integritas dan transparansi pasar.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan, otoritas sejak awal telah memperhitungkan bahwa reformasi struktural nan dilakukan bakal menimbulkan tekanan terhadap pasar dalam jangka pendek.

Hasan mengungkapkan, level IHSG di kisaran 5.000-an apalagi telah menjadi pembahasan di internal OJK sejak Februari 2026. Perkiraan tersebut pada awalnya dihitung dengan mempertimbangkan akibat reformasi struktural pasar modal, di luar beragam aspek eksternal lainnya.

"Tentu pada saat itu tidak bisa kita bocorkan bahwa bakal turun sampai ke 5.000 an. Tapi nomor 5.000 an itu sudah menjadi pembicaraan di meja kami sejak Februari 2026," kata Hasan dalam forum BIG Market Insight 2026 di Jakarta, Kamis (8/10/2026).

Namun, tekanan terhadap pasar modal kemudian tidak hanya berasal dari proses reformasi. Sejumlah aspek eksternal turut memperberat tekanan terhadap IHSG sepanjang tahun ini. Hasan menyebut perubahan outlook dari lembaga pemeringkat internasional Moody's dan Fitch menjadi salah satu aspek nan ikut mempengaruhi sentimen pasar.

Selain itu, kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga meningkatkan tensi geopolitik global. Kondisi tersebut kemudian memberikan tekanan terhadap pengedaran barang, nilai komoditas dan energi, hingga inflasi.

Tekanan tersebut kemudian bersambung melalui kenaikan nilai daya dan komoditas, peningkatan inflasi, hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah. "Sayangnya, tidak dalam waktu lama, ada urusan Moody's, Fitch nan kemudian outlook terhadap ekonomi kita dibuat satu notch lebih rendah. Kemudian Mr. Trump dengan segala kebijakannya menghadirkan peningkatan tensi geopolitik," jelas Hasan.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com
↑