Ngadu ke Kementan Harga Telur Anjlok, Peternak Ungkap Ada Permainan Tengkulak

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta -

Kementerian Pertanian (Kementan) Harga telur di tingkat peternak ambruk hingga menyentuh level Rp 22.500/kilogram (kg). Padahal nilai referensi pembelian (HAP) di tingkat produsen/peternak mencapai Rp 26.500/kg

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan Agung Suganda mengatakan aspek utama penurunan nilai di tingkat peternak ini lantaran tingginya kesiapan (suplai) telur. Pada 2026, produksi telur nasional diproyeksikan mencapai 7,3 juta ton. Sementara kebutuhan nasional sekitar 6 juta.

"Sehingga tetap ada surplus kurang lebih secara nasional itu sekitar 800 ribu ton surplus alias kurang lebih sekitar 13% dari kebutuhan nasional," ujar Agung usai melakukan rapat dengan asosiasi dan peternak di instansi Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta Selatan, Selasa (12/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menilai surplus telur di level 13% bukan suatu masalah sebenarnya dan bisa dikendalikan. Namun, pihaknya juga menemukan adanya kejadian peran nilai di lapangan.

Menurut Agung, ada sebagian peternak nan banting nilai dengan menjual telur nilai rendah. Hal ini disebabkan lantaran telur merupakan komoditas nan terus diproduksi setiap hari sehingga stoknya terus bertambah.

"Harga ini dibentuk oleh sistem pasar. Artinya 98% peternak, petelurnya rakyat dan di situlah letak dari nilai itu terbentuk. Jadi jika ada peternak nan mau jual Rp 19.000 dan ada nan jual Rp23.000, tentu Rp 19.000 nan dipilih oleh middleman. Padahal dijualnya di nilai konsumennya relatif tidak turun juga," jelas Agung.

Adapun nilai rata-rata nasional telur di tingkat peternak Rp 24.500/kg. Harga telur di tingkat peternak nan ambruk terjadi di wilayah sentra produksi, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

Melalui konsolidasi dengan asosiasi peternak dan koperasi, dia meminta nilai telur di tingkat peternak mencapai Rp 26.500/kilogram.

"Nah oleh lantaran itu maka tadi sudah disepakati juga oleh teman-teman asosiasi teman-teman koperasi dan pelaku untuk bersama-sama menjaga agar nilai ini menuju pada nilai referensi di tingkat produsen alias on-farm sesuai dengan nilai nan ditetapkan dalam Peraturan Kepala Bapanas ialah di nomor 26.500 per kilogram," tambah Agung.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Herry Dermawan menambahkan nilai telur di tingkat peternak nan ambruk tak lepas dari permainan middleman alias tengkulak.

"Jadi nilai ini, nilai nan sekarang ini bukan nilai asli. Ada middleman. Bisa dari peternak butuh duit dijual semurahnya. Jadi memang nilai telur, juga ayam itu sangat sensitif terhadap isu," ujar ia.

Herry telah meminta support kepada pemerintah untuk menindak para middleman nan berani mempermainkan harga. Sebab, nilai telur di tingkat peternak ini tidak wajar.

"Kita juga minta support Satgas Pangan agar nggak mempermainkan harga. Ini nilai nggak wajar. Kalian tau tadi nilai berapa dibilang? Rp21.000, kalian beli telur berapa? Rp29.000-Rp30.000 per kg, siapa nan menikmati Rp8.000 itu? itu nan saya bilang, nilai sekarang ini bukan nilai asli," imbuh Herry.

Kondisi inilah nan membikin peternak merugi. Padahal biaya produksi peternak telur berkisar Rp 24.000/kilogram.

"Biaya produksi sekarang Rp24.000. (Rugi ya?) Lah he-eh (iya), makanya saya sampai ke sini kita," terangnya.

(acd/acd)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance