Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tetap membahas sistem price discovery alias pembentukan nilai dalam Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS).
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga mengenai untuk mempersiapkan pembentukan bursa tersebut. Koordinasi juga dilakukan antara lain dengan Badan Industri Mineral (BIM), Danantara, Bank Indonesia, serta pelaku industri terkait.
“Salah satu nan sedang dibahas dengan beragam stakeholder adalah mengenai price discovery. Ini tentu saja menjadi pertanyaan banyak pihak dan punya angan kita mengenai price discovery ini,” jelas wanita nan berkawan disapa Kiki itu saat konvensi pers RDK Bulanan OJK Agustus 2026, dikutip pada Selasa (8/9).
Kiki menekankan price discovery bakal dirumuskan dengan mempertimbangkan praktik dan perkembangan nilai komoditas nan bertindak baik di bursa dunia maupun domestik.
Kiki berambisi sistem price discovery tersebut dapat memperkuat transparansi dan efisiensi perdagangan komoditas strategis Indonesia.
“Pembahasan ini tentunya kudu didasari dengan semangat bahwa kehadiran alias keberadaan BMKS ini diharapkan semakin memperkuat transparansi dalam pembentukan harga,” ujar Kiki.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan rencana pembentukan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis sebagai tahap lanjutan dari kebijakan ekspor satu pintu. Bursa ini ditargetkan mulai beraksi pada 1 Januari 2027.
Prabowo mengatakan pemerintah telah membahas rencana berbareng OJK. Pembentukan bursa dinilai diperlukan agar nilai komoditas strategis Indonesia tidak lagi sepenuhnya merujuk pada bursa di luar negeri.
“Ini saya mengumumkan tahap lanjutan kebijakan ekspor satu pintu kita. Kita telah membahas berbareng OJK bahwa kita mau segera mendirikan bursa mineral dan komoditas strategis,” ujar Prabowo saat pidato RAPBN 2027 di Kompleks Parlemen Jakarta, Jumat (14/8).
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·