Netanyahu Jadi Batu Sandungan Trump, Negosiasi Iran Kembali Kacau

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bak duri dalam daging dalam upaya mencapai kesepakatan tenteram antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Operasi militer Israel di Lebanon sekarang menjadi batu sandungan dalam perundingan mengenai kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz, sekaligus kembali menguji aliansi nan kerap bergolak antara Presiden AS Donald Trump dan Netanyahu.

Mengutip kajian The Guardian, kali ini Netanyahu berada di bawah tekanan luar biasa untuk membuktikan bahwa kampanyenya melawan Hamas, Hizbullah, dan Iran membuahkan hasil, ketika dia menghadapi pemilu dengan masa depan politiknya sendiri berada di ujung tanduk.

Ancaman Netanyahu pada Senin (1/6/2026) untuk membombardir pinggiran selatan Beirut guna memukul mundur Hizbullah membikin Iran menyatakan bakal memutus negosiasi dengan Amerika Serikat sampai bentrok tersebut dibekukan. Trump, nan menghadapi ancaman runtuhnya perundingan setelah sebelumnya menyatakan kesepakatan sudah dekat, merespons dengan kurang bersemangat.

"Saya pikir kita sudah terlalu banyak berbicara," katanya.

Krisis itu mencapai puncaknya dalam sebuah percakapan telepon nan menurut satu jenis berjalan panas antara Trump dan Netanyahu.

"Apa nan sebenarnya sedang Anda lakukan?" kata Trump kepada Netanyahu, menurut seorang pejabat nan berbincang kepada Axios, media AS nan kerap mendapatkan akses terhadap frustrasi internal Trump terhadap Netanyahu.

Orang lain menggambarkan ucapan Trump sebagai berikut: "Kamu bakal berada di penjara jika bukan lantaran saya."

Namun jenis tersebut diperdebatkan.

Media Israel Channel 12 melaporkan bahwa inti masalahnya adalah kesalahpahaman antara kedua pemimpin.

"Trump merasa Netanyahu menyiratkan bahwa perang bakal terus bersambung dengan intensitas penuh, sementara Netanyahu merasa Trump menyiratkan gencatan senjata total," tulis Amit Segal, analis politik utama Channel 12, mengutip seorang ajudan dekat Netanyahu.

Sanggahan juga diberikan Trump kepada ABC News. "Ada sedikit gangguan hari ini, tetapi saya membalikkannya dengan sangat cepat, seperti nan mungkin sudah Anda lihat sebelumnya."

Adapun Netanyahu telah berhadapan dengan lima presiden AS sejak pertama kali menjabat sebagai perdana menteri Israel pada 1996 dan dikenal bisa membikin nyaris semuanya frustrasi. Mantan Presiden AS Bill Clinton konon pernah berbicara "Siapa sebenarnya negara adikuasa di sini?" setelah pertemuan pertama mereka pada 1996.

Namun saat ini merupakan salah satu momen paling susah bagi Netanyahu.

Pada Senin, parlemen Israel meloloskan pembacaan pertama rancangan undang-undang pembubaran parlemen dengan bunyi 106-0, dan pemilu awal diperkirakan bakal digelar pada musim gugur.

Setelah sempat menikmati lonjakan ketenaran akibat keberhasilan serangan terhadap ketua Iran, tingkat support terhadap Netanyahu kembali merosot lantaran perang di Iran serta bentrok di Gaza dan Lebanon terus berlarut-larut.

"Dia tidak punya cerita untuk dibawa ke pemilu ini, sehingga dia kudu entah gimana meraih kemenangan di Lebanon, alias jika bukan kemenangan, setidaknya bisa menceritakan bahwa dia tetap terus berjuang," kata Ilan Goldenberg, mantan penasihat unik Timur Tengah bagi Wakil Presiden Kamala Harris dan sebelumnya kepala tim Iran di Departemen Pertahanan AS.

Goldenberg nan sekarang menjabat Kepala Kebijakan di J Street, golongan lobi dan pembelaan nan menyebut dirinya "pro-Israel, properdamaian", mengatakan Netanyahu memerlukan narasi tersebut.

"Dia memerlukan ini agar bisa mengatakan: Saya tetap bekerja untuk meraih kemenangan total," kata Goldenberg.

"Itu jauh lebih baik bagi dirinya dibandingkan mengatakan: semuanya sudah selesai dan pada dasarnya saya kandas menyingkirkan ancaman-ancaman tersebut."

Tekanan terhadap Netanyahu juga datang dari jalur hukum. Pekan ini, sidang nan telah lama tertunda atas tuduhan penipuan dan suap terhadap dirinya kembali digelar.

Netanyahu secara rutin menggunakan posisinya sebagai perdana menteri negara nan sedang menghadapi ancaman keamanan untuk menunda proses persidangan tersebut, nan membikin kebebasan pribadinya berpotensi mengenai langsung dengan apakah dia tetap memperkuat di bangku kekuasaan.

Perlu diketahui, meskipun Netanyahu sukses melobi Trump untuk bersama-sama menyerang Iran, pertimbangan politik Trump di dalam negeri sekarang tampaknya mulai lebih dominan.

Walaupun secara terbuka Trump menyatakan tidak cemas dengan pemilu paruh waktu, dia berulang kali menggunakan info ekonomi, termasuk nilai bensin, untuk menunjukkan keberhasilan pemerintahannya.

Selama akhir pekan libur Memorial Day, nilai rata-rata bensin di Amerika Serikat mencapai level tertinggi sejak pandemi Covid-19.

Kebocoran rincian percakapan Trump dan Netanyahu ke media juga dianggap sebagai sinyal bahwa pemerintahan Trump mau terlihat tegas terhadap Israel guna menghindari tuduhan bahwa perdana menteri Israel lah nan mengendalikan arah kebijakan Washington.

Setelah percakapan tersebut, Netanyahu mengonfirmasi bahwa Israel tidak bakal menyerang Beirut jika Hezbollah tidak menyerang lebih dulu. Namun sedikitnya delapan orang tetap dilaporkan tewas pada Selasa dalam serangan pesawat nirawak Israel, hanya beberapa jam setelah Trump dan Netanyahu sepakat untuk meredakan konflik.

Pertanyaan lain nan tetap menggantung adalah soal Iran.

Pemerintah Iran tetap mempertahankan kendali ketat atas sekitar 20% perdagangan minyak dunia dengan menutup Selat Hormuz, bertaruh bahwa tekanan ekonomi nan muncul bakal memengaruhi posisi AS dalam perundingan.

Namun blokade laut nan dilakukan AS juga telah melumpuhkan ekonomi Iran, menakut-nakuti keberlangsungan jangka panjang industri minyak negara itu sekaligus sumber pendanaan rezim.

Apakah operasi militer Israel nan tetap berjalan di Lebanon, nan menjadi perangkat tawar utama Netanyahu dalam negosiasi, bakal tetap menjadi garis merah bagi Iran tetap kudu dilihat. Insentif lain seperti pencairan aset Iran nan selama ini dibekukan dapat mempermanis kesepakatan bagi Teheran.

Namun Trump, nan sebelumnya mengkritik keras Barack Obama lantaran menyetujui pencairan aset kaku dalam perjanjian nuklir Iran pada masa pemerintahannya, tampaknya enggan melakukan langkah serupa.

Meski demikian, Trump tetap bersikeras bahwa kesepakatan sudah dekat. "Saya tetap kudu mendapatkan beberapa poin lagi," katanya kepada ABC News.

"Kami bakal mendapatkan apa nan kami butuhkan."

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News