Ambisi besar bumi virtual alias metaverse nan sempat digaungkan beberapa tahun lampau tampaknya mulai menunjukan perlambatan apalagi sinyal paling jelas datang langsung dari platform Meta nan mana secara resmi menghentikan support VR untuk platform andalannya, Horizon Worlds.

Langkah ini bisa dibilang menjadi tanda sekaligus memperkuat tren bahwa metaverse khususnya berbasis VR mulai kehilangan prioritas di industri teknologi.
Jadi kawan-kawan, baru baru ini Meta mengumumkan bahwa Horizon Worlds bakal dihentikan dari platform VR (Quest) pada 15 Juni 2026. Setelah itu, jasa ini hanya bakal tersedia dalam corak aplikasi mobile.
Padahal nih sebelumnya, Horizon Worlds merupakan pusat dari visi metaverse Meta, di mana pengguna dapat berinteraksi dalam bumi virtual 3D menggunakan avatar.
Namun dengan adanya keputusan ini, ini menandai perubahan besar dari strategi awal Meta nan sejak 2021 di bawah kepemimpinan Mark Zuckerberg, mereka menyebut metaverse sebagai “masa depan internet”.
Kenapa Metaverse belum berhasil?
Nah salah satu aspek utama dari perubahan ini adalah rendahnya mengambil pengguna, alias bisa dibilang sih minim pengguna, lantaran meski sudah melangkah sejak tahun 2021, Horizon Worlds hanya bisa menarik ratusan ribu pengguna aktif bulanan.
Angka ini tentu jauh dari sasaran ambisius Meta nan awalnya berambisi bisa menjangkau hingga miliaran pengguna, selain itu kebutuhan perangkat unik seperti headset VR juga menjadi halangan besar bagi mengambil massal.
Nah jika bumi tetap dalam masa pandemi, mungkin Metaverse tetap bisa jadi solusi, tapi sayangnya masa itu sudah berlalu dan pengguna tampaknya sudah mulai kehilangan kesukaan pada Metaverse.
Industri mulai beranjak ke AI
Nah satu perihal nan pasti adalah seiring meredupnya Metaverse, banyak perusahaan justru mulai beranjak ke AI, apalagi Meta sendiri secara terbuka menyatakan bakal memprioritaskan pengembangan AI dibandingkan VR. Hal ini sejalan dengan tren global, di mana AI dinilai lebih sigap diadopsi dan mempunyai potensi upaya nan lebih jelas.
Pertanyaannya apakah Metaverse bakal mati?, mengenai perihal tersebut bisa dibilang sih metaverse tidak bakal mati, tapi jelas sedang turun dari hype dan berubah bentuk.
Jika kita lihat lebih dalam, kondisi ini sebenarnya bukan akhir dari metaverse, melainkan fase penyesuaian, lantaran Metaverse nan dulu dibayangkan sebagai bumi virtual penuh berbasis VR, di mana semua aktivitas dilakukan dalam ruang digital 3D, memang belum sukses diwujudkan sesuai ekspektasi. Teknologi nan ada saat ini tetap belum cukup matang, baik dari sisi perangkat, ekosistem, maupun kebutuhan pengguna.
Dan kedepannya, metaverse kemungkinan besar tidak lagi datang dalam corak nan “berat” seperti penggunaan headset VR secara terus-menerus, namun sebaliknya, pendekatannya bakal menjadi lebih ringan dan fleksibel. Sebagai contoh, konsep metaverse saat ini justru sudah hidup dalam corak nan lebih sederhana melalui platform seperti Roblox dan Fortnite, di mana pengguna bisa berinteraksi, bermain, apalagi menghadiri event virtual tanpa perlu perangkat khusus.

Namun gimana menurutmu? apakah konsep Metaverse VR Mark Zuck ini terlalu ambisius? alias memang bumi belum siap untuk menerima perubahan dan konsep ini?
Komen dibawah dan berikan pendapatmu.
Catatan Penulis : WinPoin sepenuhnya berjuntai pada iklan untuk tetap hidup dan menyajikan konten teknologi berbobot secara cuma-cuma — jadi jika Anda menikmati tulisan dan pedoman di situs ini, minta whitelist laman ini di AdBlock Anda sebagai corak support agar kami bisa terus berkembang dan berbagi insight untuk pengguna Indonesia. Kamu juga bisa mendukung kami secara langsung melalui support di Saweria. Terima kasih.
Written by
Gylang Satria
Tech writer nan sehari‑hari berkutat dengan Windows 11, Linux Ubuntu, dan Samsung S24. Punya pertanyaan alias butuh diskusi? Tag @gylang_satria di Disqus. Untuk kolaborasi, email saja ke [email protected]
Post navigation
Previous Post
5 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·