Momen Xi Jinping Blak-blakan Bahas Perang dengan Pangeran Arab

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Putra Mahkota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, menghadiri pertemuan di Balai Besar Rakyat, di Beijing pada 14 April 2026. (Haruna Furuhashi/Pool via REUTERS)

Presiden China Xi Jinping berbareng Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Putra Mahkota Abu Dhabi, menghadiri pertemuan di Balai Besar Rakyat, Beijing, China (14/4/2026). Dalam kesempatan itu, Xi menegaskan pentingnya penegakan norma internasional sebagai fondasi utama perdamaian di Timur Tengah di tengah eskalasi bentrok dan ketegangan ekonomi global, nan secara tersirat mengkritik perang nan melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. (Haruna Furuhashi/Pool via REUTERS)

Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Putra Mahkota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, menghadiri pertemuan di Balai Besar Rakyat, di Beijing pada 14 April 2026. (Haruna Furuhashi/Pool via REUTERS)

Dalam pertemuan dengan Putra Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Xi menekankan bahwa prinsip norma tidak boleh diterapkan secara selektif. “Supremasi norma tidak bisa digunakan jika menguntungkan dan diabaikan jika tidak menguntungkan,” ujar Xi, seperti dikutip instansi buletin Xinhua, Selasa (14/4/2026). (Haruna Furuhashi/Pool via REUTERS)

Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Putra Mahkota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, menghadiri pertemuan di Balai Besar Rakyat, di Beijing pada 14 April 2026. (Haruna Furuhashi/Pool via REUTERS)

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan area setelah pembicaraan antara Washington dan Teheran kandas menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Sejak pecah pada akhir Februari, Iran dilaporkan menutup jalur pelayaran strategis Selat Hormuz bagi kapal-kapal dari negara nan dianggap tidak bersahabat. (Haruna Furuhashi/Pool via REUTERS)

Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Putra Mahkota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, menghadiri pertemuan di Balai Besar Rakyat, di Beijing pada 14 April 2026. (Haruna Furuhashi/Pool via REUTERS)

Situasi semakin memanas ketika militer Amerika Serikat memulai blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dengan menuduh Teheran melakukan “terorisme ekonomi”. Dampaknya langsung terasa pada perdagangan daya global, dengan pengiriman minyak dari negara-negara Teluk, termasuk Uni Emirat Arab, merosot tajam. (Haruna Furuhashi/Pool via REUTERS)

Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Putra Mahkota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, menghadiri pertemuan di Balai Besar Rakyat, di Beijing pada 14 April 2026. (Haruna Furuhashi/Pool via REUTERS)

Ketegangan juga meluas setelah Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke prasarana daya di negara-negara Teluk. Gangguan ini berakibat hingga ke Asia, termasuk penurunan impor gas alam China ke level terendah sejak Oktober 2022 serta turunnya pengiriman minyak mentah sebesar 2,8%. Xi pun memperingatkan bumi agar tidak kembali pada “hukum rimba” dalam menyelesaikan konflik, menjelang rencana pertemuannya dengan Presiden AS Donald Trump di Beijing bulan depan. (Haruna Furuhashi/Pool via REUTERS)

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News