Menyalakan Api Pemikiran Buya Syafii Maarif melalui Seni Pertunjukan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Menyalakan Api Pemikiran Buya Syafii Maarif melalui Seni Pertunjukan Penampilan Komunitas Seni Talago Buni dalam memperingati bulan lahir dan wafatnya Buya Ahmad Syafii Maarif (31 Mei 1935 – 27 Mei 2022) di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam, kampus ISI Padang Panjang, Minggu (31/5/2026) malam. Pagelaran bertema Bertutur Tent(MI/Yose Hendra)

MALAM pengujung bulan Mei 2026, Gedung Hoerijah Adam, Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, seakan berubah menjadi ruang ingatan bangsa. Lampu-lampu temaram jatuh perlahan di wajah ratusan penonton nan duduk khidmat, nyaris tanpa suara. 

Dari panggung, bunyi Dede Pramayoza mengalun pelan, lampau menghujam, menghidupkan kembali pidato Buya Ahmad Syafii Maarif nan pernah disampaikan di kampus itu, 11 tahun silam, 16 Maret 2015. Bukan sekadar membaca ulang, melainkan membangkitkan kembali warisan intelektual seorang pembimbing bangsa nan terasa kian mendesak di tengah era nan gaduh, bising, dan kehilangan arah moral.

Dede nan sehari-hari merupakan dosen, membingkai kembali cuplikan pidato Buya di kampus ISI pada tahun 2015 silam. Bagi Buya Syafii Maarif, beber Dede, seorang sarjana tidak cukup hanya mengantongi gelar. Ia kudu terus merenung, membaca, dan menulis agar tidak terjebak dalam kemalasan intelektual nan dapat 'menggali kuburan masa depannya' sendiri. Pikiran, kata Buya, kudu dilempar ke ruang publik untuk diuji, dikritik, apalagi ditolak.

Buya juga menempatkan seni sebagai kekuatan moral. Talempong dan canang unggan menjadi simbol bahwa keelokan bisa melahirkan harmoni, apalagi menjadi perangkat untuk 'menjinakkan' politik kekuasaan nan liar dan kehilangan visi kemanusiaan. Seni, baginya, bukan sekadar hiburan, melainkan jalan memperhalus jiwa dan mempertajam spiritualitas.

Kegelisahan pada Dunia Pendidikan

Kegelisahan terbesar Buya tertuju pada bumi pendidikan Indonesia nan dinilainya kering dari nilai luhur dan keindahan. Akibatnya, ruang pendidikan kehilangan adab, melahirkan kekerasan dan krisis kemanusiaan. 

Kritiknya tajam: sila Kemanusiaan nan setara dan beradab perlahan berubah menjadi praktik 'kemanusiaan nan kejam dan biadab'. Pagelaran naratif-musikal berjudul Bertutur Tentang Guru Bangsa: Kaba Kebangsaan dari Minangkabau”, Minggu malam, 31 Mei 2026, ditaja oleh Komunitas Seni Talago Buni & Maarif Institute.

Pramayoza dan para seniman malam itu, gagasan-gagasan besar Buya Syafii nan selama ini tersimpan dalam ruang akademik dan lembar pidato, menjelma tuturan budaya nan hangat, menggugah, dan dapat dinikmati siapa saja. Penonton tak sekadar menyaksikan pertunjukan, tetapi seperti diajak berkaca tentang Indonesia nan sedang kehilangan kedalaman berpikir, kehilangan kehalusan rasa, dan perlahan menjauh dari nilai-nilai kebangsaan nan pernah diperjuangkan Buya Syafii Maarif sepanjang hidupnya.

Mengenang sang Cendikiawan

Pagelaran nan digelar Ma'arif Institute bekerja sama dengan Komunitas Talago Buni dan Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang itu menjadi bagian dari peringatan bulan lahir sekaligus mengenang empat tahun wafatnya Buya Syafi’i Ma’arif, tokoh cerdas pandai muslim Indonesia asal Minangkabau.

Buya Syafi’i Ma’arif lahir di Nagari Sumpur Kudus, Sumatra Barat, pada 31 Mei 1935 dan wafat di Yogyakarta pada 27 Mei 2022. Semasa hidupnya, dia dikenal sebagai intelektual muslim progresif nan konsisten menyuarakan nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan universal. Ia juga pernah memimpin Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1998–2005 dan aktif di beragam forum internasional.

