Nggak Cuma Teori, Ide Inovator Muda di Youth ESG Maritime 2026 Siap Jadi Kebijakan Nyata

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Nggak Cuma Teori, Ide Inovator Muda di Youth ESG Maritime 2026 Siap Jadi Kebijakan Nyata Ilustrasi(Dok Istimewa)

RANGKAIAN aktivitas puncak final Youth ESG in Maritime Innovation Challenge resmi berhujung kemarin, Rabu, 3 Juni 2026. Sebanyak 8 peserta terbaik dari beragam wilayah dan negara diterbangkan langsung ke Jakarta untuk mengikuti rangkaian lokakarya (workshop) intensif dan tahap penjurian akhir selama tiga hari berturut-turut.

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) berbareng Blue Ocean Strategy Fellowship (BOSF) bekerja-sama menggelar Youth ESG in Maritime Innovation Challenge 2026. Langkah strategis ini dirancang untuk menjaring pemimpin muda darikalangan pelajar SMA dan mahasiswa S1 dari seluruhKawasan Asia Tenggara agar melahirkan penemuan nyata dalam melindungi ekosistem laut, khususnya di area Asia Tenggara.

Program ini dirancang secara unik untuk menjembatani kesenjangan antargenerasi dengan melibatkan kaum muda dalam kreasi berbareng nan strategis guna membangun ekonomi maritim nan siap menghadapi masa depan. Kompetisi ini menggunakan kerangka kerja Blue Ocean untukmemicu ide-ide segar nan bisa menciptakan ruang pasar baru nan tidak diperebutkan (uncontested market space).

Program kerjasama nan diinisiasi Sampoerna University dan Blue Ocean Academy ini sukses menjaring ratusan inovator muda dari beragam negara di area Asia Tenggara nan siap membawa perubahan nyata melalui pendekatan Environmental, Social, and Governance (ESG).

Wakil Menteri Luar Negeri, Arif Havas Oegroseno nan juga Distinguished Fellow dalam inisiatif Youth ESG in Maritime Innovation Challenge ini menegaskan pentingnya tindakan nyata dari generasi muda di tengah besarnya tekanan lingkungan maritim saat ini. Menurutnya, lautan bukan sekadar bentangan air, melainkan urat nadi kehidupan bagi kebanyakan masyarakat di kawasan.

Havas sampaikan buahpikiran mengenai tema laut sebagaibenang merah nan perlu diangkat dalam kerja sama dengan BOSF.  “Saya percaya bahwa Anda sangat sadar bahwa laut adalah bagian krusial dari hidup kita. 70 persen bagian daribumi dan nyaris 70 persen area Asia Tenggara adalahlaut," ujar Havas dalam sambutannya di hadapan para finalis Youth ESG in Maritime Innovation Challenge 2026, di Aula Kantin Diplomasi, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Selasa (2/6). 

Memahami Ancaman Riil Kawasan Maritim

Fakta menunjukkan adanya ketergantungan nan luar biasa tinggi antara wilayah pesisir dengan laut. "Saya berpikir hanya Laos nan tidak mempunyai laut. Negara lain seperti Myanmar, Korea, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Indonesia semuanya negara nan mempunyai laut," paparnya.

Ia menambahkan, ketergantungan ini terlihat dari pola pemukiman warga. “Jika kita bicara tentang Indonesia, saya pikir 60 persen masyrakat tinggal di wilayah pesisir dan sepanjang garis pantai," ujar Mantan Dubes RI untuk Jerman tersebut.

Implementasi Nyata Konsep ESG 

Namun, kekayaan maritim ini terus menghadapi ancaman serius, mulai dari rumor sampah plastik, kerusakan terumbu karang, hingga deforestasi mangrove. Melalui platform Youth ESG in Maritime Innovation Challenge, para peserta ditantang merumuskan solusi berbasis Environmental, Social, dan Governance (ESG).

