Ilustrasi(Dok Istimewa)
SENI mural tidak hanya dapat menjadi komponen hiasan di ruang publik. Melalui pemanfaatan teknologi, mural dapat dikembangkan menjadi media edukasi budaya nan interaktif sekaligus membuka kesempatan ekonomi bagi organisasi seni.
Gagasan tersebut diwujudkan melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026 nan didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Program ini dilaksanakan tim Universitas Budi Luhur ( UBL) nan diketuai Ricky Widyananda Putra, berbareng Devit Setiono, Dhika Purnama Putra, dan Triana Anggraini, serta melibatkan mahasiswa dari beragam bagian keilmuan.
Mengusung tema “Inovasi Mural Interaktif Berbasis Augmented Reality sebagai Media Edukasi Budaya dan Pemberdayaan Komunitas Seni Urban Nusantara”, aktivitas tersebut dilaksanakan berbareng organisasi seni mural Pelaku Seni Total di wilayah Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Dalam keterangannya hari ini, Ketua kegiatan, Ricky Widyananda Putra, mengatakan program tersebut berangkat dari kondisi sejumlah ruang publik nan tetap belum dimanfaatkan secara optimal dan kerap dipenuhi coretan nan tidak mempunyai nilai edukasi maupun estetika.
“Program ini berangkat dari kondisi sejumlah ruang publik nan tetap kurang dimanfaatkan dan kerap dipenuhi coretan nan tidak mempunyai nilai edukasi maupun estetika. Di sisi lain, mural mempunyai potensi untuk menjadi media komunikasi visual, ekspresi budaya, sekaligus sarana untuk membujuk masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan sekitarnya,” ujar Ricky.
Salah satu penemuan utama dalam program ini adalah menggabungkan karya mural dengan teknologi Augmented Reality (AR). Melalui teknologi tersebut, karya mural nan sebelumnya hanya dapat dinikmati secara langsung di tembok dapat dikembangkan menjadi pengalaman visual nan lebih interaktif melalui perangkat digital.
Program ini juga memberikan training kepada organisasi mengenai pembuatan mural berbasis AR dan teknik narasi visual. Pelatihan dilakukan melalui diskusi, praktik, serta pengembangan media interaktif sederhana. Tujuannya agar pesan dan info nan disampaikan melalui mural dapat lebih mudah dipahami oleh masyarakat.
Selain teknologi AR, peserta mendapatkan training mengenai manajemen produksi, business plan, kreasi produk, dan katalog digital. Dengan demikian, aktivitas tidak hanya berfokus pada keahlian membikin mural, juga mendorong organisasi mengembangkan karya menjadi produk nan mempunyai nilai ekonomi.
Buka Peluang Ekonomi
Program ini juga mendorong organisasi mengembangkan karya mural menjadi beragam produk turunan. Beberapa produk nan dirancang antara lain jaket lukis, sepatu lukis, dan helm lukis.
Pengembangan produk tersebut diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi komunitas. Selama ini, aktivitas organisasi tetap lebih banyak berfokus pada pengerjaan mural berasas undangan dan belum banyak mengembangkan karya menjadi produk imajinatif lainnya.
Untuk mendukung pemasaran, organisasi juga diarahkan memanfaatkan katalog digital dan media sosial. Dengan strategi tersebut, karya dan produk nan dihasilkan diharapkan tidak hanya dikenal di lingkungan sekitar, tetapi juga mempunyai kesempatan menjangkau masyarakat nan lebih luas.
Kegiatan ini melibatkan pengajar dan mahasiswa Universitas Budi Luhur dari beberapa bagian keilmuan, antara lain Desain Komunikasi Visual, Teknologi Informasi, dan Ekonomi. Kolaborasi lintas disiplin tersebut memungkinkan program menggabungkan keahlian seni, teknologi, desain, dan pengelolaan usaha.
Mahasiswa turut terlibat langsung dalam persiapan kegiatan, pengembangan visual mural interaktif, pengembangan sistem berbasis AR, serta penyelenggaraan training kreasi dan produk. Keterlibatan tersebut memberikan pengalaman praktik kepada mahasiswa dalam mengembangkan karya dan penemuan berbareng masyarakat.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi menjadi bagian krusial untuk memastikan penemuan nan dikembangkan tidak hanya mempunyai nilai artistik dan teknologi, juga dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Ekosistem Kreatif
Program ini tidak berakhir pada tahap pelatihan. Setelah proses pelatihan, organisasi diarahkan untuk menerapkan teknologi AR pada karya mural, membikin produk turunan, memanfaatkan katalog digital, serta mengadakan pameran mural interaktif dan produk kreatif.
Selanjutnya, dilakukan pendampingan dan pertimbangan untuk memastikan keahlian nan diperoleh dapat diterapkan secara nyata dan berkelanjutan.
Keberlanjutan program juga dirancang melalui pembentukan unit imajinatif organisasi nan menangani produksi mural dan pemasaran produk kreatif. Sebagian hasil penjualan produk turunan nantinya dapat digunakan kembali untuk mendukung kebutuhan operasional komunitas, perawatan mural, pembelian bahan, serta pengembangan karya baru.
Melalui program ini, mural diharapkan tidak lagi dipandang sekadar sebagai gambar di dinding. Mural dapat menjadi media penyampaian pesan budaya, sarana edukasi, komponen nan memperindah ruang publik, sekaligus pintu masuk bagi pengembangan ekonomi imajinatif organisasi seni.
Program tersebut menjadi salah satu corak kerjasama antara perguruan tinggi dan organisasi dalam menggabungkan seni, teknologi, edukasi, dan ekonomi imajinatif untuk menghasilkan karya nan inovatif dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.
PISN 2026 ini sejalan dengan visi Universitas Budi Luhur dalam mendorong produktivitas berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat, dan kesadaran lingkungan berbasis seni dan desain.
Pelaksanaan aktivitas didukung oleh Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program Inovasi Seni Nusantara 2026, serta Direktorat Riset, Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) Universitas Budi Luhur. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·