Negara Ini Gelar Pemilu, Jadi Penentu Nasib Trump, Putin, dan Perang

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Warga Armenia memberikan bunyi mereka dalam pemilihan parlemen pada Minggu, (07/06/2026). Pemilihan parlemen ini dinilai bakal menguji langkah Perdana Menteri Nikol Pashinyan untuk menjauh dari pengaruh Rusia dan mendekat pada Barat.

Mengutip France24, Komisi Pemilihan Umum Pusat menyatakan bahwa tingkat partisipasi pemilih mencapai 58,97% ketika tempat pemungutan bunyi (TPS) ditutup pada pukul 16.00 GMT, dengan hasil parsial nan diperkirakan bakal keluar pada Senin pagi. Data awal dari sejumlah mini TPS menunjukkan partai Kontrak Sipil nan dipimpin oleh Pashinyan memimpin pemilihan parlemen dengan perolehan 57.14% bunyi menurut info komisi pemilihan Armenia nan disiarkan di televisi publik.

Data nan diambil dari sekitar 5% TPS di Armenia tersebut menunjukkan aliansi pro-Rusia Armenia Kuat berada di posisi kedua dengan sekitar 21% suara, sementara Aliansi Armenia nan dipimpin oleh mantan Presiden Robert Kocharyan berada di posisi ketiga dengan meraih sekitar 8% suara.

Pemungutan bunyi ini merupakan pemilihan umum pertama bagi Armenia sejak kekalahan militer nan menghancurkan dari Azerbaijan pada tahun 2023, dan dilihat sebagai ujian bagi upaya Pashinyan untuk memperdalam hubungan dengan Barat serta mengamankan kesepakatan tenteram dengan Azerbaijan setelah bertahun-tahun dilanda bentrok dan golakan politik.

Secara teknis Armenia dan Rusia adalah sekutu, tetapi Moskow telah membandingkan ambisi Uni Eropa (UE) dari Yerevan sebagai sesuatu nan sama dengan apa nan terjadi di Ukraina Pemilu ini digelar setelah bertahun-tahun pergolakan terjadi sejak Pashinyan didorong ke tampuk kekuasaan dalam revolusi jalanan pada tahun 2018, di mana negara mini di area Kaukasus ini tetap belum pulih dari pengambilalihan wilayah Karabakh oleh musuh lamanya, Azerbaijan.

Konflik tersebut berhujung pada tahun 2023 ketika tentara Azerbaijan merebut kendali atas wilayah kantong tersebut nan menyebabkan sebagian besar masyarakat Armenia melarikan diri, sehingga Pashinyan membingkai pemungutan bunyi ini sebagai pilihan antara perdamaian kekal dengan Azerbaijan alias kembali ke medan perang.

Pria berumur 51 tahun tersebut juga berupaya melonggarkan ketergantungan Armenia pada Moskow setelah Rusia dinilai kandas membantu selama bentrok Karabakh, termasuk membekukan partisipasi dalam blok keamanan nan dipimpin Rusia sembari memperdalam ikatan dengan UE serta Amerika Serikat (AS), apalagi membawa Armenia menuju jalur kemungkinan keanggotaan UE.

Meskipun Presiden AS Donald Trump memberikan support totalnya untuk pemilihan kembali Pashinyan, Moskow justru meradang atas potensi hilangnya sekutu lain di laman belakang mereka. Perdana Menteri Nikol Pashinyan memberikan komentarnya mengenai proses kerakyatan tersebut kepada para wartawan setelah memberikan suaranya di sebuah TPS di Yerevan.

"Kami bakal menerima pilihan apa pun nan dibuat oleh rakyat," ujar Pashinyan.

Pashinyan juga menegaskan bahwa Armenia bakal mengejar kebijakan luar negeri nan seimbang setelah pemilu ini dan bersikeras bahwa tidak ada masalah dalam memilih antara Rusia alias Barat. Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan sindiran tajam mengenai situasi politik nan sedang berkembang di Armenia.

"Kita semua memandang apa nan terjadi dengan Ukraina sekarang... Bagaimana itu semua dimulai? Dengan upaya Ukraina untuk berasosiasi dengan UE," kata Putin.

