Neraca Dagang RI Surplus USD89,1 Juta di April 2026

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Rohman Wibowo , Jurnalis-Selasa, 02 Juni 2026 |12:21 WIB

 Neraca Dagang RI Surplus USD89,1 Juta di April 2026

Neraca Dagang RI Surplus USD89,1 Juta di April 2026 (Foto: Pelindo)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus USD89,1 juta pada April 2026. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan Maret nan surplus USD3,32 miliar.

Neraca perdagangan surplus ini terjadi lantaran ekspor USD25,30 miliar alias lebih tinggi sedikit dari impor nan tercatat USD25,21 miliar per April 2026. Dengan demikian, Indonesia mengalami surplus neraca jual beli selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Sementara, akumulasi surplus neraca perdagangan untuk periode Januari sampai April 2026 menyentuh nomor USD5,64 miliar.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini menjelaskan, pencapaian surplus tersebut tetap dipacu oleh performa ekspor komoditas nonmigas nan menunjukkan keahlian positif secara konsisten, sementara di sisi lain perdagangan migas tetap mengalami kondisi defisit.

“Hingga bulan April 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD5,64 miliar. Surplus sepanjang periode Januari-April 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas USD14,16 miliar, sementara komoditas migas tetap mengalami defisit USD8,52 miliar,” ungkap Pudji di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Lebih lanjut, Pudji memaparkan bahwa nilai ekspor kumulatif untuk periode Januari hingga April 2026 mencapai USD92,15 miliar, nan berfaedah naik 5,48 persen dibandingkan periode nan sama di tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini utamanya digerakkan oleh sektor industri pengolahan nan mencatatkan kenaikan nilai ekspor sebesar 9,78 persen menjadi USD75,57 miliar.

BPS mengidentifikasi tiga negara nan menjadi pasar utama tujuan ekspor nonmigas Indonesia, ialah Tiongkok, Amerika Serikat, serta India. 

Gabungan kontribusi dari ketiga negara ini menyentuh nomor 44,52 persen dari keseluruhan total ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-April 2026. Tiongkok tetap berada di posisi teratas sebagai pasar utama dengan nilai USD22,76 miliar (25,93 persen), disusul Amerika Serikat dengan nilai USD10,17 miliar (11,59 persen), dan India sebesar USD6,14 miliar (7,00 persen).

Ekspor nonmigas ke Tiongkok pada caturwulan pertama tahun 2026 didominasi oleh produk besi dan baja, nikel beserta peralatan turunannya, serta komoditas bahan bakar mineral. Sementara itu, untuk pasar Amerika Serikat, pengiriman didominasi oleh produk mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya, dasar kaki, serta busana dan aksesori rajutan.

Di sisi lain, nilai impor Indonesia secara kumulatif sampai April 2026 tercatat sebesar USD86,51 miliar, alias mengalami kenaikan 13,40 persen dibandingkan periode serupa pada tahun sebelumnya. Kontributor utama impor tetap berasal dari sektor nonmigas nan mencapai USD73,58 miliar alias naik 12,70 persen, sedangkan impor migas tercatat USD12,93 miliar alias meningkat sebesar 17,58 persen.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk pembaruan buletin terbaru setiap hari

Follow

Berita Terkait

Telusuri buletin finance lainnya

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com