Liputan6.com, Jakarta - Kasus keracunan nan muncul dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono apalagi mengaku geram lantaran sebagian besar kasus nan terjadi diduga bukan semata persoalan makanan, melainkan akibat pelanggaran prosedur nan sudah ditetapkan.
Sudaryono menyebut sekitar 80-90 persen kasus keracunan MBG nan telah ditelusuri BGN berangkaian dengan ketidakpatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP). Pelanggaran itu mencakup waktu konsumsi, penyimpanan, penerimaan bahan makanan, hingga pengaturan suhu.
“Dari kasus keracunan nan ada itu jika kita breakdown, itu 80-90 persen tuh lantaran tidak alim SOP,” kata Sudaryono saat rapat dengar pendapat (RDP) berbareng Komisi IX DPR RI, Kamis (3/9/2026).
Salah satu kasus nan menjadi perhatian BGN terjadi di Sidoarjo, Jawa Timur. Ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan MBG nan disalurkan dari SPPG Kalitengah.
Dalam penelusuran sementara, BGN menemukan persoalan serius pada pencatatan waktu produksi dan pengedaran makanan. Makanan nan sebenarnya matang sekitar pukul 05.00 WIB semestinya sudah dikonsumsi sebelum pukul 09.00 WIB.
Namun, waktu produksi dalam label dilaporkan pukul 08.00 WIB sehingga pemisah konsumsi tertulis hingga pukul 10.00 WIB.
“Penelusuran sementara itu makanan matang jam 5 kemudian kudu dikonsumsi sebelum jam 9. Namun, di-labeling itu ditulis dilaporkan jam 8 dan dimakan maksimal jam 10,” tutur Sudaryono.
Persoalan tidak berakhir pada pencatatan. Makanan tersebut baru dikirim ke sekolah alias pesantren sekitar pukul 11.30-11.40 WIB dan baru disantap setelah pukul 12.00 WIB. Artinya, makanan dikonsumsi jauh setelah pemisah waktu nan tercantum dalam label.
“Yang menjadi kenyataannya di lapangan itu ompreng nan harusnya dimakan sebelum jam 10 dikirim ke sekolah di atas jam 11.00 jika enggak salah 11.30 apa 11.40, baru dimakan di atas jam 12 oleh para siswa itu sehingga keracunan massal terjadi di sekolah,” paparnya.
BGN juga menemukan persoalan lain. Label nan memuat info waktu makanan dibuat dan pemisah maksimal konsumsi rupanya tidak ditempel pada seluruh wadah makanan. Label hanya ditempel pada bagian atas tumpukan ompreng.
“Labelnya itu tidak semua ompreng, hanya satu ompreng difoto kemudian dimasukkan ke dalam POP kemudian di-capture oleh radar MBG. Jadi jam 8 itu di-labeling untuk dimakan maksimal jam 10 pagi,” imbuhnya.
Bagi Sudaryono, praktik tersebut bukan lagi sekadar kesalahan teknis. Ia menyebut terdapat dugaan kelalaian nan disengaja lantaran petunjuk penyelenggaraan dan petunjuk teknis telah diberikan kepada pengelola SPPG.
“Jadi Anda ini berfaedah adalah kelalaian nan disengaja, patokan sudah diberikan juklak juknis sudah diberikan, langkah sudah diberikan tapi Anda lalai dalam melaksanakan,” kata Sudaryono, dikutip dari unggahan akun IG pribadinya @sudaru_sudaryono, Kamis (3/9/2026).
Karena itu, BGN mengambil tindakan terhadap SPPG Kalitengah. Kepala SPPG diusulkan dicopot dan SPPG tersebut dikenai suspensi berat selama 30 hari.
Sudaryono apalagi menegaskan BGN tidak bakal memberikan support andaikan dalam kasus tersebut ditemukan unsur pidana.
“Ini namanya kelalaian nan disengaja bukan hanya dicopot bukan hanya dipecat, jika diidentifikasi ada kelalaian ada unsur pidana minta maaf kami ga bisa bantu,” tuturnya.
Kasus di Sidoarjo bukan satu-satunya kejadian nan membikin BGN kudu kembali mengevaluasi penyelenggaraan program MBG.
Di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, sebanyak 777 orang nan terdiri dari 752 siswa dan 25 pembimbing serta tenaga kependidikan SMK Negeri 1 Lasem mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu MBG.
Pemerintah Kabupaten Rembang kemudian menghentikan sementara operasional dapur SPPG Soditan Lasem untuk dilakukan evaluasi.
"Operasionalnya mulai besok diberhentikan sementara untuk dikaji ulang dan gimana penanganannya selanjutnya," ujar Sekretaris Daerah Kabupaten Rembang Fahrudin, Kamis (3/9).
Keluhan nan dialami para siswa dan pembimbing antara lain diare, mual, dan muntah. Dinas Kesehatan Rembang tetap menyelidiki penyebab pastinya dengan mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium.
Menu nan dibagikan pada Rabu (2/9/2026) terdiri dari nasi, ayam bakar, lalapan, dan semangka. Dari pemeriksaan awal, terdapat temuan pada ayam nan disebut sudah mengalami perubahan tekstur.
"Ada di antara beberapa itu nan ayam nan sudah agak teksturnya kurang baik," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang Ali Syofii.
Meski demikian, temuan tersebut tetap berupa hipotesis. Sampel makanan bakal diperiksa untuk mengetahui kemungkinan kontaminasi secara kimia maupun bakteriologis.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·