Pihak Kremlin sendiri telah dituduh berupaya memengaruhi hasil pemungutan bunyi melalui penyebaran disinformasi di internet, aktivitas peretas, serta narasi ramah Kremlin nan menggambarkan kerja sama dengan Barat sebagai perihal nan berbahaya. Dalam beberapa minggu sebelum pemungutan suara, Rusia apalagi melarang impor beberapa produk dari Armenia sebagai langkah untuk menumpuk tekanan ekonomi, sementara pejabat Armenia telah memperingatkan bahwa musuh-musuh kebebasan sedang mendanai upaya propaganda.

Serbuan Ceroboh

Pashinyan bersikeras bahwa dirinya tidak menginginkan perpecahan dengan Moskow, namun kampanye pemilu kali ini telah menjadi pertempuran sengit atas masa depan geopolitik Armenia di mana Pashinyan dan musuh politik utamanya saling menuduh satu sama lain dapat memicu bentrok baru. Pashinyan mengatakan kepada para pemilih bahwa Armenia bisa menghadapi perang nan membawa musibah dengan Azerbaijan dalam beberapa bulan jika partai Kontrak Sipil miliknya kandas mengamankan kebanyakan nan kuat di parlemen.

Tuduhan tersebut langsung dibantah oleh musuh politiknya nan menganggap retorika itu sebagai upaya menakut-nakuti masyarakat. Partai oposisi Armenia nan dipimpin mantan presiden Robert Kocharyan memberikan pernyataan resmi nan menuduh kembali pihak pemerintah.

"Pihak berkuasa melakukan penindasan skala besar, terutama terhadap staf kampanye, dan menggunakan sumber daya administratif," sebut pihak partai Armenia.

Aliansi oposisi Armenia Kuat nan dipimpin oleh pengusaha miliarder Rusia-Armenia Samvel Karapetyan juga ikut mengecam jalannya proses pemilihan umum ini. Pihak aliansi menyatakan telah terjadi banyak pelanggaran pemilu dan tindakan represi, sementara jaksa penuntut mengatakan 165 kasus pidana telah dibuka mengenai dugaan penghalangan proses pemilu.

Karapetyan sendiri menolak klaim bahwa dirinya bakal menyeret Armenia kembali ke orbit Rusia, namun dia memberikan peringatan keras terhadap langkah politik luar negeri nan diambil oleh perdana menteri petahana saat ini. Karapetyan, nan berada di bawah tahanan rumah sejak tahun lampau atas tuduhan komplotan kudeta nan ditolaknya sebagai motif politik, memperingatkan agar Armenia tidak melakukan serbuan asal-asalan ke pihak Barat.

Di bagian lain, Eropa Barat tidak merahasiakan siapa nan mereka inginkan untuk memenangkan pemilu ini, di mana dalam kunjungan profil tinggi, Presiden Prancis Emmanuel Macron melemparkan dukungannya kepada Pashinyan dan merangkul pemimpin Armenia tersebut sebagai kawan dekat.

Memilih Untuk Perdamaian

Hingga saat ini tetap belum jelas apakah partai milik Pashinyan dapat mengamankan dua pertiga kebanyakan parlemen nan diperlukan untuk meloloskan amendemen konstitusi, nan dituntut oleh Azerbaijan sebagai syarat untuk perjanjian tenteram akhir. Rekam jejak kerakyatan Pashinyan juga dipertaruhkan dalam pemilu ini, di mana delapan tahun setelah dia berkuasa dengan janji membongkar sistem oligarki Armenia, dia sekarang menghadapi tuduhan kemunduran demokrasi.

Meski demikian, bagi banyak penduduk Armenia, pihak oposisi tetap dikaitkan dengan pengaruh Rusia dan kaum oligarki. Seorang pengrajin berumur 63 tahun berjulukan Hakob Hakobyan memberikan alasannya memilih Pashinyan kepada AFP di letak pemungutan suara.

"Saya memilih untuk perdamaian. Hanya Pashinyan nan bisa membawa perdamaian," ucap Hakobyan.

Pernyataan berbeda dikeluarkan oleh pemilih lain, Khachatur Movsisyan, seorang insinyur mesin berumur 59 tahun nan memilih untuk meletakkan suaranya pada kubu nan berbeda.

"Saya mendukung partai oposisi lantaran negara ini, dan kita semua, memerlukan perubahan-dalam kebijakan luar negeri, kebijakan dalam negeri, dan dalam negosiasi dengan Azerbaijan," tutur Movsisyan.

(tps/tps)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News