Di penghujung malam konser "Avec le Temps" di Eboni Bar & Lounge, Hotel Tentrem Yogyakarta, Rabu (22/4), sesuatu nan tak terduga terjadi. Dorsaf Hamdani, penyanyi asal Tunisia nan tengah tampil di panggung, tiba-tiba melantunkan lagu “Ibu Kita Kartini”. Tak sendiri, dia membujuk General Manager Hotel Tentrem, Christoporus Yulianto, untuk bersama-sama menyanyikan lagu itu pada momen Hari Kartini.
Momen itu mungkin paling tepat merangkum apa nan sedang berjalan malam itu: bukan sekadar pagelaran musik, melainkan sebuah pertemuan antarbudaya nan melampaui pemisah bahasa dan geografi.
Konser "Avec le Temps" menghadirkan dua musisi asal Tunisia, Dorsaf Hamdani dan Zied Zouari, sebagai bagian dari Pekan Frankofoni 2026, atas undangan Kedutaan Besar Prancis nan bekerja sama dengan Kedutaan Besar Tunisia. Acara ini sekaligus menjadi rangkaian program Institut Français Indonesia (IFI).
Kedua musisi itu bukanlah nama baru di panggung internasional. Dorsaf Hamdani pernah tampil di Cairo Opera House dan Festival Avignon, ementara Zied Zouari dikenal lewat penampilannya di Théâtre des Champs-Élysées dan Institut du Monde Arabe Paris. Keduanya merupakan alumni Sorbonne University.
Direktur IFI Yogyakarta, Margaux Nemmouchi, menjelaskan bahwa kehadiran musisi Tunisia bukan tanpa alasan. Di Tunisia, bahasa Prancis hidup berdampingan dengan bahasa Tunisia nan digunakan dalam keseharian.
"Kita berkesempatan untuk belajar bahasa nan baru dengan bahasa Prancis. Kita bisa mengenal kebudayaan-kebudayaan nan baru, dan melalui kebudayaan-kebudayaan tersebut, kita mau menyampaikan kesan perdamaian, bahwa kebudayaan itu bisa dipelajari juga melalui bahasa," ujar Margaux usai konser.
Hotel Tentrem Yogyakarta dalam kesempatan ini tidak hanya berkedudukan sebagai letak acara, tetapi juga mitra dalam menghadirkan ruang pertemuan budaya. Christoporus menyebut, kerjasama dengan IFI merupakan bagian dari komitmen untuk membuka akses masyarakat terhadap keragaman budaya dunia.
"Kami sangat mendukung konser ini lantaran kami mau budaya-budaya nan ada di seluruh bumi bisa dikenal dengan lebih baik oleh semuanya," ujarnya.
Sementara itu, dari atas panggung, Zied menegaskan bahwa konser nan dibawakannya berbareng Dorsaf bukanlah penampilan biasa.
"’Avec le Temps’ ini merupakan proyek nan spesial bagi kami. Musik nan kami mainkan berasal dari musik Prancis, kemudian digubah. Dorsaf sendiri selain penyanyi, dia juga adalah pembuat puisi," ujarnya saat konvensi pers sebelum pertunjukan.
Pertunjukan berjalan dalam suasana intim. Di atas panggung, dua bahasa—Prancis dan Arab—hadir berdampingan dalam interpretasi ulang lagu-lagu klasik nan terinspirasi dari karya ikonik Léo Ferré, “Avec le Temps”.
Dorsaf sendiri mempunyai pendekatan tersendiri dalam mempersiapkan penampilan. Setiap mengunjungi kota baru, dia menyerap suasana sekitar seperti lanskap, hubungan manusia, hingga daya nan dirasakannya. Yogyakarta, menurutnya, menghadirkan daya nan kemudian dia bawa ke atas panggung. Ia juga menemukan kedekatan nan tak terduga antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab.
"Ketika saya berbincang dalam bahasa Indonesia, ada satu-dua kata nan sepertinya mirip dengan bahasa Arab, alias mungkin sebaliknya," tuturnya. Pengamatan mini ini memperlihatkan bahwa jarak antarbudaya terkadang tidak selalu sejauh nan dibayangkan.
Zied juga mengaku merasakan kesan mendalam selama berada di Indonesia. "Setelah dari Indonesia, kami tetap mempunyai daya nan banyak nan sudah kami serap dari Indonesia agar bisa menciptakan musik nan baru," akunya.
Sebelum singgah di Yogyakarta, kedua musisi itu telah tampil di Jakarta, dan keesokan harinya dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Surabaya.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·