Dalam pagelaran di Padang Panjang, Komunitas Talago Buni menghadirkan pagelaran multimedia nan memadukan pembacaan narasi, audio visual, musik kontemporer, dan idiom budaya Minangkabau. Narasi-narasi mengenai perjalanan hidup, pemikiran, dan sikap kebangsaan Buya Syafi’i dibacakan ulang melalui pendekatan artistik nan menyentuh.

Narasi nan bakal didendangkan dikutip dari kitab Memoar Seorang Anak Kampung, serta beragam pendapat dan pemikiran Buya ASM nan berceceran dimana-mana. Narasi-narasi nan dikutip adalah bagian-bagian nan menarik dari langkah pandang Buya ASM, nan kemudian distrukturkan dalam beberapa bagian dari pertunjukan. 

Mengangkat Budaya Minang

Ada bagian nan disusun alias dikembangkan dalam corak pantun dalam bahasa Minangkabau, dan diolah menjadi dendang irama bakaba. Bakaba adalah tradisi berkata Minangkabau nan paling awal dan paling penting, ialah sebuah tradisi lisan dalam corak prosa liris nan berbasiskan pada musik vokal, mirip dengan play reading. Pantun-pantun bakal ditulis dalam bahasa Minangkabau, namun pantun-pantun tersebut juga bakal disampaikan sebagai narasi oleh pembaca puisi dan prosa dalam bahasa Indonesia. 

Berbagai komponen inilah ialah visual background, dendang dan bakaba, narasi nan dibacakan narator serta musik nan bakal membentuk alias menopang pagelaran Bertutur tentang Guru Bangsa. Berbagai komponen ini bakal diberikan ruang-ruang tersendiri tergantung dari pesan alias makna nan bakal disampaikan

Selain Dede, akademisi dari Universitas Negeri Padang (UNP) Andria C. Tamsin juga bertindak sebagai narator dalam pagelaran itu. Ia menuturkan kembali cuplikan perjalanan Buya Syafii Maarif nan dikutip dari kitab Memoar Seorang Anak Kampung, dan juga testimoni tokoh-tokoh saat datang dalam takziah virtual selang beberapa waktu setelah seperti berpulangnya Buya. Antara lain testimoni tokoh NU, K.H. Ahmad Mustofa Bisri. 

Dituturkan kembali Andria, bagi Mustofa Bisri, Buya Syafii istiqomah dalam menjadi pembimbing bangsa, istiqomah untuk menjadi teladan dalam akhlakul karimah. 

“Istiqomah ini nan menyebabkan saya yakin, kerabat saya Buya Syafii sebagai milik bangsa Indonesia adalah waliyyun min auliya illah. Buya Syafii tidak pernah tertundukan oleh rasa takut, tidak pernah ditundukkan oleh kesedihan. Kenapa? Karena beliau adalah Wali Allah, Kekasih Allah. Tandatanda kewalian itu menurut Al-Qur'an, tidak takut, tidak ditundukan oleh rasa takut. Beliau tidak takut melarat. Tidak takut dihina orang,” demikian penggalan testimoni Mustofa Bisri.

Lalu Andria nan tampil di depan podium di atas panggung, juga menghentakkan kembali testimoni Uskup Agung Jakarta Iqnatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo soal Buya. 

“Buya Syafii adalah pribadi sederhana. Beliau adalah seorang nan beriman, pemeluk kepercayaan nan taat, saleh. Seluruh hidupnya terarah kepada Tuhan. Dan dari situlah muncul pribadi dengan beragam keutamaan,” beber Andria mengulang kembali apa nan dikatakan Kardinal Suharyo.

Lalu tak kalah penting, Andria mengingatkan kembali hadirin bahwa Perdana Menteri Malaysia, Dato’ Seri Anwar bin Dato’ Ibrahim juga punya kesan mendalam pada Buya. Ia sewaktu takziah virtual menyampaikan, dalam sebuah aktivitas di Batu, Jawa Timur, nan dia hadiri, Buya Syafii bicara langsung bahwa sedang merumuskan pandangan tentang politik dan pendekatan Islam nan sederhana, dengan menempatkan budaya dan masyarakat nan bukan hanya mewakili Indonesia, melainkan bumi alam melayu keseluruhan. 

