Menyusuri Hiruk Pikuk Jakarta, Cerita Para Perempuan di MRT

Sedang Trending 57 menit yang lalu

Jakarta -

Sekitar pukul 05.00 WIB, Aprilia (32) sudah sibuk di dapur rumahnya untuk menyiapkan beragam makanan bagi anak dan suami. Sambil menunggu masakan matang, Aprilia pun menyempatkan diri mempersiapkan beragam kebutuhan untuk berangkat kerja.

Tak jarang, semua rutinitas tersebut dilakukan dengan lebih sigap agar tidak berangkat terlalu siang ke kantor.

Setelah urusan rumah tangga selesai, dirinya berbareng sang suami pun segera bersiap-siap untuk berangkat kerja. Sang suami biasanya bekerja mengantar Aprilia ke halte TransJabodetabek D41 di dekat pintu Tol Desari Sawangan, Kota Depok, untuk kemudian turun di Stasiun MRT Fatmawati.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Aku sebagai ibu bekerja bisa dibilang cukup hectic, lantaran kudu membagi waktu antara urusan rumah, anak, dan pekerjaan. Aku tinggal di Sawangan berbareng suami dan satu anak balita, sementara tempat kerjaku di wilayah Cempaka Mas, jadi setiap hari kudu mengatur waktu dan tenaga," kata Aprilia saat ditemui detikcom di wilayah Fatmawati, Jakarta Selatan, Selasa (13/10/2026).

"Biasanya pagi hari saya mulai dengan menyiapkan kebutuhan anak dan keluarga, menyiapkan keperluan pribadi untuk kerja. Setelah itu, saya berangkat kerja dan melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi umum," sambungnya.

Aprilia mengatakan, terintegrasinya TransJabodetabek dengan moda transportasi MRT menghadirkan kemudahan tersendiri baginya untuk bekerja. Sebab, dirinya tidak perlu mengeluarkan tenaga lebih untuk berkendara pribadi agar dapat mencapai letak tempat kerjanya.

"Buat aku, perjalanan ke instansi itu sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Kadang capek juga, apalagi jika kudu berangkat pagi dan pulang dalam kondisi capek setelah bekerja. Tapi lantaran saya juga punya tanggung jawab sebagai ibu, saya kudu bisa mengatur semuanya agar pekerjaan tetap melangkah dan waktu berbareng family juga tetap ada. Jadi, transportasi umum cukup membantu saya menjalani rutinitas tersebut," jelasnya.

Hal Sederhana Sangat Berarti di Transportasi Umum

Sebagai komuter, Aprilia mengatakan dirinya juga kerap menggunakan transportasi umum dalam beragam situasi, salah satunya saat sedang hamil. Namun, ketika hamil, Aprilia lebih selektif dalam memilih moda transportasi umum.

Dia condong memilih moda transportasi nan memudahkannya mendapatkan tempat duduk. Menurutnya, kesempatan bagi ibu mengandung untuk duduk di transportasi umum sangat membantu.

Sebab, beraktivitas, seperti bekerja, dalam kondisi mengandung cukup menguras tenaga. Untuk itu, kesempatan duduk di transportasi umum sangat membantunya agar bisa beristirahat sejenak.

"Pernah naik MRT saat hamil. (Ketika hamil) Aku jadi lebih memperhatikan kondisi tubuh ketika bepergian. Kalau naik transportasi umum, nan paling saya pikirkan biasanya apakah perjalanan cukup nyaman, apakah saya bisa mendapatkan tempat duduk, dan gimana kondisi kereta saat jam sibuk. Menurut aku, untuk ibu hamil, akses nan mudah, info nan jelas, serta kesadaran penumpang lain untuk memberikan tempat duduk itu krusial banget," ujar Aprilia.

"Hal-hal nan mungkin terlihat sederhana, seperti tidak perlu berdempetan alias bisa beristirahat saat menunggu kereta, bisa sangat berfaedah buat ibu hamil. Pengalaman itu juga membikin saya semakin sadar bahwa transportasi umum idealnya bisa digunakan dengan nyaman oleh beragam kalangan, termasuk wanita mengandung dan ibu nan membawa anak," tambahnya.

Pengalaman menggunakan transportasi umum turut diungkapkan oleh Kuma (32), seorang ibu dua anak. Kuma mengatakan dirinya kerap membujuk anaknya berjalan menggunakan moda transportasi umum. Perempuan perantauan asal Semarang ini mengatakan perihal tersebut bermaksud memberikan pengalaman kepada anak dalam menggunakan transportasi umum.

Menurutnya, ada nilai-nilai kehidupan positif nan bisa ditanamkan kepada anak saat menggunakan transportasi umum. Penanaman nilai-nilai tersebut diharapkan bisa menjadi bekal bagi anaknya ketika dewasa kelak.

