Ilustrasi(Magnific)
DI era tren kebugaran saat ini, protein sering kali dinobatkan sebagai "raja" nutrisi. Mulai dari susu kocok, makanan ringan, hingga sereal, beragam produk sekarang berlomba-lomba menambahkan label tinggi protein. Namun, di tengah gempuran tren tersebut, banyak info keliru nan membikin masyarakat bingung mengenai kegunaan dan kebutuhan protein nan sebenarnya bagi tubuh.
Mitos paling umum nan beredar adalah dugaan semakin banyak protein nan dikonsumsi, maka bakal semakin baik bagi tubuh. Faktanya, tubuh manusia mempunyai pemisah keahlian dalam menyerap unsur gizi ini. Konsumsi protein nan melampaui kebutuhan harian tidak bakal otomatis diubah menjadi otot, melainkan disimpan sebagai lemak alias dibuang melalui urine. Selain itu, pola makan nan terlalu tinggi protein secara drastis dapat membebani kerja ginjal dalam jangka panjang.
Banyak orang juga memercayai mitos bahwa protein hanya bisa didapatkan secara optimal dari sumber hewani seperti daging, telur, alias susu. Padahal, sumber protein nabati tidak kalah berkualitas. Bahan makanan seperti tempe, tahu, kacang-kangan, miju-miju (lentils), hingga buncis merupakan sumber protein nan sangat baik. Menariknya, sumber nabati ini juga kaya bakal serat dan antioksidan nan tidak ditemukan pada daging hewani.
Berapa sebenarnya kebutuhan protein harian kita?
Menurut pedoman kesehatan, rata-rata orang dewasa dengan aktivitas bentuk intensitas sedang memerlukan sekitar 0,8 gram protein per kilogram berat badan setiap harinya. Kebutuhan ini tentu bakal meningkat bagi para atlet alias mereka nan sedang menjalani latihan beban intensif untuk membentuk massa otot. Namun, bagi sebagian besar orang, kebutuhan tersebut sebenarnya sudah terpenuhi dari pola makan harian nan seimbang.
Hal krusial lainnya nan sering dilupakan adalah masalah waktu konsumsi. Alih-alih menumpuk seluruh porsi protein dalam satu kali makan, misalnya hanya saat makan malam, tubuh bakal jauh lebih efektif menyerapnya jika porsi tersebut dibagi rata ke dalam setiap waktu makan, mulai dari sarapan, makan siang, hingga camilan sore.
Kesimpulannya, protein memang unsur gizi esensial nan krusial untuk memperbaiki jaringan tubuh, menjaga imunitas, dan mempertahankan massa otot. Namun, kita tidak perlu terjebak dalam obsesi konsumsi berlebihan. Kunci utama dari kesehatan nan optimal bukanlah mengagungkan satu jenis nutrisi saja, melainkan menjaga keseimbangan antara protein, karbohidrat kompleks, lemak sehat, serta kecukupan vitamin dan mineral harian. (Eating Well/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·