“Islam nan universal dan rahmatan lil alamin, Islam nan bertapak kepada tuntutan era dan budaya tempatan. Jadi kupasan beliau sangat kaya dengan pengetahuan dan pengetahuan tentang masyarakat Indonesia dan Islam. Tentang Islam dan Kebingkaian Indonesia itu nan diolah dengan begitu baik,” tukasnya.

Pagelaran ini juga mengangkat pandangan Profesor M. Amin Abdullah dari Universitas Gadjah Mada nan menyebut Buya Syafi’i sebagai sosok muslim progresif, figur nan bisa menyatukan nilai keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan universal dalam satu tarikan napas.

Pagelaran selama lebih kurang 1,5 jam itu dimainkan oleh Komunitas Talago Buni. Kelompok seni nan dipimpin oleh Edy Utama, dikenal sebagai golongan musik kontemporer berbasis budaya Minangkabau nan telah tampil di beragam pagelaran seni di dalam maupun luar negeri.

Medium Baru

Direktur Artistik Pertunjukan, Edy Utama, menyalakan kembali api pendapat dan pemikiran Buya Syafii Maarif dengan pendekatan multimedia, agar pemikiran Buya Syafi’i dapat lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas, terutama generasi muda.

“Kami mau gagasan-gagasan Buya tidak hanya datang dalam kitab dan ruang akademik, tetapi juga hidup melalui seni pagelaran nan dekat dengan publik,” ujarnya.

Tak pelak, pagelaran ini riuh dengan kehadiran pelajar. Mereka pun mengaku, pendekatan seni pagelaran nan ditunjang audio-visual membikin mereka jadi lebih kenal dengan sosok Buya Syafii Maarif. Edy Utama menegaskan bunyi dan musik pada dasarnya berkarakter universal. Karena itu, pagelaran Bertutur Tentang Guru Bangsa: Kaba Kebangsaan dari Minangkabau sengaja dirancang sebagai medium untuk menghadirkan kembali gagasan-gagasan Buya Syafii Maarif ke ruang publik.

“Semua orang bebas menafsirkan musik. Karena itu kami mau mengintervensi ruang publik melalui gagasan-gagasan Buya nan kami anggap krusial bagi kehidupan berbareng hari ini,” kata Edy.

Menurutnya, pagelaran tersebut tidak hanya menjadi ruang artistik, tetapi juga upaya membangun angan baru di tengah situasi sosial nan dinilai kian kehilangan arah moral. Bagi Edy, Buya Syafii merupakan 'provokator gagasan' nan konsisten melawan kezaliman melalui kekuatan pikiran.

“Buya selalu mendorong orang untuk tidak tak bersuara terhadap ketidakadilan. Tapi perlawanannya bukan dengan kekuatan fisik, melainkan melalui pemikiran-pemikiran nan kritis dan bermartabat,” ujarnya.

Edy menilai, pemikiran Buya tidak berakhir pada kritik, tetapi juga menawarkan solusi atas persoalan bangsa. Tema-tema seperti Pancasila, demokrasi, dan kemanusiaan terus diperjuangkan Buya, apalagi dipraktikkan langsung dalam kehidupan sehari-harinya.

“Di situlah kelebihan Buya. Apa nan beliau katakan, juga beliau jalankan dalam hidupnya sendiri,” katanya.

Dalam pagelaran tersebut, komposisi musik diolah dari lagu-lagu nan terasa berkawan bagi penonton, namun dibangun dengan pendekatan baru. Meski proses imajinatif berjalan singkat dan penuh keterbatasan, Edy mengatakan seluruh tim bekerja dengan semangat idealisme untuk menghadirkan sosok Buya secara lebih komprehensif.

“Kami hanya punya sekitar sepuluh kali latihan intensif. Tapi kami merasa ruh musik-musik nan ditampilkan punya hubungan dengan semangat pemberontakan kultural nan selama ini diperjuangkan Buya,” ujarnya.

Menurut Edy, selama ini Buya Syafii lebih banyak diperkenalkan melalui buku, tulisan, dan forum-forum diskusi. Karena itu, pendekatan seni dipilih sebagai langkah baru untuk memperkenalkan pendapat Buya kepada generasi muda.

“Saya senang memandang anak-anak muda menikmati gagasan-gagasan berat itu dengan lebih nyaman dan ringan melalui medium seni,” katanya.

