Kemhan: Sudan Tertarik Beli Senjata Pindad

Sedang Trending 47 menit yang lalu
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin (kiri) dan Menteri Pertahanan Sudan Hassan Daoud Kabroun Kayan (kedua kiri) memeriksa pasukan saat upacara kunjungan kehormatan di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (9/9/2026). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

Menteri Pertahanan Sudan, H.E. Letnan Jenderal Hassan Daoud Kabroun Kayan, tertarik dengan produk senjata nan diproduksi PT Pindad. Ketertarikan itu disampaikan saat kunjungannya ke Kementerian Pertahanan RI, Jakarta, Rabu (9/9).

Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengatakan Menteri Pertahanan Sudan sempat memandang secara langsung sejumlah senjata ringan nan diproduksi PT Pindad.

"Tadi sewaktu hadir, Pak Menhan Sudan juga memandang secara langsung beberapa senjata ringan nan disampaikan oleh PT Pindad," kata Rico kepada wartawan di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (9/9).

Menurut Rico, pihak PT Pindad turut menjelaskan karakter sejumlah senjata nan diproduksi di Indonesia. Saat ditanya apakah Menhan Sudan tertarik dengan produk tersebut, Rico membenarkannya.

"Cukup tertarik," ujar dia.

Rico mengatakan kerja sama industri pertahanan menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan Menhan RI dengan Menhan Sudan. Namun, rencana kerja sama tersebut belum masuk pada tahap kesepakatan pembelian senjata.

Dia menyebut beragam kesempatan kerja sama pertahanan bakal dibahas lebih lanjut melalui working group dan disusun dalam kerangka Defence Cooperation Arrangement (DCA).

"Tadi sudah saya sampaikan, beberapa perihal kaitannya dengan pendidikan, pelatihan, kemudian kaitannya dengan industri pertahanan juga sudah kita tawarkan kepada Menhan Sudan," jelas Rico.

Menurut Rico, Indonesia dan Sudan saat ini belum mempunyai arsip umum kerja sama pertahanan bilateral. Karena itu, penerapan kerja sama, termasuk mengenai industri pertahanan, tetap memerlukan pembahasan dan kajian lebih lanjut.

"Sedang berproses, butuh waktu. Tentunya kelak dari working group tersebut bakal ditentukan kerja sama-kerja sama di bagian pertahanan apa saja," ujarnya.

Rico juga menegaskan bahwa kerja sama industri pertahanan dengan Sudan bakal mempunyai batas dan lingkup nan dibahas secara teknis. Hal tersebut terutama berangkaian dengan produk persenjataan nan nantinya dapat diberikan Indonesia melalui PT Pindad.

"Nanti secara teknis bakal dibahas dalam working group. Tentunya penawaran kerja sama, khususnya industri pertahanan, bakal lebih konsentrasi sampai di level mana," jelasnya.

Rico menyampaikan perihal tersebut ketika ditanya mengenai kemungkinan senjata produksi Indonesia digunakan dalam bentrok internal Sudan. Dia mengatakan aspek tersebut bakal menjadi bagian dari pembahasan teknis dalam kerja sama kedua negara.

Pertemuan berjalan di tengah perang kerabat Sudan sejak April 2023 antara Sudanese Armed Forces (SAF) dan Rapid Support Forces (RSF) nan memicu beragam krisis di Sudan.

Meski begitu, Indonesia menegaskan posisi diplomasi pertahanannya tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif serta defensive aktif, sehingga tidak berpihak pada blok mana pun maupun terlibat dalam bentrok internal Sudan.

Kemhan RI terus memantau situasi dan berambisi stabilitas serta keselamatan penduduk Sudan segera terwujud.

"Kita berambisi perdamaian dan keamanan dan stabilitas dapat segera terwujud, serta keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Sudan senantiasa menjadi perhatian utama," kata Rico.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan