Ilustrasi(magnific)
OBESITAS pada remaja menjadi salah satu masalah kesehatan nan semakin mendapat perhatian di Indonesia. Perubahan style hidup, pola makan nan tidak seimbang, serta tingginya konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, garam, dan lemak (GGL) menjadi aspek nan mendorong meningkatnya kasus kelebihan berat badan pada golongan usia muda.
Kondisi ini tidak hanya berakibat pada kesehatan saat ini, tetapi juga dapat meningkatkan risiko penyakit kronis di masa depan.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebut obesitas sebagai kondisi penumpukan lemak berlebih nan dapat mengganggu kesehatan. Pada remaja, obesitas berpotensi meningkatkan akibat glukosuria melitus jenis 2, hipertensi, penyakit jantung, hingga gangguan psikologis seperti menurunnya rasa percaya diri. Oleh lantaran itu, pencegahan sejak usia awal menjadi langkah krusial untuk mengurangi akibat jangka panjang nan dapat ditimbulkan.
Salah satu penyebab utama obesitas pada remaja adalah tingginya konsumsi gula, garam, dan lemak. Saat ini, beragam jenis makanan sigap saji, camilan tinggi kalori, serta minuman berpemanis mudah ditemukan dan menjadi bagian dari pola konsumsi sehari-hari.
Jika asupan daya nan masuk ke tubuh lebih besar dibandingkan daya nan dikeluarkan melalui aktivitas fisik, kelebihan daya tersebut bakal disimpan sebagai lemak dan berpotensi menyebabkan obesitas.
Kementerian Kesehatan merekomendasikan pemisah konsumsi gula maksimal 50 gram alias sekitar empat sendok makan per hari, garam maksimal lima gram alias setara satu sendok teh per hari, serta lemak maksimal 67 gram alias sekitar lima sendok makan minyak per hari.
Namun, beragam penelitian menunjukkan bahwa sebagian remaja tetap mengonsumsi GGL melampaui pemisah nan dianjurkan, terutama melalui minuman manis bungkusan dan makanan olahan.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi berat badan berlebih dan obesitas pada remaja usia 13-15 tahun mencapai 21,8 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa masalah obesitas tidak lagi dapat dianggap sebagai kasus individual, melainkan telah menjadi tantangan kesehatan masyarakat nan memerlukan perhatian beragam pihak, termasuk keluarga, sekolah, dan pemerintah.
Para mahir kesehatan menekankan bahwa pencegahan obesitas dapat dilakukan melalui penerapan pola makan bergizi seimbang, membatasi konsumsi makanan tinggi GGL, memperbanyak konsumsi buah dan sayur, serta rutin melakukan aktivitas fisik.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pola hidup sehat, diharapkan nomor obesitas pada remaja dapat ditekan sehingga generasi muda Indonesia dapat tumbuh lebih sehat, aktif, dan produktif.
Sumber: Kementerian Kesehatan RI, Riskesdas 2018, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Health Science Journal of Indonesia, Poltekkes Kemenkes Bengkulu.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·