Microsoft Pernah Menyebut Linux Sebagai “Kanker”, Kini Justru Punya Distro Linux Sendiri

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jika Anda mengikuti cukup lama mengikuti perkembangan Microsoft, mungkin Anda tetap ingat dengan pernyataan kontroversial Steve Ballmer sekitar 25 tahun lampau nan menyebut bahwa “Linux is a cancer”. Pernyataan tersebut apalagi menjadi salah satu quote paling terkenal dalam sejarah persaingan Microsoft dengan bumi open source.

Yap, lagi lagi Steve Ballmer, pernyataannya memang cukup kontroversial, setelah kemarin juga juga membahas mengenai Chrome nan sempat diremehkan oleh-nya tapi berbanding terbalik 180 derajat.

Baca Juga : Dulu Diremehkan Microsoft, Kini Chrome Jadi Raja Browser Dunia dan Edge Tak Berkutik

Nah mengenai pernyataan Linux is Cancer ini, siapa sangka, di tahun 2026 kondisinya justru berbalik 180 derajat juga guys, dimana pada arena Build 2026 kemarin, Microsoft secara resmi menghadirkan Azure Linux 4.0, sebuah pengedaran Linux open source nan sekarang tersedia secara cuma-cuma untuk publik.

Menariknya lagi, distro ini bukan sekadar proyek kecil, melainkan sistem operasi nan selama beberapa tahun terakhir sudah digunakan untuk menjalankan beragam jasa internal Microsoft di Azure.

Lalu, apa sebenarnya Azure Linux ini? Apakah nantinya bakal menjadi pesaing Ubuntu alias Fedora?

Mengenal Azure Linux?

Nah sebelum membahas Azure Linux, ada baiknya kita memahami dulu apa itu pengedaran Linux. Bisa dibilang Linux sendiri sebenarnya hanyalah sebuah kernel, ialah inti dari sistem operasi nan bekerja mengelola hardware, memori, hingga proses nan melangkah di komputer.

Sementara itu, Linux Distribution (Distro) merupakan paket komplit nan berisi kernel Linux beserta beragam komponen lain seperti package manager, utilitas sistem, konfigurasi bawaan, hingga desktop environment.

Nah Ubuntu, Fedora, Debian, Arch Linux, Red Hat, Elementary OS, dan lainnya merupakan contoh Distro Linux nan cukup terkenal saat ini.

Sementara itu, Azure Linux merupakan distro buatan Microsoft nan dibangun menggunakan Fedora sebagai basisnya, kemudian dimodifikasi dan dioptimalkan secara unik untuk menjalankan workload cloud dan container di Azure.

Berawal Dari CBL-Mariner

Nah berasas info nan didapat, sebenarnya Azure Linux bukanlah proyek baru, lantaran awalnya, Microsoft memperkenalkan proyek internal berjulukan CBL-Mariner (Common Base Linux Mariner) pada tahun 2019 sebagai sistem operasi ringan nan digunakan untuk beragam jasa Azure.

Selama bertahun-tahun, distro ini digunakan secara diam-diam untuk menjalankan jasa seperti Azure Kubernetes Service (AKS), Azure SQL, Azure Cosmos DB, Infra LinkedIn, Infra Databricks dan lainnya.

Dan baru pada pada tahun 2024 Microsoft mengganti namanya menjadi Azure Linux, dan di Build 2026 perusahaan mulai membuka aksesnya secara lebih luas kepada publik.

Bukan Pengganti Ubuntu

Nah walaupun sama-sama Linux, Azure Linux bukan dibuat untuk menggantikan Ubuntu, Fedora ataupun Linux Mint sebagai sistem operasi harian, perihal ini lantaran Azure Linux tidak mempunyai desktop environment, tidak menyediakan GUI dan apalagi bahkan instalasi dasarnya sangat minimal.

Hal tersebut lantaran tujuannya memang bukan untuk digunakan sebagai sistem operasi desktop, melainkan sebagai sistem operasi server nan ringan, aman, dan stabil untuk menjalankan jasa cloud maupun container.

Karena itulah ukuran instalasinya juga jauh lebih mini dibanding distro Linux desktop pada umumnya.

