OJK Buka-bukaan Kondisi Keuangan RI di Tengah Perang Iran dan Selat Hormuz

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan kondisi sektor jasa finansial tetap tetap terjaga. Hal ini berasas pada Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) bulan Agustus 2026 kemarin.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Frederica Widyasari Dewi, memaparkan londisi jasa finansial nan tetap terjaga tersebut didukung oleh pertumbuhan intermediasi nan dinilai tetap kuat di tengah beragam tekanan ekonomi global.

"Stabilitas sektor jasa finansial terjaga dengan pertumbuhan intermediasi nan kuat," ujarnya dalam konvensi pers RDKB Agustus secara online, Senin (7/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski begitu, OJK menilai tetap ada beragam akibat dunia nan berpotensi memengaruhi perekonomian dan sektor keuangan. Salah satunya adalah akibat geopolitik di area Timur Tengah nan tetap tinggi seiring berlarutnya bentrok di Iran dan tetap tertutupnya Selat Hormuz.

Kondisi gangguan jalur pengedaran daya tersebut menyebabkan volatilitas nilai minyak dan komoditas, sehingga tekanan inflasi dunia tetap tinggi.

Tekanan inflasi juga diperberat oleh adanya El Nino nan berkepanjangan dan berakibat pada kekeringan serta kebakaran rimba di beragam kawasan. Kemudian momentum pertumbuhan ekonomi dunia condong termoderasi. Hal ini tercermin dari kebanyakan negara nan mencatatkan perlambatan pertumbuhan pada triwulan II 2026.

Di Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi pun turun dan berada di bawah ekspektasi, disertai pasar tenaga kerja nan termoderasi dan inflasi nan tetap tinggi meski dalam tren nan menurun. Sementara di China, pertumbuhan PDB triwulan II 2026 melambat menjadi 4,3% year-on-year, dengan info terkini mengindikasikan pelemahan nan tetap bersambung baik pada sektor produksi maupun permintaan domestik.

"Di sisi domestik, pertumbuhan ekonomi triwulan II 2026 tercatat tetap kuat dengan tumbuh sebesar 5,29% year-on-year, didukung investasi dan shopping pemerintah. Konsumsi rumah tangga nan kuat juga tetap menjadi penopang utama pertumbuhan. Inflasi Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19% year-on-year, dan aktivitas manufaktur berada pada area kontraksi di level PMI 49,8," katanya.

"Di sisi kebijakan, kami terus melanjutkan dan memperkuat penerapan agenda reformasi pasar modal Indonesia. Di antaranya melalui peningkatan tata kelola bursa melalui pengaturan demutualisasi dalam rancangan POJK tentang pemegang saham bursa efek, serta penyempurnaan kerangka enforcement di sektor pasar modal," sambungnya.

(hrp/fdl)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance