Salah seorang budhe saya baru saja meninggal beberapa bulan nan lampau di usianya nan menginjak 100 tahun. Sepanjang nan saya ketahui, beliau tidak pernah sakit parah. Bahkan di akhir-akhir hidupnya, ingatannya tetap tetap segar, tidak seperti kebanyakan orang sepuh nan pikun.
Hampir setiap tahun sebelum kematiannya, saya mengunjunginya dan setiap saya datang ke rumahnya, beliau duduk di lantai dua depan jendela sembari menatap nanar ke jalanan depan rumahnya. Seketika beliau memanggil nama ketika menyadari kehadiran saya, tidak pernah sekalipun beliau lupa nama saya.
Suasana rumahnya sangat sunyi lantaran beliau hanya tinggal berbareng salah seorang anaknya. Saban hari, beliau hanya menikmati bunyi erangan kapal nan bakal bersandar di dermaga alias bakal berangkat. Cukup jelas lantaran rumahnya hanya sepersekian menit, ditempuh dengan jalan kaki dari pelabuhan.
Saya selalu menerka apa nan beliau pikirkan ketika sedang merenung di kursinya sembari memandang jalanan, tapi tidak pernah menanyakan secara langsung lantaran saya tidak mau merusak proses refleksinya terhadap hidup nan sedang dijalani.
Mungkin saja beliau menyadari bahwa seluruh manusia nan seumuran dengannya sudah berpulang, apalagi adik-adiknya nan berjumlah lebih sepuluh hanya tersisa dua saja, termasuk ibu saya.
Chairil Anwar pernah menulis, "Aku mau hidup seribu tahun lagi," tapi saya kira itu metafora saja ketika saya menyadari bahwa orang-orang nan sudah mencapai umur 100 tahun mengalami gejolak psikologis nan tak bisa dibayangkan oleh manusia nan tetap muda dan bergairah.
Mungkin saja, ini hanya tebakan saya, bahwa jika mereka nan sudah mencapai usia 100 tahun, diberi pilihan apakah tetap tetap mau hidup seratus tahun lagi alias mati, mungkin mereka bakal memilih nan kedua.
Betapa mengerikannya hidup dalam kebosanan ketika semua kesenangan sudah berlalu, sahabat sudah pergi, dan semua perihal nan menjadi antusiasme hidup tidak ada lagi. Tidak ada lagi target-target nan kudu diusahakan dalam hidup.
Manusia memang aneh. Mereka dengan segala macam berupaya untuk tetap sehat agar berumur panjang, tetapi mereka juga menyadari bahwa titik akhirnya hanyalah kebosanan.
Bosan tidak hanya diidap oleh orang sakit alias orang miskin, tetapi seluruh manusia menderita penyakit kebosanan. Ada nan jenuh menganggur, ada nan jenuh bekerja, ada nan jenuh populer, (mungkin) ada nan jenuh menjadi orang kaya, apalagi ada nan jenuh hidup sehingga memilih mengakhiri hidupnya. Begitulah hidup: penuh dengan kebosanan.
Biasanya, kita bakal merasakan kebosanan ketika tidak ada perihal nan menggairahkan alias kita melakukan perihal nan repetitif. Maka pada saat itu, bakal muncul kebosanan eksistensial.
Terdapat sebuah kisah tentang Sisyphus, mitologi Yunani nan diceritakan Albert Camus di bukunya "The Myth of Sisyphus." Makhluk nan dihukum sepanjang hanyatnya mendorong batu ke puncak bukit, lampau sadar bahwa ketika bakal sampai di puncak, batu kembali jatuh dan dia kudu melakukan perihal nan sama terus menerus.
Alih-alih mengutuk rutinitas membosankan nan dia kudu jalankan selama hidupnya, Sisyphus memilih untuk menikmati rutinitasnya dan berbahagia pada setiap fase hidupnya.
Kita adalah Sisyphus nan hidup di era modern dalam format nan sedikit dimodifikasi. Berangkat ke instansi setiap pagi, pulang menjelang malam, lampau di weekend menghabiskan liburan, bersenang-senang berbareng sahabat, meskipun kita sadar bahwa nantinya kudu kembali ke rutinitas di senin pagi. Begitu seterusnya sampai pada akhirnya kita bakal bosan.
Apalah saya nan kudu melewati rutinitas nan repetitif. Senin pagi berangkat ke Bandung, Jum'at sore kembali lagi ke Lenteng Agung. Menghabiskan akhir pekan di rumah dengan menonton film, baca novel, dan sesekali keluar merayakan minggu sore berbareng kawan lama. Setelah itu, pada hari senin, saya kembali lagi ke rutinitas nan sama. Begitu seterusnya.
Namun tidak seperti Sisyphus nan menikmati hari-harinya dalam kebosanan. Kita, dan mungkin saya, apalagi tidak pernah melewatkan hari dengan mengumpat di jalanan, di kantor, apalagi di tempat umum. Entah terucap langsung alias hanya tertahan di dada: tentang rekan nan tidak sepemikiran, tentang banyak perihal nan tidak sejalan dengan mimpi-mimpi nan kita susun—sementara kita sadar bahwa tidak semua perihal kudu sejalan dengan apa nan diinginkan.
Kita adalah Sisyphus nan kandas merayakan kebosanan dengan kegembiraan. Kita memilih ribut di kehidupan nan hanya menunggu garis finish, mengamplifikasi drama kehidupan nan semestinya hal-hal sederhana, apalagi mengedepankan ego nan pada akhirnya bakal membunuh kemanusiaan kita perlahan.
Satu perihal nan kudu disadari: bahwa untuk membangun gambaran seperti nan kita inginkan, kita kudu mulai dari hal-hal mini terlebih dahulu, sementara musuh terbesar manusia untuk menemukan dirinya adalah ego nan terlalu besar.
Saya juga sering kali bosan. Namun setiap kali emosi itu muncul, saya bakal mengulang-ulang kalimat demi kalimatnya Albert Camus tentang gimana menikmati hidup nan penuh dengan kebosanan, alias pada beberapa kali, saya berdiam diri dalam bilik sepanjang hari—itupun saat weekend ketika sedang berada di Bandung.
Pada akhirnya, kita bakal menyadari bahwa kebosanan adalah corak eksistensi kita sebagai manusia—bahwa ketika kita bosan, berfaedah kita tetap hidup. Setiap manusia mempunyai caranya masing-masing untuk merayakan kebosanan hidup: ada nan menghabiskan malam di tempat hiburan, ada nan intens di tempat-tempat ibadah, ada nan menikmati hari berbareng keluarga, dan segala jenis aktivitas penawar kebosanan.
Pada akhirnya, kita kudu menikmati kebosanan demi kebosanan agar kita tetap hidup. Tidak perlu terlalu keras terhadap diri nan sering kali mengalami kegagalan. Karena pada akhirnya, kita semua bakal menuju satu titik akhir nan sama.
Begitulah pikiran saya melayang ke mana-mana di jum'at malam ketika mata tak jua diserang kantuk menjelang awal Mei.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·