Penumpang MRT JakartaFoto: Dea Duta Aulia

"Saya sering menggunakan MRT Jakarta berbareng anak. Dan saya mau mengenalkan transportasi umum kepada anak sejak dini. Melalui pengalaman tersebut, anak bisa belajar mengenal beragam moda transportasi, mengikuti patokan di ruang publik, dan memahami bahwa berjalan tidak selalu kudu menggunakan kendaraan pribadi. Bagi saya, pengalaman sederhana seperti ini menjadi bagian dari pembelajaran nan menyenangkan di luar rumah," kata Kuma kepada detikcom di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Rabu (14/10/2026).

Meskipun begitu, Kuma mengatakan dirinya lebih selektif dalam menggunakan moda transportasi umum, khususnya ketika berjalan berbareng buah hatinya. Langkah itu semata-mata dilakukan untuk memastikan anak merasa nyaman dan kondusif ketika menggunakan moda transportasi umum.

"Ketika kudu memilih antara KRL dan MRT saat berjalan berbareng anak, saya condong memilih MRT. Karena berasas pengalaman saya, suasana perjalanannya relatif lebih nyaman dan tidak terlalu padat pada waktu-waktu tertentu," ungkap Kuma.

"Membawa anak tentu memerlukan perhatian ekstra. Saya perlu memastikan dia (anak) merasa nyaman dan kondusif selama perjalanan, sehingga saya bisa lebih konsentrasi mendampinginya," sambungnya.

Selain itu, Kuma mengatakan kehadiran akomodasi penunjang seperti nursery room alias bilik bayi di Stasiun MRT Jakarta cukup membantu. Kuma bercerita bahwa dirinya pernah terlambat melakukan pumping sehingga salah satu bagian tubuhnya terasa tidak nyaman alias sakit.

Sebagai seorang ibu menyusui, kondisi tersebut membikin Kuma memerlukan ruang privat untuk melakukan pumping. Saat berada di tengah perjalanan, Kuma pun memutuskan untuk turun sejenak di salah satu stasiun MRT agar bisa melakukan pumping.

Kuma mengatakan penggunaan nursery room alias bilik bayi bukan kali pertama dilakukan. Dirinya sudah beberapa kali memanfaatkan ruangan tersebut untuk kebutuhan ibu menyusui dan anak.

"Sebagai seorang ibu, salah satu akomodasi nan sangat saya rasakan manfaatnya adalah nursery room. Saya beberapa kali memanfaatkan akomodasi ini untuk mengganti popok anak, menyusui, maupun melakukan pumping. Keberadaan ruang menyusui nan nyaman dan privat sangat membantu, lantaran kebutuhan bayi tidak selalu bisa menunggu sampai perjalanan selesai," ungkap Kuma.

"Hal nan paling membikin saya terkesan adalah perhatian terhadap detail-detail kecil. Di nursery room nan pernah saya gunakan, tersedia dispenser nan dapat membantu ibu menyiapkan susu formula, serta perlengkapan sederhana seperti spons alias silikon pembersih botol dot. Selain itu, tersedia wastafel untuk mencuci tangan dan membersihkan botol," sambungnya.

Sementara itu, Lisa (60), seorang wanita lansia pengguna transportasi umum, menyampaikan pandangan lain. Dia mengatakan moda transportasi nan terintegrasi satu dengan lainnya menghadirkan kemudahan tersendiri baginya untuk bepergian.

Dia mencontohkan, ketika hendak menemani anak perempuannya untuk wawancara kerja, ibu dan anak ini memutuskan menggunakan TransJakarta, lampau melanjutkan perjalanan dengan MRT Jakarta untuk mencapai letak tujuan.

Perlu diketahui, MRT Jakarta telah terhubung dari Stasiun Lebak Bulus hingga Bundaran HI. Selain itu, stasiun-stasiun MRT Jakarta melewati sejumlah titik pusat perkantoran, pemerintahan, hingga area wisata dan kuliner seperti Blok M.

"Tadi abis nemenin anak interview, sekarang mau ke Blok M, mau makan," kata Lisa di Stasiun MRT Blok M, Kamis (15/10/2026).

Penumpang menaiki MRT dari Stasiun Lebak Bulus, Jakarta, Kamis (17/7/2025). MRT berencana memperpanjang rute hingga tembus Tangerang dan Tangsel.Penumpang menaiki MRT dari Stasiun Lebak Bulus, Jakarta, Kamis (17/7/2025). MRT berencana memperpanjang rute hingga tembus Tangerang dan Tangsel. Foto: Andhika Prasetia

Meskipun begitu, Lisa menilai tetap banyak penumpang, khususnya anak muda, nan enggan memberikan bangku kepada penumpang prioritas.

