Museum Passport, kitab koleksi nan memungkinkan visitor mengumpulkan stempel dari museum-museum di bawah naungan Museum dan Cagar Budaya (MCB), resmi diluncurkan. Di Yogyakarta, Museum Passport saat ini dapat dibeli di Museum Benteng Vredeburg dan Museum Perjuangan Yogyakarta.
Staf Komunikasi dan Kemitraan Museum dan Cagar Budaya (MCB), Ita Ratnasari, mengatakan antusiasme masyarakat cukup tinggi sejak peluncuran pada Selasa (16/6). Hingga hari kedua penjualan, lebih dari 50 unit Museum Passport telah terjual di Museum Benteng Vredeburg.
“Sampai dengan pagi ini, ini hari kedua penjualan di Benteng Vredeburg sudah terjual lebih dari 50 paspor,” kata Ita kepada Pandangan Jogja di Museum Benteng Vredeburg, Rabu (17/6).
Pengunjung dapat membeli Museum Passport langsung di kedua museum tersebut sekaligus memperoleh stempel museum pertama mereka. Selama masa promosi hingga akhir Juni 2026, Museum Passport dijual dengan potongan nilai 10 persen, dari nilai normal Rp89 ribu menjadi Rp81 ribu.
“Jadi untuk promo-nya sampai akhir Juni tahun 2026 ini ada potongan nilai 10 persen. Nanti berikutnya bakal nilai normal,” ucap Ita.
Selain berfaedah sebagai kitab koleksi stempel, Museum Passport juga dilengkapi voucher cuma-cuma masuk ke 10 museum nan dikelola MCB di beragam daerah. Museum nan dapat dikunjungi antara lain Museum Kebangkitan Nasional, Galeri Nasional Indonesia, dan Museum Nasional Indonesia.
“Ada 10 tiket cuma-cuma untuk 10 museum nan bisa dipakai masyarakat untuk melakukan kunjungan berikutnya, vouchernya ada di Museum Passport,” katanya.
Menurut Ita, Museum Passport diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk mengunjungi lebih banyak museum di Indonesia. Ke depan, museum di luar pengelolaan MCB juga dapat berperan-serta dengan menyediakan stempel bagi pemilik Museum Passport.
“Peluncuran museum paspor ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan museum sebagai ruang nan dekat dengan kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda. Museum paspor diharapkan dapat mendorong budaya berjamu ke museum menjadi bagian dari style hidup,” katanya.
Pengunjung Mengaku Sudah Menunggu Kehadiran Museum Passport
Salah satu visitor Museum Benteng Vredeburg, Uki (57), mengaku telah menantikan Museum Passport apalagi sebelum diluncurkan secara resmi.
“Sebelum ada peluncuran ini sudah tertarik banget. Kebetulan mengoleksi cap-cap lain di kitab saya, termasuk cap coffee shop. Setelah dapat ini, minggu depan ke Bali,” kata Uki kepada Pandangan Jogja.
Sementara itu, Wiwi, visitor asal Bali nan sedang berpiknik di Yogyakarta, menilai Museum Passport dapat menjadi sarana untuk mendorong anak-anaknya lebih sering mengunjungi museum.
“Udah sering dengar tapi waktu ke sini anak-anak lihat langsung, tertarik. Ini mungkin bisa mentrigger anak-anak untuk bisa sering ke museum di Indonesia lantaran mereka suka diajak ke museum,” ujar Wiwi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·