, CIREBON, – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon mengambil langkah strategis untuk membantu petambak garam di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, dalam memperoleh akses pembiayaan nan lebih sesuai dengan karakter upaya mereka. Upaya ini dilakukan agar skema pinjaman dapat mengikuti siklus musim panen nan menjadi tumpuan pendapatan para petambak.
Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menggelar pembahasan berbareng pemerintah daerah, perwakilan petambak, dan industri jasa keuangan. Pertemuan tersebut bermaksud untuk merumuskan penyesuaian skema pembiayaan nan lebih relevan.
"Langkah awal untuk menyusun skema pembiayaan nan lebih sesuai dengan karakter upaya garam sudah menjadi pembahasan kami," kata Agus Muntholib saat dikonfirmasi di Cirebon, Selasa.
Agus menekankan bahwa pembiayaan nan disiapkan tidak hanya kudu mudah diakses, melainkan juga bisa meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petambak garam. Salah satu persoalan utama nan dibahas adalah pola angsuran bulanan perbankan nan dinilai belum sepenuhnya selaras dengan pendapatan petambak nan sangat berjuntai pada musim panen.
Selain itu, lembaga jasa finansial juga menemukan persoalan mengenai rekam jejak pembiayaan sebagian petambak dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). Kondisi ini antara lain berangkaian dengan keterbatasan pemahaman petambak dalam memanfaatkan produk pembiayaan secara tepat.
"Berbagai masukan dari pemerintah daerah, petambak, dan industri jasa finansial menjadi bekal krusial bagi OJK Cirebon dalam memperkuat kolaborasi," ujar Agus.
Ia menambahkan, penyaluran pembiayaan perlu didukung dengan penguatan ekosistem upaya secara menyeluruh. Tujuannya adalah untuk meningkatkan produktivitas, menciptakan nilai tambah, dan memberikan faedah nan lebih besar bagi para petambak garam.
Potensi Besar Garam Cirebon
Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Cirebon, Dangi, menyatakan komitmen pemerintah wilayah untuk memperkuat pengembangan komoditas garam melalui kerjasama lintas sektor. Berbagai masukan nan muncul bakal menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun strategi pengembangan.
"Hal ini menjadi momentum krusial untuk menyelaraskan langkah seluruh pemangku kepentingan," kata Dangi, termasuk dalam mendorong skema pembiayaan nan lebih sesuai dengan karakter upaya petambak garam di Kabupaten Cirebon.
Bapperida Kabupaten Cirebon mendata, kebutuhan garam industri di wilayah Cirebon diperkirakan mencapai 100.000 ton per tahun. Sementara itu, produksi garam lokal baru mencapai sekitar 12.282 ton per tahun. Kesenjangan ini dinilai sebagai kesempatan besar untuk pengembangan produksi, investasi, pengolahan, dan pembiayaan agar komoditas garam dapat memberikan nilai tambah nan lebih signifikan bagi perekonomian daerah.
Konten ini diolah dengan support AI.
sumber : antara
57 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·