"Kadang-kadang nggak peduli, dia berpura-pura tidur. Oh, dia bisa tidur, orang nan anak muda ini takut kasih tempat duduknya ke sama orang tua, dia (anak muda) berpura-pura tidur," jelasnya.

Menurutnya, kejadian tersebut kerap ditemukan pada jam-jam sibuk, seperti pagi dan sore hari. Keengganan penumpang memberikan bangku prioritas kerap membikin dirinya terpaksa berdiri lebih lama sembari menunggu penumpang lain bersedia memberikan tempat duduk.

"Kesadaran anak muda ini jika sudah kami nan tua ini naik, tolong kasih tempat duduknya gitu," jelasnya.

Berdasarkan pantauan detikcom di sejumlah moda transportasi umum pada pagi, siang, hingga malam hari, kejadian sulitnya mendapatkan tempat duduk bagi penumpang prioritas kerap ditemukan. Para penumpang prioritas nan tidak mendapatkan tempat duduk biasanya memilih bersandar di dekat pintu sembari menunggu kewenangan mereka untuk mendapatkan tempat duduk.

Kondisi tersebut makin diperparah ketika jam berangkat dan pulang instansi tiba. Penumpukan penumpang di peron dan dalam rangkaian kereta kerap menambah kesulitan bagi penumpang prioritas untuk mendapatkan kewenangan mereka.

Situasi berbeda terlihat ketika petugas mendampingi penumpang prioritas sejak dari peron hingga masuk ke dalam rangkaian kereta. Dalam kondisi tersebut, petugas kerap membantu mengarahkan penumpang menuju tempat duduk dan menegur penumpang nan menggunakan bangku prioritas tanpa membutuhkannya.

Sementara itu, anak wanita Lisa, Nindy (27), mengatakan ada sejumlah argumen dirinya memutuskan membujuk orang tuanya berjalan menggunakan MRT, salah satunya mengenai kenyamanan.

Menurutnya, moda transportasi tersebut tergolong lebih berkawan bagi lansia lantaran tidak terlalu ramai dan kondisi kereta hingga stasiunnya tergolong bersih. Selain itu, akomodasi lain seperti lift prioritas nan terdapat di setiap stasiun dinilai sangat membantu orang tuanya untuk naik alias turun stasiun.

"Karena MRT kan lebih sigap ya, nggak kena macet. Jadi nggak capek di jalan gitu. Terus di sini juga ada lift, jadi nggak kudu capek naik turun tangga. Dan lebih tertata aja, jadi nggak kudu desek-desekan," ujar Nindy.

Keamanan Para Penumpang di Transportasi Perlu Diperhatikan

Di kembali beragam cerita di atas, ada kekhawatiran tersendiri nan kerap 'menghantui' para penumpang perempuan, ialah tindakan pelecehan seksual di transportasi umum. Dikutip dari situs Komnas Perempuan, Survei Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) terbaru menyebut 48,9% wanita pengguna transportasi publik mengalami pelecehan seksual. Jenis pelecehannya beragam, mulai dari verbal hingga nonverbal.

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengakui masalah tersebut tetap kudu mendapatkan perhatian dari banyak pihak. Sebab, akomodasi nan mumpuni kerap tidak diimbangi dengan sistem penyelenggaraan nan melangkah maksimal. Menurutnya, perihal itu membikin aksi-aksi tidak terpuji tersebut kerap dirasakan penumpang perempuan.

"Secara umum akomodasi untuk wanita sudah ada pokoknya di kereta (MRT, KRL, LRT) sudah ada akomodasi (gerbong unik perempuan) ujung dengan ujung. Kemudian TransJakarta juga ada bus unik perempuan. Namun dalam penyelenggaraan tetap belum maksimal, terutama tetap terjadi pelecehan seksual," kata Djoko melalui sambungan telepon kepada detikcom, Rabu (14/10/2026).

Menurutnya, untuk memberikan rasa aman, khususnya bagi penumpang perempuan, peran petugas di lapangan sangat dibutuhkan. Petugas bisa proaktif memberikan support kepada para penumpang nan membutuhkan.

"Setiap pikulan itu kudu ada petugas untuk mengawasi setiap mobilitas gerik (mencurigakan)," ujarnya.

Dia menambahkan, penambahan rangkaian kereta pada jam-jam sibuk juga menjadi salah satu opsi nan bisa dijalankan untuk memberikan perlindungan terhadap wanita dan penumpang prioritas. Sebab, ketika seseorang mempunyai ruang mobilitas nan lebih leluasa alias tidak berdesak-desakan, akibat terjadinya hal-hal nan tidak diinginkan bisa diminimalkan.

Menurutnya, perihal itu juga perlu dilengkapi dengan sejumlah akomodasi pendukung, seperti CCTV, imbauan lisan dari petugas, hingga stiker edukasi mengenai jenis-jenis pelecehan seksual. Upaya tersebut bisa membantu meminimalkan akibat terjadinya hal-hal nan tidak diinginkan.

Hal tersebut krusial untuk mendapatkan perhatian. Pasalnya, info Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat adanya peningkatan penggunaan transportasi umum di Ibu Kota pada Juni 2026. Data tersebut mencakup tiga moda transportasi umum, ialah TransJakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta.

Berdasarkan info BPS DKI Jakarta, jumlah penumpang transportasi umum mengalami peningkatan secara tahunan. Adapun rinciannya, jumlah penumpang TransJakarta naik 14,99%, MRT Jakarta naik 17,54%, dan LRT Jakarta naik 26,42%.

"Menambah rangkaian dan menambah ruang unik wanita saat jam sibuk," ungkapnya.

Ketika mengalami kondisi nan tidak diinginkan, Djoko menyarankan korban segera melapor kepada petugas alias meminta support penumpang lainnya.

"Setidaknya jika wanita mengalami itu setidaknya secepatnya melapor alias minimal teriak saja sehingga bakal mudah untuk diketahui oleh banyak orang," ungkap Djoko.

Sementara itu, Kepala Divisi Corporate Secretary PT MRT Jakarta (Perseroda) Rendy Primartantyo mengatakan pihaknya bersedia memberikan pendampingan kepada korban sebagai saksi jika peristiwa tersebut terjadi.

"Sesuai SOP nan dimiliki oleh MRT (SOP - Pelayanan Pelanggan) menjelaskan MRT bakal membantu melaporkan kepada pihak berkuasa jika korban berkenan untuk memproses perihal tersebut. MRT Jakarta bakal berkedudukan sebagai pendampingan korban dan mendukung penuh andaikan dalam pelaporannya dibutuhkan bukti CCTV dan lain-lain," kata Rendy kepada detikcom, Jumat (16/10/2026).

"SOP penanganannya adalah jika korban melaporkan, terbukti dan mau melanjutkan laporannya, MRT Jakarta bakal memfasilitasi laporan tersebut dan berkarakter mendampingi korban sebagai saksi dan juga penyedia bukti jika diperlukan CCTV," sambungnya.

Penumpang MRT JakartaFoto: Dea Duta Aulia

Selain itu, Rendy menjelaskan pihaknya juga menghadirkan sejumlah akomodasi dan jasa untuk para wanita nan masuk dalam kategori prioritas. Untuk ibu menyusui alias ibu nan membawa anak, misalnya, tersedia ruang bilik bayi nan bisa digunakan di seluruh stasiun.

Selain itu, pihaknya juga memberikan pin prioritas untuk memudahkan penumpang prioritas mendapatkan kewenangan mereka, seperti tempat duduk saat berada di dalam rangkaian kereta. MRT Jakarta juga menyediakan bangku prioritas nan biasanya terdapat di kedua ujung setiap gerbong.

"MRT Jakarta didesain secara universal, artinya semua orang bisa menggunakan dengan nyaman dan aman. Selanjutnya, MRT Jakarta dioperasikan dengan standar internasional, ialah nan lazim digunakan di operator metro lainnya di negara maju," ujarnya.

"Ruang menyusui nan kondusif dan nyaman bakal memberi gambaran baik kepada para pengguna bahwa berjalan dengan transportasi publik di Jakarta juga bisa dilakukan dengan terhormat (misalnya tidak mengganti popok alias menyusui di toilet)," sambungnya.

Tidak hanya itu, Rendy mengatakan pihaknya juga menurunkan sejumlah petugas untuk beroperasi dan membantu penumpang nan memerlukan di bagian peron alias area ticketing.

Pantauan detikcom di Stasiun Fatmawati menunjukkan sejumlah petugas tampak proaktif membantu para penumpang nan membutuhkan. Bantuan nan diberikan petugas tidak hanya berupa pemberian bangku prioritas kepada penumpang.

Petugas juga membantu dalam aspek lain, salah satunya ketika mendampingi penumpang tunanetra nan mau ke bilik mandi. Petugas tersebut apalagi menunggu hingga penumpang itu selesai menggunakan toilet.

"Sejauh ini, MRT Jakarta telah menyediakan petugas keamanan nan rutin beroperasi di dalam area stasiun dan di dalam kereta untuk mengantisipasi situasi serta menjaga kenyamanan pelanggan. Saat operasional waktu sibuk pukul 07.00-09.00 WIB dan 17.00-19.00 WIB setiap rangkaian kereta disediakan kereta unik perempuan," tutupnya.

(anl/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News
↑