Tapi Kenapa Microsoft Membuat Linux Sendiri?

Nah bisa dibilang ini jadi pertanyaan nan cukup menarik, apalagi dulu Linux sempat dibilang sebagai kanker oleh Steve Ballmer.

Jadi alasannya sebenarnya cukup sederhana, ialah saat ini ini sebagian besar workload nan melangkah di Azure justru menggunakan Linux, bukan Windows Server.

Dan kabarnya, selama ini Microsoft kudu berjuntai pada distro seperti Ubuntu, Red Hat maupun SUSE nan dikelola oleh perusahaan lain. Dan dengan mempunyai distro Linux sendiri, Microsoft dapat mengontrol seluruh rantai pengedaran sistem operasi, memberikan pembaruan keamanan lebih cepat, mengoptimalkan performa unik Azure, dan menyediakan pengalaman nan konsisten dari proses development hingga deployment.

Dan tentu, sebenarnya strategi seperti ini sebenarnya bukan perihal baru karena, sebelumnya Amazon telah mempunyai Amazon Linux, sementara Google juga mempunyai Container-Optimized OS.

Dan di Azure Linux 4.0 ini, Microsoft juga betul benar memperhatikan kompatibilitas, termasuk dengan penggunaan DNF5 sebagai package manager. Selain itu, Azure Linux 4.0 juga datang dengan beragam komponen terbaru seperti, Linux Kernel 6.18 LTS, systemd 258, glibc 2.42, Python 3.14 dan OpenSSL 3.5 dengan support post-quantum cryptography.

Menjadi Pasangan Baru Untuk WSL

Nah Azure Linux juga menjadi bagian dari strategi Microsoft nan semakin serius terhadap ekosistem Linux di Windows.

Karena seperti nan kita tahu, beberapa waktu lampau Microsoft juga mengumumkan WSL Containers, fitur baru nan memungkinkan developer menjalankan container Linux langsung dari Windows tanpa memerlukan Docker Desktop.

Dengan kombinasi Azure Linux dan WSL Containers, Microsoft mau menghadirkan workflow nan lebih mulus, dimana developer dapat mengembangkan aplikasi Linux langsung di Windows, menguji container secara lokal, lampau melakukan deployment ke Azure tanpa kudu beranjak platform.

Nah jika dilihat dari perjalanan Microsoft selama dua dasawarsa terakhir, perubahan arah perusahaan ini memang cukup menarik untuk disimak. Dari nan dulu menganggap Linux sebagai ancaman, sekarang justru menjadi salah satu kontributor open source terbesar di bumi dan apalagi mempunyai pengedaran Linux sendiri nan digunakan untuk menjalankan jasa cloud mereka.

Selain itu, meskipun Azure Linux jelas bukan distro nan ditujukan untuk penggunaan sehari-hari seperti Ubuntu alias Fedora, kehadirannya menunjukkan bahwa Linux sekarang sudah menjadi bagian nan sangat krusial dari strategi Microsoft, khususnya di bagian cloud computing, container, hingga pengembangan aplikasi modern.

Nah gimana menurutmu mengenai perihal ini ? komen dibawah guys dan berikan pendapatmu. Next mungkin kita coba install Azure Linux ini dan kita coba ya.

Via : Microsoft, Windows Latest


Catatan Penulis : WinPoin sepenuhnya berjuntai pada iklan untuk tetap hidup dan menyajikan konten teknologi berbobot secara cuma-cuma — jadi jika Anda menikmati tulisan dan pedoman di situs ini, minta whitelist laman ini di AdBlock Anda sebagai corak support agar kami bisa terus berkembang dan berbagi insight untuk pengguna Indonesia. Kamu juga bisa mendukung kami secara langsung melalui support di Saweria. Terima kasih.

Written by

Gylang Satria

Tech writer nan sehari‑hari berkutat dengan Windows 11, Linux Ubuntu, dan Samsung S24. Punya pertanyaan alias butuh diskusi? Tag @gylang_satria di Disqus. Untuk kolaborasi, email saja ke [email protected]

Post navigation

Previous Post

Next Post

Selengkapnya
Sumber Winpoin.com
Winpoin.com