Musibah Memilukan Longsor Tewaskan 116 Anak Saat Sekolah

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta -

Bencana Aberfan menjadi salah satu peristiwa paling memilukan di Britania Raya. Bencana longsoran limbah batu bara ini menghilangkan 144 nyawa, dengan 116 di antaranya merupakan anak-anak.

Dikutip dari National Archives, musibah ini terjadi pada 21 Oktober 1966 di desa pertambangan Aberfan, Wales. Saat itu, di lereng bukit di atas Aberfan terdapat beberapa gunungan limbah batu bara milik National Coal Board (NCB)-perusahaan batu bara milik pemerintah Inggris. Salah satunya adalah Tip 7, nan dibangun sejak 1958 di atas area nan mempunyai mata air alami.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama beberapa minggu sebelum bencana, hujan deras membikin air meresap ke dalam timbunan limbah batu bara tersebut. Akibatnya, material batu bara, tanah, dan air berubah menjadi lumpur pekat sehingga strukturnya menjadi tidak stabil.

Sekitar pukul 09.13 waktu setempat pada 21 Oktober 1966, gunungan limbah itu tiba-tiba longsor. Diperkirakan 140.000 meter kubik material meluncur menuruni lereng dengan kecepatan tinggi dan menghantam desa di bawahnya.

Longsoran limbah batu bara (coal tip) tersebut menerjang sebuah rumah pertanian, 20 rumah penduduk, serta dua sekolah di Aberfan. Saat kejadian, anak-anak tengah belajar di dalam kelas.

Setidaknya 144 orang meninggal dunia, dan 116 di antaranya adalah anak-anak. Tragedi ini pun menyisakan duka nan banget mendalam.

Laporan investigasi menunjukkan adanya kegagalan sistemik dan inefisiensi dalam pengelolaan penampungan limbah ini. Peringatan ancaman sebenarnya telah dikeluarkan pada pukul 07.00 pagi di hari kejadian, tetapi tidak ditindaklanjuti oleh pihak terkait.

Pascabencana, muncul seruan mendesak untuk melakukan pertimbangan besar-besaran terhadap seluruh timbunan batu bara, struktur bangunan, terowongan, hingga jembatan di seluruh Britania Raya.

Seluruh bumi turut bersungkawa atas tragedi nan menjadi salah satu momen paling kelam dalam sejarah Britania Raya tersebut. Peristiwa ini juga memicu dorongan agar pemerintah segera mengevakuasi area-area nan dianggap tidak aman.

(rdp/imk)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News