Metode TDA: Solusi Murah dan Cepat Olah Sampah Organik Rumah Tangga

Sedang Trending 1 jam yang lalu
 Solusi Murah dan Cepat Olah Sampah Organik Rumah Tangga Ilustrasi(Dok Istimewa)

 Persoalan penumpukan sampah organik di area perkotaan maupun perdesaan sekarang mempunyai pengganti solusi nan tidak hanya efisien dan ramah lingkungan, tetapi juga sangat terjangkau bagi masyarakat. Akademisi dari Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa (Unwar), Dr. I Nengah Muliarta, S.Si., M.Si., memperkenalkan penemuan metode pengomposan in-situ dengan memanfaatkan Tambahan Dekomposer Alami (TDA).

Metode ini dirancang agar mudah diaplikasikan secara berdikari oleh masyarakat dalam skala rumah tangga. Paparan penemuan teknologi tepat guna tersebut disampaikan langsung oleh Muliarta dalam aktivitas sosialisasi dan training pengelolaan sampah berbasis sumber nan diselenggarakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Unwar di Desa Sanur Kauh, Denpasar, Sabtu (29/8/2026).

Mendobrak Stigma Pengomposan Mahal

Muliarta mengungkapkan bahwa pengembangan metode TDA in-situ dilatarbelakangi oleh keengganan masyarakat dan petani mengolah limbah organik lantaran dianggap rumit, lama, dan berbiaya tinggi. Selama ini, muncul dugaan bahwa pengomposan memerlukan wadah unik dan cairan bioaktivator pabrikan nan mahal.

"Metode TDA in-situ ini saya kembangkan untuk mendobrak stigma tersebut. Saya mau membuktikan bahwa pengomposan bisa dibuat sangat sederhana, murah, sigap proses degradasinya, dan menghasilkan produk berbobot tinggi," ujar Muliarta nan juga menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Buruh, Tani, dan Nelayan DPD PA GMNI Provinsi Bali.

Memanfaatkan Kekuatan Alam Lokal

Pilar utama penemuan ini terletak pada penggunaan dekomposer alami nan melimpah di sekitar, seperti tanah humus, kotoran ternak sapi alias unggas, hingga kompos matang sebagai inokulan. Menurut Muliarta, mikroba lokal mempunyai penyesuaian lingkungan nan lebih tinggi dibandingkan pemasok pengurai komersial impor.

Selain menekan biaya bahan pengurai, sarana pengomposan juga bisa memanfaatkan peralatan bekas. "Tempat pengomposan tidak perlu mahal. Kita bisa memanfaatkan kampil beras bekas, karung goni, ember cat nan diberi lubang aerasi, hingga drum plastik bekas," tuturnya.

Teknis Operasional Metode TDA:

  • Sampah organik dipotong kecil-kecil dan dimasukkan ke wadah.
  • Tumpukan sampah dilapisi dekomposer alami (tanah humus/kotoran ternak) secara berlapis.
  • Jaga kelembapan pada rentang 40-60 persen.
  • Lakukan pembalikan tumpukan seminggu sekali untuk pasokan oksigen.
  • Kompos bakal matang sempurna dalam waktu 30 hingga 35 hari.

Dari Sawah ke Pekarangan Rumah

Teknologi TDA awalnya dikembangkan Muliarta untuk mengatasi limbah jerami di persawahan agar petani tidak membakarnya. Namun, memandang beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) nan kian berat, konsep ini dimodifikasi agar adaptif untuk pekarangan rumah tangga.

Kredibilitas penemuan ini diperkuat dengan kewenangan paten resmi berjudul "Komposisi Mikroba Perombak Jerami". Seluruh mikroorganisme pengurai diisolasi murni dari ekosistem lokal Bali, sehingga sangat handal terhadap suasana tropis Indonesia.

Apresiasi Warga Desa Sanur Kauh

Ketua TP PKK Desa Sanur Kauh, Ni Wayan Sudani, memberikan apresiasi tinggi terhadap training ini. Menurutnya, penduduk selama ini hanya diberikan imbauan tanpa pedoman operasional nan konkret.

"Materi hari ini memberikan tahapan nan sangat jelas dengan teknik nan sederhana dan praktis. Apalagi penemuan ini memberi solusi tanpa mengharuskan penduduk membeli peralatan mahal, cukup memanfaatkan sumber daya di sekitar kita," pungkas Sudani.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia