Jakarta, CNBC Indonesia- Negosiasi gencatan senjata untuk perdamaian perang Amerika Serikat (AS) dan Iran gagal. Baik Iran maupun AS sepertinya menemui jalan buntu.
Setelah lebih dari 20 jam perundingan di ibu kota Pakistan, Islamabad, Wakil Presiden AS JD Vance mengakui bahwa ada "perbedaan nan sangat besar antara AS dan Iran terbukti tidak dapat diatasi untuk saat ini". Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pada hari Minggu bahwa Teheran "hampir" mencapai kesepakatan dengan Washington selama pembicaraan akhir dengan AS di Islamabad tetapi tiba-tiba Washington memberi "tekanan maksimal, perubahan target, dan menakut-nakuti blokade"
Lalu apa nan bakal terjadi selanjutnya? Apakah kedua pihak bakal terus menghormati gencatan senjata selama dua minggu lantaran delegasi Iran dan AS meninggalkan Pakistan tanpa kesepakatan?
Mengutip AFP, Senin (13/4/2026), saat ini semua orang di Timur Tengah cemas dengan perang AS-Iran jilid II. Bahkan semuanya bersiap-siap terhadap situasi terburuk usai Presiden Donald Trump memanaskan situasi nan rentan ini dengan memerintahkan militer AS melakukan blokade Selat Hormuz.
"Situasi bisa berubah kapan saja," kata Aishah, seorang konsultan ekonomi berumur 32 tahun nan berbasis di Doha, Qatar.
"Ini lebih tentang menjalani setiap hari apa adanya."
Namun, kegagalan pembicaraan tersebut tidak mengejutkan. Setidaknya ini diungkapkan Laura Kaufman, seorang pembimbing sekolah berumur 38 tahun di Tel Aviv.
"Saya tidak terlalu berambisi banyak pada mereka sejak awal, lantaran kedua pihak menginginkan perihal nan betul-betul berlawanan," katanya.
"Sepertinya tidak ada nan mau bernegosiasi."
Sebelumnya, sebuah jajak pendapat baru-baru ini menemukan bahwa hanya 10% publik Israel nan percaya bahwa perang melawan Iran telah menjadi "kesuksesan nan signifikan". Sebanyak 32% menganggapnya sebagai kegagalan pemerintah.
Sementara itu di Iran, secercah angan bahwa perundingan bakal mengakhiri permusuhan antara kedua musuh bebuyutan itu dengan sigap pupus. Situasi ini apalagi membikin banyak penduduk stres.
"Saya betul-betul mau mereka berdamai," kata Mahsa, seorang tenaga kerja berumur 30 tahun di sebuah perusahaan ekspor di ibu kota Iran.
"Sudah nyaris 45 hari saya memandang semua orang stres. Ini situasi nan buruk."
Perasaan bakal perihal nan tak terhindarkan mulai meresap bagi banyak orang.
"Saya lebih memilih perdamaian, tetapi saya pikir tidak ada jalan lain selain perang dan konfrontasi," kata Hamed, 37 tahun.
"Berdasarkan apa nan saya lihat dan dengar, sayangnya kita bakal bertempur lagi dan sepertinya kita bakal mengalami perang nan panjang."
Ketidakpastian ini juga diyakini makin berkapak ke infrastuktur daya Arab. Sebelumnya, pada hari Minggu, Kementerian Energi Arab Saudi mengatakan bahwa jalur pipa minyak timur-barat utama dan akomodasi daya utama lainnya telah dipulihkan setelah serangan Iran terhadap sasaran di seluruh Teluk.
"Tentu saja saya cemas perang bakal kembali lagi," kata Amin, seorang apoteker nan tinggal di provinsi timur Arab Saudi, nan meminta untuk menggunakan nama samaran lantaran argumen keamanan.
Sementara itu, di Lebanon, gencatan senjata apalagi tidak pernah dimulai sejak awal, lantaran pihak-pihak nan bertikai memperdebatkan apakah gencatan senjata termasuk dalam kesepakatan tersebut ketika Israel meningkatkan serangannya di sana.
Dokter gigi Kamal Qutaish menyebut Lebanon sebagai "arena tempat seluruh bumi bertempur", menambahkan bahwa banyak perihal berjuntai pada gimana upaya menuju perdamaian berjalan.
"Jika (negosiasi) gagal, itu bakal memengaruhi bukan hanya kita, tetapi seluruh dunia," katanya.
"Hanya orang gila nan tidak bakal takut."
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·