Derap langkah puluhan peserta memenuhi lapangan sederhana di Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Jamrud Biru, Mustikasari, Kota Bekasi, Senin (17/8). Di bawah terik mentari pagi, 85 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) berdiri tegak mengikuti upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Tak ada bunyi gaduh. Tak ada keraguan. Lagu Indonesia Raya berkumandang, Merah Putih perlahan berkibar, sementara para peserta mengikuti setiap rangkaian upacara dengan penuh kekhusyukan.
Pemandangan itu mungkin sederhana bagi sebagian orang. Namun, bagi mereka nan sedang menjalani rehabilitasi kesehatan jiwa, berdiri rapi mengikuti upacara merupakan sebuah pencapaian besar. Bukan sekadar memperingati kemerdekaan bangsa, tetapi juga menjadi simbol perjuangan untuk meraih kemerdekaan dari belenggu gangguan jiwa.
Pendiri Yayasan Jamrud Biru, H. Hartono, mengatakan pendapat menggelar upacara justru datang dari para penerima layanan. Setelah yayasan menempati letak baru nan mempunyai lapangan sendiri, mereka mulai bertanya kapan bakal ada aktivitas memperingati Hari Kemerdekaan.
"Mereka sendiri nan meminta. Berkali-kali mereka bertanya, 'Pak, kapan kita upacara 17 Agustus?' Dari situ kami memandang antusiasme mereka luar biasa. Akhirnya kami siapkan aktivitas ini, dan hasilnya mereka mengikuti dengan sangat khidmat," ujarnya.
Seluruh Peserta Berasal dari Zona Hijau
Seluruh peserta upacara berasal dari pasien nan telah berada di area hijau, ialah tahap rehabilitasi menjelang kembali ke family dan masyarakat. Bahkan, nyaris seluruh petugas upacara juga berasal dari para penerima layanan, mulai dari pembawa acara, pembaca teks, hingga dirigen. Hanya petugas pengibar bendera nan didampingi pendamping demi menjaga keamanan prosesi.
Menurut Hartono, tantangan terbesar bukan pada disiplin peserta, melainkan melatih daya ingat mereka. Menghafal urutan acara, memahami instruksi, serta menjaga konsentrasi memerlukan proses nan tidak singkat.
"Yang menarik justru mereka berebut mau menjadi petugas upacara. Semua mau menunjukkan bahwa mereka mampu. Mereka mau membuktikan jika dirinya sudah sehat dan siap kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat," katanya.
Persiapan upacara dilakukan sekitar satu bulan dengan enam kali latihan dan satu gladi bersih. Ketua RT 04/RW 04, Sumar, nan bertindak sebagai pembina upacara, mengaku bangga memandang perkembangan para peserta.
"Saya betul-betul bangga. Semangat mereka luar biasa. Latihannya memang hanya beberapa kali, tetapi saat penyelenggaraan mereka bisa mengikuti dengan baik. nan perlu diperhatikan hanya kondisi bentuk mereka lantaran tidak semua kuat berada lama di bawah sinar matahari," ujarnya.
Bagi Sumar, keberadaan para penerima jasa Jamrud Biru bukanlah perihal asing. Selama ini mereka telah berbaur dengan masyarakat sekitar, apalagi beberapa kali dilibatkan dalam aktivitas lingkungan maupun pekerjaan ringan sebagai bagian dari terapi sosial.
"Warga sudah menerima mereka apa adanya. Tidak ada rasa takut. Bahkan bulan depan mereka juga bakal kami libatkan dalam aktivitas Maulid berbareng warga. Mereka memang bagian dari masyarakat," katanya.
Kehangatan itu juga tampak usai upacara. Para peserta berkumpul menikmati segelas teh manis sembari bercengkerama. Tradisi sederhana tersebut sengaja dipertahankan untuk menjaga kondisi tubuh setelah mengikuti aktivitas di bawah terik matahari.
Bagi salah seorang penerima layanan, Iqbal, kesempatan menjadi petugas upacara merupakan pengalaman nan tak terlupakan.
"Senang sekali. Ini pertama kalinya saya menjadi petugas upacara," ucapnya singkat dengan senyum mengembang.
Namun, upacara hanyalah awal dari rangkaian rehabilitasi. Seusai prosesi, peserta mengikuti beragam permainan sederhana nan dirancang untuk melatih daya ingat, konsentrasi, keahlian berkomunikasi, serta membangun rasa percaya diri.
Salah satunya adalah permainan pesan berantai. Di kembali kesederhanaannya, permainan itu mempunyai makna terapeutik. Peserta diajak konsentrasi pada pesan nan diterima dan disampaikan kembali secara benar, sebagai latihan konsentrasi sekaligus stimulasi kognitif.
"Semua lomba dibuat ringan, tetapi mempunyai tujuan terapi. Kami mau mereka ceria sekaligus melatih keahlian berpikir dan mengingat," jelas Hartono.
Usung Tema Merdeka dari Sakit Jiwa
Tema besar nan diusung tahun ini adalah "Merdeka dari Sakit Jiwa". Sebuah kalimat nan bukan sekadar slogan, melainkan angan agar setiap penyintas gangguan jiwa memperoleh kesempatan pulih, hidup mandiri, dan diterima kembali tanpa stigma.
Hartono menegaskan, rehabilitasi di Jamrud Biru tidak hanya berfokus pada pendekatan spiritual, tetapi juga didukung pelayanan medis melalui kerja sama dengan rumah sakit jiwa serta pembinaan sosial nan komprehensif. Di tempat itu tidak ditemukan ruji-ruji besi, pemasungan maupun perantaian.
"Kami mau membuktikan bahwa orang dengan gangguan jiwa mempunyai kewenangan nan sama sebagai manusia. Mereka tidak boleh dikurung, dipasung alias dijauhi. Mereka berkuasa memperoleh kesempatan untuk pulih dan kembali hidup berbareng masyarakat," tegasnya.
Ia berambisi pemerintah terus memberikan perhatian terhadap jasa rehabilitasi kesehatan jiwa, termasuk membantu penyediaan lahan permanen agar pelayanan kepada masyarakat semakin optimal.
Di tengah beragam tantangan, upacara pagi itu meninggalkan pesan nan kuat. Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan, melainkan juga tentang membebaskan manusia dari rasa takut, diskriminasi, dan stigma.
Saat Merah Putih berkibar di langit Bekasi, puluhan pengidap gangguan jiwa itu merayakan kemerdekaan nan lain, kemerdekaan untuk kembali bermimpi, kembali percaya diri, dan kembali menjadi bagian utuh dari masyarakat.
49 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·