Modus Baru, Meutya Sebut Radikalisme Digital Berkedok Bantuan dan Janji Kesejahteraan

Sedang Trending 57 menit yang lalu
Modus Baru, Meutya Sebut Radikalisme Digital Berkedok Bantuan dan Janji Kesejahteraan Menkomdigi Meutya Hafid.(Biro Pers Sekretariat Kabinet. )

MENTERI Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan pola baru penyebaran radikalisme di ruang digital sekarang muncul dalam corak baru dengan modus perekrutan dengan menjanjikan bantuan untuk membangun kepercayaan korbannya.

Ia menjelaskan, penyebaran faham radikalisme sekarang tidak lagi melalui rayuan kebencian alias kekerasan, melainkan pendekatan nan tampak baik, seperti menawarkan bantuan, membangun kedekatan, hingga memberi angan hidup nan lebih baik. Setelah kepercayaan terbentuk, korban perlahan diarahkan pada mengerti ekstrem.

"Kekerasan dimulai dengan sebuah uluran tangan, support pengobatan, pelunasan utang, pengiriman support nan berkarakter personal, lampau disusul janji-janji kesejahteraan. Setelah kepercayaan terbentuk, barulah mereka diarahkan pada mengerti nan ekstrem," kata Meutya di Jakarta, Rabu (29/7).

Menurutnya, golongan radikal sekarang memanfaatkan pendekatan nan lebih lembut dan individual untuk memengaruhi calon korbannya, terutama anak-anak dan golongan rentan.

"Jadi janji-janji terhadap kesejahteraan sebagai contoh misalnya disini janji sekolah cuma-cuma sampai disana malah disuruh kawin," ujar Meutya.
Meutya juga mengungkapkan bahwa pada Mei lalu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sukses menggagalkan upaya perekrutan terhadap 112 anak melalui satu platform digital.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa ruang digital terus dimanfaatkan golongan radikal untuk mencari sasaran baru dengan beragam modus nan semakin susah dikenali.

Ia menilai perubahan perilaku pada anak akibat paparan konten di ruang digital tidak terjadi secara tiba-tiba. Perubahan perilaku terjadi secara perlahan sehingga sering kali tidak disadari oleh keluarga.

"Sedikit demi sedikit hubungan dengan orang tua mulai renggang. Cerita nan dulu terbuka menjadi semakin sedikit, hingga akhirnya tidak ada lagi komunikasi. Saat itulah kita sering terlambat menyadari bahwa telah terjadi perubahan nan serius," ujarnya.

Menurut Meutya, perkembangan teknologi membikin radikalisasi semakin susah dikenali. Kekuatan narasi nan berpadu dengan algoritma di ruang digital bisa membentuk ruang info sesuai preferensi pengguna.

Akibatnya, seseorang dapat terus menerima info nan memperkuat keyakinannya, meski tidak sesuai dengan fakta. "Narasi dan algoritma ketika berasosiasi memunculkan sebuah ilusi algoritma sehingga kebenaran kemudian kalah dengan emosi alias keyakinan," kata Meutya. (Ant/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia