Ngeri! Untuk Pertama Kali Sejak 1991, Ekspor Minyak Kuwait Nol Barel

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta -

Kuwait mencatatkan kondisi nan mencengangkan. Untuk pertama kalinya sejak Perang Teluk 1991, negara kaya minyak itu melaporkan ekspor minyak mentahnya ambruk hingga nol barel sepanjang April 2026. Situasi ini menjadi sinyal serius terganggunya pasokan daya dunia di tengah memanasnya bentrok di Timur Tengah.

Terhentinya ekspor ini bukan lantaran produksi nan berhenti, melainkan akibat lumpuhnya jalur pengedaran utama. Seperti tiga dasawarsa lalu, perang di area kembali memukul sektor daya Kuwait, memicu kekhawatiran lonjakan nilai bahan bakar bumi nan tak terkendali.

Melansir Arabic Trader, Jumat (8/5/2026), penghentian ekspor minyak dari Kuwait mencerminkan gangguan total terhadap pergerakan kapal tanker minyak melalui jalur-jalur vital, terutama Selat Hormuz, meskipun produksi minyak negara itu terus berlanjut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bersamaan dengan itu, perusahaan minyak nasional, Kuwait Petroleum Corporation, telah beberapa kali menyatakan keadaan kahar (force majeure) pada Maret dan April akibat ketidakmampuan kapal tanker melewati Selat Hormuz lantaran ketegangan perang dengan Iran.

"Meskipun produksi minyak di Kuwait tidak berhenti, ketidakmampuan untuk mengekspor minyak telah menyebabkan peningkatan konsumsi dan penyimpanan lokal, nan mengakibatkan tekanan nan semakin besar pada akomodasi penyimpanan," tulis Arabic Trader dalam laporannya.

Karena kapabilitas penyimpanan minyak saat ini mendekati penuh, Kuwait menghadapi pilihan susah untuk menutup beberapa sumur minyak. Keputusan ini berpotensi berakibat pada produksi minyak negara tersebut di masa mendatang.

Masalahnya, rencana penutupan sumur ini membikin pasar daya dunia semakin cemas terhadap akibat kekurangan pasokan minyak dari Timur Tengah. Hal ini membikin nilai minyak mentah bumi semakin terombang-ambing di tengah ketidakpastian geopolitik.

"Menurut kajian Goldman Sachs, Kuwait, Irak, dan UEA termasuk negara-negara nan paling terdampak oleh krisis minyak saat ini lantaran ketergantungan besar mereka pada Selat Hormuz untuk ekspor minyak," jelas Arabic Trader.

"Sebaliknya, Arab Saudi mungkin diuntungkan oleh kemampuannya mengangkut minyak melalui pipa Timur-Barat ke pelabuhan Laut Merah, sementara Oman mempunyai untung lantaran dapat mengekspor minyak dari luar selat, sehingga lebih elastis dalam menghadapi krisis," sambung media tersebut.

Pada akhirnya, krisis minyak di Kuwait ini menunjukkan sungguh rapuhnya rantai pasokan daya global. Masa depan pasokan minyak sangat berjuntai pada keahlian Kuwait dan negara-negara lain di area Timur Tengah untuk memulihkan kembali aliran pengedaran daya mereka.

(igo/fdl)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance