Monogami Penguin: Insting Alamiah Sejak Zaman Evolusi Darwin

Sedang Trending 20 jam yang lalu
Gambar oleh Sven, Pixabay.com diakses secara online pada 5 Mei 2026

Penguin adalah hewan nan terkenal dengan fiturnya nan lucu, menggemaskan, dan aktif berlari di area bersalju. Selain keunikannya, penguin mempunyai sifat nan mengharukan ialah setia terhadap satu pasangan. Simbol dari cinta nan sejati dan penuh makna.

Sebagian besar jenis penguin terbukti mempunyai kesetiaan tinggi kepada pasangannya, dan berpasangan hanya dengan satu perseorangan tanpa berganti-ganti. Spesies penguin nan dikenal monogami di antaranya adalah Galapagos Penguin, Little Blue Penguin, Macaroni Penguin, Adelie Penguin, Gentoo penguin, dan Chinstrap Penguin. Bukti nyata dari penelitian ini adalah pasangan berasosiasi kembali dari tahun ke tahun di letak sarang mereka dengan fidelity rate atau tingkat kesetiaan nan tinggi mencapai 80%.

Oleh lantaran itu, ikatan pasangan dapat memperkuat lama, dengan banyaknya penguin jantan nan pulang untuk berjumpa pasangan mereka sebelumnya di letak perkembangbiakan nan sama setiap tahun. Seperti nan ditunjukkan pada movie Happy Feet, Mumble bakal selalu kembali pada Gloria, dan Gloria bakal tetap selalu menunggu Mumble untuk kembali, entah gimana hatikecil selalu menemukan satu sama lain.

Ahli Biologi dari Kanada, Williams dan Rodwell meneliti pola migrasi jenis penguin Pygoscelis papua (Penguin Gentoo) dan Eudyptes chysolophus (Macaroni penguin) selama empat tahun, dari tahun 1986 sampai 1990 di pulau Bird, Selatan Georgia. Hasilnya menunjukkan tahun 1988, 79% Gentoo Penguin, dan 70% dari Macaroni Penguin, nan sudah berkembang biak pada tahun sebelumnya, memutuskan kembali ke tempat nan sama untuk berkembang biak kembali.

Kedua pasangan, jantan dan betina sudah ditandai dengan gelang elektronik nan menunjukkan jenis nan sama kembali di titik tersebut. Penguin Macaroni nan tidak sedang berkembang biak tetap kembali ke letak sarang lama mereka dan tetap datang selama beberapa hari. Jarak sarang hanya sekitar 1 meter dari letak awal pertemuan kedua perseorangan untuk berkembang biak, sehingga perihal ini menjadi bukti kesetiaan nan tinggi.

Desakan pemenuhan gizi dan kejuaraan nan tinggi antar penguin, keterbatasan kesiapan sumber pangan menuntut mereka untuk mencari ke tempat nan lebih jauh, selama berbulan-bulan apalagi setahun lamanya. Hal ini menyebabkan perseorangan jantan kudu meninggalkan sarang, di mana letak kesetiaan itu diuji. Secara alamiah, penguin betina tidak bakal jauh meninggalkan sarang lamanya sehingga pola kembali alias return rate terbentuk.

Persentase jenis nan tidak kembali, diduga mempunyai banyak faktor. Beberapa dilaporkan meninggal dalam perjalanan kembali setelah puasa musim panas, tersesat dan kehilangan arah, dan tampak lenyap dari radar. Tidak ada kepastian apakah mereka menemukan pasangan lainnya, alias hanya sekadar mau sendiri. Seperti Penguin Gentoo misalnya, dia mempunyai keahlian breeding nan rendah. Penguin Gentoo nan tidak sedang berkembang biak hanya mengunjungi koloni pada malam hari, menghabiskan siang hari di laut. Namun terlepas dari itu, dia tetap kembali.

Contoh jenis penguin nan tingkat kepulangannya lebih rendah dari koloni lain ialah Aptenodytes forsteri, tokoh utama movie Happy Feet, si Mumble. Spesies penguin ini terkenal tidak mempunyai keahlian membikin sarang, dan menginkubasi telurnya dengan kaki. Artinya, dia tidak mempunyai rumah untuk pulang sehingga sang jantan dan betina kerap melangkah ke arah nan berbeda.

Perbedaan ini mengakibatkan sangat susah untuk mereka berjumpa kembali, kesulitan menemukan titik awal bertemu, dan terdapat ancaman dari kejuaraan wilayah dengan jenis lain. Beberapa perseorangan terjebak dalam cekaman suhu panas dan mati. Namun, sebagaimana kesetiaan itu ada, hatikecil mereka tetap mempertemukan sehingga tingkat kesetiaan mereka berkisar 30-40% sepanjang tahun.

Menariknya, jika perkembangan bisa mengubah fisiologi jenis berasas perubahan lingkungannya, maka kesetiaan itu datang dalam diri penguin sebagai corak nan abadi. Istilah lainnya ialah conserved behavior. Hukum perkembangan Darwin menandai adanya keahlian perseorangan untuk mewariskan sifat nan mirip lingkungannya, maka sifat monogami penguin menjadi perangkat untuk mereka memperkuat hidup. Kesetiaan tidak dibatasi oleh spasial dan temporal, tidak juga dipengaruhi ancaman lingkungan karena kesetiaan bukan genotipe baru nan terekspresi secara fisik, melainkan hatikecil nan sudah mengakar dalam diri perseorangan penguin.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan