Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan bakal menggelar pertemuan bilateral di sela-sela KTT APEC nan bakal diselenggarakan di China pada November mendatang. Pertemuan tatap muka dua pemimpin negara adikuasa ini berkesempatan besar terjadi di Shenzhen, meskipun saat ini belum ada agenda perundingan resmi nan disusun oleh protokol kedua belah pihak.
Mengutip laporan Russia Today pada Kamis (21/05/2026), Asisten Presiden Rusia Yury Ushakov mengonfirmasi kepada awak media mengenai potensi besar terjadinya pertemuan krusial tersebut di sela-sela kesibukan KTT. Kabar ini mengemuka setelah Presiden Putin menyelesaikan kunjungan resminya ke China dan menyatakan komitmennya kepada Presiden Xi Jinping untuk menghadiri KTT APEC di Shenzhen nan dijadwalkan berjalan pada 18 hingga 19 November mendatang, beberapa hari setelah kehadiran Trump ke Beijing.
"Presiden kami telah mengonfirmasi bahwa beliau bakal datang dalam KTT APEC tersebut," ujar Yury Ushakov.
"Saya rasa, bagaimanapun juga, jika kedua pemimpin negara berada di China, mereka kemungkinan besar bakal berhadapan dan mengadakan semacam pertemuan," tambah Ushakov.
Ushakov juga menjelaskan bahwa hingga saat ini agenda pertemuan umum memang belum disepakati secara tertulis oleh protokol kepresidenan masing-masing negara. Kendati demikian, pihak Kremlin menilai bahwa mengingat kesempatan emas tersebut sudah terbuka lebar di depan mata, sangat mini kemungkinan bagi salah satu dari kedua pemimpin bumi itu untuk menolak kesempatan berdialog.
"Sejauh ini perihal tersebut memang belum disepakati, namun mengingat prospek tersebut ada, mini kemungkinan ada pihak nan bakal menolaknya," kata Ushakov.
Potensi pertemuan bilateral di China ini digadang-gadang bakal menjadi babak baru setelah KTT Anchorage di Alaska pada Agustus 2025 silam, nan menjadi momentum perdana bagi kedua pemimpin untuk bertatap muka sejak pecahnya bentrok Ukraina. Meskipun pertemuan di Alaska tahun lampau berhujung tanpa membuahkan kesepakatan gencatan senjata, baik pihak Moskow maupun Washington sama-sama menilai hasil perbincangan kala itu melangkah sangat produktif.
Sejak kembali menduduki bangku nomor satu di Gedung Putih, Trump diketahui kerap mengambil sikap naik turun dengan mengkritik Putin atas mandeknya kemajuan damai, namun di sisi lain tetap memuji hubungan individual mereka. Kedua kepala negara tersebut juga dilaporkan telah melakukan beberapa kali komunikasi via telepon guna membahas solusi perang Ukraina serta rumor internasional krusial lainnya, termasuk perang AS-Israel melawan Iran.
Di sisi lain, Trump sempat memberikan isyarat kuat kepada awak media mengenai rencana kunjungan kerjanya ke Rusia tahun ini demi memfasilitasi penyelesaian bentrok luar negeri nan melibatkan sekutu baratnya. Merespons sinyal dari Washington tersebut, pihak Kremlin telah menyatakan bahwa Presiden Putin selalu siap untuk menyambut serta menjamu kehadiran Trump di Moskow guna membicarakan syarat perdamaian nan diajukan Rusia.
(tps/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·