Havas menguraikan gimana penemuan generasi muda kudu bisa menerjemahkan tiga pilar tersebut secara konkret di sektor maritim.  E (environmental) berarti melindungi lingkungan maritim dari beragam kerusakan, S (social) untuk melindungi kesejahteraan masyarakat nan hidup dan berjuntai pada kesehatan laut, dan G (governance) untuk membangun kepercayaan melalui sistem tata kelola pemerintahan nan kuat.

"Dengan melindungi lingkungan, masyarakat, dan membangun kepercayaan melalui tata kelola nan kuat, kitaakan dapat menciptakan ekosistem nan baik bagi lingkungan maritim kita,” ujar Havas.

Dalam kesempatan nan sama, Asisten Deputi Kemenko bagian Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Sora Lokita, selaku senior associate fellow BOSF menegaskan, bahwa pemerintah maupun industri tidak bakal bisa bergerak sendiri dalam menghadapi rumor maritim nan kian kompleks di Asia Tenggara. Dibutuhkan langkah baru dan keterlibatan penuh generasi muda untuk menyelamatkan masa depan laut regional.

"Hari ini bukan hanya mengenai memilih pemenang, tetapi juga mengenai merayakan ide, inovasi, dan komitmen orang muda di seluruh Asia Tenggara untuk membangun masa depan kemaritiman nan lebih berkembang," ujar Sora.

Sora menjelaskan, sektor maritim di Asia Tenggara saat ini berada di titik persimpangan krusial. Sektor ini memegang peran vital mulai dari tata kelola laut, ketahanan pangan, mata pencaharian, pariwisata, energi, hingga pertumbuhanekonomi. 

Namun, seluruh potensi besar tersebut dibayangi oleh ancaman nyata perubahan suasana dan hilangnya keanekaragaman hayati. Menghadapi tantangan berat ini, Sora menegaskan, bahwa pendekatan konvensional dan egosentris dari pihak pemerintah alias industri saja sudah tidak lagi relevan.

"Kami selalu memerlukan perspektif baru. Dan itulah kenapa kami melirik ke kalian, para generasi muda," tegasSora.

Dari nan awalnya hanya sebuah Proyek Pelajar, sangat mungkin ke depannya dapat berubah menjadi sebuah kebijakan nyata.

Kepada para finalis dan seluruh peserta nan telah berpartisipasi, Sora memberikan apresiasi tinggi atas keberanian mereka melahirkan gagasan-gagasan kreatif. Bagi peserta nan belum sukses menembus babak final, dia berpesan agar tidak patah arang lantaran penemuan sejati adalahsebuah proses nan berkelanjutan.

Pemerintah optimistis, kerjasama nan kuat antara buahpikiran anak muda, support kebijakan, dan penerapan industri bakal menjadi kunci utama keberlanjutan sektor maritim regional.

"Ide-ide nan dibagikan hari ini mungkin hanya sebuah proyek pelajar, tapi esok, kita tidak tahu, mereka mungkin menjadi kebijakan, buahpikiran bisnis, teknologi, alias pergerakan nan membantu kemajuan masa depan. Terima kasih, dan saya berambisi semuanya berjaya," kata Sora.

Melalui Youth ESG in Maritime Innovation Challenge 2026, kerjasama Kemenlu dan BOSF ini diharapkan bisa mencetak pemimpin-pemimpin muda masa depan nan tidak hanya kaya bakal ide, tetapi juga handal dan berdikari dalam mengeksekusi solusi nyata demi keberlanjutan laut dunia.

Berkomitmen pada Sinergitas Antarpihak

BOSF 2026 menegaskan komitmennya untuk memperkuat sinergi antarpihak dalam merumuskan penemuan dalam menangkap kesempatan dan menyelesaikan tantangan di Indonesia. 

Berlandaskan pada asas non-kompetisi ala Blue Ocean Strategy dalam menciptakan inovasinya, BOSF beharap dapat berkedudukan aktif dalam menciptakan ekosistem kebijakan publik nan lebih kompetitif, inovatif dan berkelanjutan. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