Musim Tanam Gadu, Petani Diminta tidak Gunakan Jebakan Listrik

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Musim Tanam Gadu, Petani Diminta tidak Gunakan Jebakan Listrik Petani di Kabupaten Cirebon tengah melakukan panen.(MI/Nurul Hidayah)

PETANI di Kabupaten Indramayu diminta tidak menggunakan jebakan listrik untuk melenyapkan organisme pengganggu tanaman (OPT) khususnya tikus. 

Hal tersebut diungkapkan Kapolsek Jatibarang, Kompol Darli, usai melakukan pertemuan dengan petani di wilayahnya nan bakal melakukan musim tanam kedua alias musim tanam gadu (kemarau) 2026.

“Petani diminta untuk tetap mematuhi pengarahan dari Dinas Pertanian. Kami juga meminta kepada petani untuk tidak lagi menggunakan jebakan listrik untuk melenyapkan (benih)penyakit pengganggu tikus,” tutur Darli, Kamis (11/6). 

Dijelaskan Darli penggunaan jebakan listrik untuk melenyapkan tikus selain illegal juga membahayakan nyawa petani dan masyarakat lainnya.

“Penggunaan jebakan listrik bisa menyebabkan korban jiwa. Kami berambisi petani memilih metode lain untuk pengendalian hama, metode nan kondusif dan ramah lingkungan,” minta Darli. 
  
Sedangkan Bhabinkamtibmas Desa Bulak, Aipda Hartanto, menjelaskan berbareng dengan petani mereka telah melakukan pemantauan dan mitigasi awal serangan (benih)penyakit tikus di wilayah mereka.

“Berdasarkan hasil pemantauan  Tim Pengamat Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) menunjukkan tingginya tingkat serangan (benih)penyakit tikus di wilayah kami,” tutur Hartanto.

Dari mitigasi ditemukan sekitar 55 lubang sarang aktif tikus dalam setiap 100 meter saluran irigasi. 

Hartanto pun mengimbau kepada petani untuk melakukan pengendalian (benih)penyakit tikus dengan metode gropyokan secara bersama-sama. “Bukan dengan menggunakan langkah illegal dan rawan seperti memasang jebakan listrik,” tutur Hartanto. 

Selanjutnya untuk mendukung kelancaran musim gadu 2026 disepakati oleh bahwa pembajakan sawah dimulai pada 11 Juni 2026, penyebaran bibit support pemerintah pada 20 Juni 2026, serta penyelenggaraan tanam serentak nan dijadwalkan mulai 15 Juli 2026. Untuk alokasi pupuk subsidi ditetapkan sebesar 2,7 kuintal per hektare bagi petani nan tercatat dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Para peserta juga sepakat meningkatkan koordinasi dengan UPTD Pertanian dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Jatibarang mengenai kesiapan perangkat mesin pertanian dan bahan bakar solar subsidi.

“Untuk mendukung pengelolaan irigasi, golongan Mitra Cai bakal diaktifkan kembali guna memastikan pengedaran air melangkah optimal selama musim tanam berlangsung,” tutur Hartanto.

Penggunaan jebakan listrik untuk melawan serangan OPT tikus telah cukup lama dilakukan petani di Kabupaten Indramayu.

“Petani beranggapan melenyapkan (benih)penyakit tikus di sawah dianggap lebih efektif,” tutur Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang.

Saat serangan tikus  masif, penggunaan jebakan listrik memang menjadi pilihan utama petani untuk menghindari akibat kandas tanam.

“Tidak sedikit petani nan kudu semai ulang alias tanam ulang lantaran diserang tikus,” tutur Sutatang. 

Namun Sutatang pun mengakui bahwa penggunaan jebakan listrik cukup rawan dan bisa menimbulkan korban jiwa. Berdasarkan data, pada Oktober 2025 dua petani asal Desa Baleraja, Kecamatan Gantar, masing-masing Tatang dan Suwandi tersengat listrik di areal persawahan. Bahkan tidak  hanya manusia pada November 2025, seekor kerbau milik penduduk di Desa Mekarjaya meninggal tersengat listrik. 

Petani, lanjut Sutatang, sebenarnya mempunyai pilihan lain ialah penggunaan pagar plastik fiber alias plastic pinian.

“Namun penggunaan metode untuk melenyapkan (benih)penyakit tikus itu dianggap kurang efektif dan menyantap biaya tinggi,” tutur Sutatang.

Untuk sawah seluas 100 bata, pembelian fiber ini bisa mencapai Rp 500 ribu. Namun tikus terkadang tetap bisa menerobos masuk dan menghancurkan tanaman alias bibit padi. 

Pilihan lainnya ialah dengan pengendalian hayati dengan pelepasan predator alami tikus, seperti ular dan burung hantu. Namun upaya itu pun belum bisa menekan populasi tikus nan meledak. Untuk itu KTNA berambisi pihak mengenai dan pemerintah wilayah bisa duduk berbareng mecari solusi nan paling efektif untuk  membasmi tikus dengan langkah nan aman, efektif dan tidak membahayakan nyawa manusia. (UL/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia