Netanyahu Makin Panas ke Trump, Israel Menuju Pecah Kongsi dengan AS

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia- Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada hari Selasa bahwa Israel kudu mengurangi ketergantungannya pada support asing dan membangun sistem persenjataan independen sendiri. Pernyataan diberikan di tengah perbedaan pendapat antara pemerintahannya dan pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Laporan pertama dimuat media Turki, Anadolu. Berbicara dalam pertemuan dengan perwira tempur persediaan Israel di Tepi Barat nan diduduki, Netanyahu mengatakan Israel menghargai support nan telah diterimanya dari Washington tetapi kudu memperkuat kemampuannya sendiri.

"Saya sangat menghargai support nan telah diterima Israel dari teman-teman Amerika kami, tetapi kami perlu melepaskan diri dari ketergantungan dan membangun sistem persenjataan independen kami sendiri," kata Netanyahu seperti dikutip juga oleh situs buletin Israel Ynet, Rabu (24/6/2026).

"Kita perlu melepaskan diri dari ketergantungan, membangun kekuatan nan lebih dan lebih, memperkenalkan lebih dan lebih teknologi, melatih lebih dan lebih banyak generasi komandan seperti Anda - lantaran itulah nan pada akhirnya bakal menentukan di mana kita bakal berada," tambahnya lagi menegaskan Israel kudu terus memperluas kekuatan militer dan keahlian teknologinya.

Menurut info Council on Foreign Relations, sejak didirikan pada tahun 1948, Israel telah menerima lebih dari US$300 miliar (sekitar Rp5,4 kuadriliun). Data ini disesuaikan dengan inflasi, dalam corak support ekonomi dan militer AS, nan jauh lebih banyak daripada negara lain mana pun.

Berdasarkan perjanjian nan ditandatangani pada tahun 2016 dan bertindak sejak 2019, Israel menerima support finansial untuk pembelian senjata senilai sekitar US$3,8 miliar per tahun, nan mencakup sekitar 15 persen dari anggaran pertahanan. Perjanjian tersebut bertindak hingga tahun 2028.

Sebelumnya, perselisihan makin kencang antara AS dan Israel sejak Washington sepakat dengan Iran mengenai nota kesepahaman (MOU) guna mengakhiri perang. Ini termasuk Lebanon, nan terus diserang Israel lantaran keberadaan golongan pro-Iran, Hizbullah.

Kamis lalu, Wakil Presiden AS JD Vance mengkritik tajam para menteri dalam pemerintahan Netanyahu atas penentangan mereka terhadap perjanjian AS-Iran. Ia mengatakan, jika dirinya berada di kabinet pemerintah Israel, dia pasti tidak bakal menyerang satu-satunya sekutu kuat negeri itu tersisa di seluruh dunia.

"Selama tiga bulan terakhir, dua pertiga dari senjata pertahanan nan telah melindungi tanah air Anda telah dibangun oleh tangan Amerika dan dibayar dengan duit pajak Amerika," kata Vance.

"Masalah bagi Israel bukanlah Donald J. Trump, dan siapa pun di Israel nan berpikir bahwa masalah terbesar mereka adalah Presiden Amerika Serikat perlu bangun dan menyadari realita situasi nan dihadapi negara itu," tambahnya.

Perlu diketahui, ada 14 poin dalam MOU nan dimediasi oleh Pakistan. Perjanjian tersebut mencakup ketentuan-ketentuan mengenai pengakhiran perang, termasuk di Lebanon, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan pencabutan blokade angkatan laut AS nan dikenakan pada Iran.

(sef/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News