Ia menilai model pagelaran semacam ini dapat menjadi medium baru untuk mempopulerkan pemikiran tokoh bangsa lain, seperti Mohammad Hatta alias Tan Malaka. Dalam pagelaran itu, pidato-pidato Buya direkonstruksi ulang melalui narasi, pantun, kaba, dan komponen tutur lokal Minangkabau.

Selain itu, tim artistik juga memasukkan beragam pernyataan tokoh tentang Buya, mulai dari Anwar Ibrahim, Goenawan Mohamad, hingga Haidar Nashir. Seluruh materi disusun melalui pencarian arsip dan video nan cukup panjang, lampau diolah kembali dengan sentuhan artistik.

“Kalau hanya memutar ulang video Youtube tentu bakal berbeda. Kami mencoba memberi sentuhan artistik terhadap pikiran-pikiran Buya agar lebih mudah diterima publik,” ujar Edy.

Direktur Eksekutif Ma'arif Institute, Andar Nubowo, menilai pagelaran Bertutur Tentang Guru Bangsa: Kaba Kebangsaan dari Minangkabau sukses menghadirkan kembali pendapat dan keteladanan Buya Syafii Maarif melalui pendekatan seni nan dekat dengan akar budaya lokal.

“Yang paling menarik dari pagelaran ini adalah gimana pendapat dan keteladanan Buya diterjemahkan melalui pendekatan seni nan sangat dekat dengan lokalitas. Menurut saya, pendekatan seperti ini sangat relevan dengan situasi sekarang,” kata Andar.

Menurutnya, Buya Syafii bukan hanya dikenal sebagai ahli filsafat dan intelektual, melainkan juga seorang seniman nan menempatkan kebudayaan sebagai jalan transformasi sosial. Karena itu, perhatian Buya terhadap rumor kebudayaan sangat besar.

“Buya percaya perubahan sosial, politik, dan ekonomi bisa dicapai melalui kebudayaan. Itu sebabnya beliau mendirikan Ma'arif Institute for Culture and Humanity. Dalam pandangan Buya, kebudayaan dan kemanusiaan adalah dua perihal nan tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.

Andar menilai, pendekatan seni menjadi krusial di tengah menurunnya efektivitas penyampaian pesan-pesan kebangsaan dan keagamaan secara konvensional. Menurut dia, publik memerlukan medium baru nan lebih dekat dan mudah diterima masyarakat.

“Kita perlu mencari langkah baru untuk menyampaikan pesan-pesan kebangsaan dan kemanusiaan, salah satunya melalui seni,” katanya.

Ia mengaku terkesan dengan kekuatan narasi dan musikalitas dalam pagelaran nan membikin sosok Buya seolah datang langsung di hadapan penonton. Menurutnya, narator bisa menyampaikan gagasan-gagasan Buya secara bening dan emosional.

“Pertunjukan ini membikin kita merasa Buya datang kembali di depan mata dan menyampaikan langsung pesan-pesannya,” ujar Andar.

Ia menilai gagasan-gagasan Buya Ahmad Syafii Maarif semakin relevan dihidupkan di tengah krisis kemanusiaan dan persoalan multidimensional nan dihadapi Indonesia saat ini.

Menurut Andar, Buya tidak hanya meninggalkan warisan pemikiran tentang kebangsaan, tetapi juga teladan gimana merawat Indonesia nan majemuk, plural, dan bisa hidup berdampingan dalam perbedaan.

“Kita perlu menjabarkan pikiran dan tindakan nyata bagi Indonesia nan majemuk dan plural, agar bisa hidup berdampingan dalam perbedaan,” kata Andar.
Andar menilai fragmen-fragmen pemikiran Buya krusial terus dihadirkan di ruang publik, terutama ketika Indonesia sedang menghadapi krisis ekonomi, moral, kebudayaan, hingga krisis sosial nan membikin masyarakat mudah terpecah dalam identitas kebangsaan.

“Gagasan Buya adalah suluh kebangsaan. Ia krusial sebagai cermin untuk menjaga optimisme kita sebagai bangsa,” katanya.

Selain narasi, pagelaran juga diperkuat dengan visual perjalanan hidup Buya, mulai dari masa kecilnya di kampung terpencil hingga menjadi tokoh bangsa nan dikenal luas lantaran perjuangannya terhadap kemajemukan dan persatuan Indonesia.

