Muktamar ke-35 NU Memanas, Muncul Dugaan Kekerasan

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Tensi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, dilaporkan memanas menyusul adanya dugaan tindak kekerasan terhadap salah seorang pengurus cabang.

Peristiwa ini diungkap oleh Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar, KH Abdussalam Sohib alias Gus Salam, di tengah rangkaian aktivitas nan berjalan sejak 27 hingga 31 Agustus 2026.

Gus Salam menyatakan, korban telah menyampaikan kejadian tersebut secara langsung kepadanya pada Jumat (28/8/2026) malam. Dia menyebut dugaan kekerasan ini diduga dipicu perbedaan sikap korban nan tidak mengikuti pengarahan dari pengurus wilayah setempat.

"Ada salah satu kawan kami dari wilayah nan mengalami kekerasan oleh PW (pengurus wilayah) nya. Daerah mana dan namanya dirahasiakan. Sudah dilaporkan kepada Polres Jombang," ujar Gus Salam, Sabtu (29/8/2026). Pernyataan tersebut disampaikan Gus Salam saat berjumpa dengan sejumlah pengurus PCNU dan PWNU nan mendukung pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU.

Cerita Dugaan Pemukulan

Gus Salam menjelaskan korban mengalami pemukulan. Meski demikian, dia belum memaparkan secara rinci mengenai letak spesifik maupun rangkaian peristiwa nan melatarbelakangi kejadian tersebut. Sejauh ini info nan diterimanya baru mengarah pada satu orang korban.

"Kekerasannya dipukul," kata mantan Wakil Ketua PWNU Jawa Timur tersebut.

Dia menambahkan, korban telah menjalani pemeriksaan medis untuk keperluan visum, di mana pemeriksaan tersebut telah selesai dilakukan dengan temuan luka pada bagian pipi.

Gus Salam menekankan pentingnya penyelesaian kasus ini melalui jalur norma agar tidak menjadi preseden negatif bagi organisasi NU di masa depan.

"Ini kudu ditegakkan hukum. Harus agar tidak menjadi preseden jelek untuk masa depan NU," tegasnya.

Kasatreskrim Polres Jombang AKP Magribi Agung Saputra menyatakan, pihaknya bakal melakukan pengecekan terlebih dulu mengenai laporan tersebut. "Saya cek dulu ya," kata Magribi.

Soroti Pembatasan Gerak Peserta

Selain dugaan kekerasan, Gus Salam turut menyoroti adanya perlakuan terhadap peserta Muktamar nan dinilai seperti dikarantina. Menurutnya, para peserta tidak diberikan keleluasaan untuk meninggalkan letak tertentu di luar agenda persidangan, padahal mereka mempunyai kemauan untuk berkunjung ke makam para masyayikh serta bersilaturahmi dengan family di Jombang alias wilayah Jawa Timur lainnya.

"Mereka ke sini mau kunjungan ziarah muassis, lantaran di karantina tidak bisa ke mana-mana. Mereka mau berjumpa saudaranya di Jombang alias di Jawa Timur lainnya tidak bisa kemana-mana," ujarnya.

Dia menuturkan, pembatasan tersebut dialami oleh sejumlah Rais Syuriyah, baik dari tingkat bagian maupun wilayah.

Gus Salam menilai perlakuan tersebut tidak layak diterapkan terhadap para ustadz nan memegang posisi strategis dalam struktur organisasi.

"Ini sebuah perlakuan nan tidak beradab kepada parai ustad dan peserta muktamar. Apalagi sebagian nan dikarantina kemarin adalah rais syuriyah, ustad kiai nan dihormati di NU, lantaran rais syuriyah adalah pemimpin tertinggi di masing masing tempat levelnya," katanya.

Baca buletin terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita