OJK Ungkap Anak Muda RI Masih Ragu Punya Asuransi

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Yogyakarta, CNBC Indonesia — Tingkat penetrasi asuransi Indonesia tetap tertinggal dibandingkan negara-negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Berdasarkan info Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat penetrasi asuransi Indonesia tercatat sebesar 2,7% pada 2025.

Meski demikian, antusiasme masyarakat untuk mempelajari asuransi terlihat dalam Educational Class Jogja Financial Festival 2026 berjudul "Muda Kaya Raya, Tua Sejahtera" di Jogja Expo Centre (JEC), Bantul, Sabtu (23/5/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala Departemen Pengawasan Asuransi dan Jasa Penunjang OJK Sumarjono, Ketua Bidang Kerjasama Antar Lembaga, Regulator, Stakeholder Dalam Negeri & Internasional AAJI Handojo G Kusuma, serta Direktur Keuangan Indonesia Financial Group (IFG) Heru Handayanto.

Menurut Sumarjono, rendahnya penetrasi asuransi di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah masyarakat nan belum menyadari beragam akibat nan dapat memengaruhi kesejahteraan hidup.

Faktor lainnya adalah pengalaman kandas bayar klaim di industri asuransi pada masa lalu.

Meski demikian, Sumarjono mengatakan arus info nan semakin terbuka membikin masyarakat, termasuk anak muda, sekarang lebih mudah mendapatkan info mengenai asuransi.

"Kalau mau sejahtera kelak di waktu tua, kita kudu mempersiapkan, merencanakannya kudu dari sekarang," ujarnya.

Sementara itu, Handojo menjelaskan asuransi mempunyai konsep gotong royong, ialah masyarakat saling membantu ketika ada peserta lain nan mengalami musibah.

"Jadi kita membantu nan lain nan sedang tertimpa musibah dengan kita mengumpulkan duit sama-sama untuk membantu orang," katanya.

Ia mengatakan tingkat literasi asuransi mengalami kenaikan dari sekitar 36% pada 2024 menjadi sekitar 45% saat ini.

"Jadi pengalaman orang tentang asuransi sudah mulai meningkat," ujarnya.

Namun, tingkat inklusi asuransi disebut tetap relatif rendah meski mengalami kenaikan dari 12% menjadi 28%.

"Kalau dibandingkan dengan 45% awareness itu inklusivitasnya tetap rendah. Orang mengerti mengenai asuransi tapi orang mau beli asuransi, ah kelak dulu," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Heru Handayanto menjelaskan pentingnya asuransi sebagai corak kesiapan menghadapi akibat seperti sakit dan kecelakaan.

"Memastikan jika akibat terjadi kita punya kesiapan. Jadi jika terjadi apa-apa, bisa terselamatkan," ujarnya.

Ia juga mengatakan dugaan bahwa asuransi selalu mahal tidak sepenuhnya benar.

"Kalau bicara IFG, kita punya produk namanya Lifesaver. Teman-teman olahraga, lari, keseleo, masuk fisioterapi, itu hanya tidak sampai Rp50.000," katanya.

Dalam sesi diskusi, sejumlah pelajar juga menyampaikan argumen generasi muda tetap enggan mempunyai asuransi. Beberapa di antaranya lantaran istilah asuransi dianggap susah dipahami dan adanya dugaan bahwa asuransi tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen investasi lain, termasuk saham.

(mkh/mkh)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News