“Kalau kita membaca memoar Buya lampau memandang visualisasi malam ini, kita menemukan sosok nan tidak pernah capek menjaga optimisme,” katanya.

Andar menyebut perjalanan hidup Buya nan penuh perjuangan membentuknya menjadi sosok arif dan bijaksana. Baginya, Buya bukan sekadar akademisi, melainkan seorang filosof dan pembimbing bangsa.

“Yang paling penting, tidak ada jarak antara kata dan perbuatan Buya. Apa nan beliau sampaikan, itulah nan beliau jalankan,” ujarnya.

Menurut Andar, kesederhanaan hidup Buya dan sikapnya nan tidak tergoda kedudukan maupun kekuasaan menjadi teladan krusial bagi bangsa saat ini. Bahkan, kata dia, Buya pernah menolak sejumlah tawaran kedudukan politik lantaran merasa ada sosok lain nan lebih tepat.

Kemanusiaan nan Universal

Ia juga menyoroti pandangan kemanusiaan universal nan diperjuangkan Buya sepanjang hidupnya. Bagi Andar, Buya merupakan humanis muslim sejati nan mengajarkan pentingnya menjaga solidaritas kemanusiaan tanpa membedakan latar belakang kepercayaan maupun keyakinan.

“Bahkan kepada mereka nan berbeda keyakinan, Buya tetap menekankan bahwa mereka adalah manusia nan kudu dihormati dan tidak boleh dipersekusi,” katanya.

Terkait Ma'arif Institute, Andar menjelaskan lembaga tersebut didirikan Buya berbareng murid-murid ideologisnya pada 2003 untuk membangun Islam nan progresif, terbuka, toleran, dan tumbuh dalam konteks keindonesiaan nan plural.

“Semua pendapat Buya bermuara pada satu hal, ialah kemanusiaan universal,” ujarnya.

Andar menilai Buya Syafii sesungguhnya telah menjadi pahlawan bangsa, meski hingga sekarang belum memperoleh gelar pahlawan nasional secara resmi. Namun, menurut dia, penghormatan paling krusial bukan sekadar gelar, melainkan gimana masyarakat terus menghidupkan pemikiran dan keteladanan Buya dalam kehidupan sehari-hari.

“Yang terpenting adalah gimana pikiran dan keteladanan Buya terus menjadi inspirasi untuk menjaga kewarasan bangsa, merawat kemanusiaan, dan menjaga Indonesia tetap utuh,” kata Andar.

Andar menambahkan peringatan ini menjadi upaya merawat sekaligus memperkenalkan kembali pendapat dan nilai-nilai Buya Syafi’i kepada generasi muda di tengah kehidupan bangsa nan majemuk.

“Tema besar aktivitas tahun ini adalah Merawat Suluh, Menjaga Hati Nurani Bangsa. Kami mau pemikiran Buya Syafi’i tetap hidup sebagai sinar moral dan kebangsaan,” kata Andar.

Ia menjelaskan, rangkaian aktivitas digelar di tiga kota, ialah Yogyakarta, Sumatra Barat, dan Jakarta. Di Yogyakarta, M’arif Institute berbareng Kiniko Art telah membuka pameran seni rupa bertema Suluh sejak 23 Mei lalu, nan menghadirkan karya sejumlah seniman Indonesia terinspirasi dari pemikiran Buya Syafi’i. Pameran tersebut berjalan hingga 7 Juli 2026.

Sementara itu, di Jakarta pada 18 Juni mendatang bakal digelar Pidato Kebudayaan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Museum Nasional, nan juga dirangkai dengan pementasan ulang pagelaran Bertutur tentang Guru Bangsa.

Sementara itu, Rektor ISI Padang Panjang, Febri Yulika nan membuka langsung pagelaran, menyebut pagelaran naratif-musikal Bertutur Tentang Guru Bangsa: Kaba Kebangsaan dari Minangkabau menjadi upaya membuka kembali ingatan kolektif tentang perjalanan hidup Buya Syafii Maarif.

“Malam ini kita sedang membuka lembar-lembar memori ingatan, menyusuri jejak anak kampung dari Sumpur Kudus nan mobilitas pikirnya menerabas batas, bukan hanya Indonesia, melainkan juga dunia,” ujar Febri.

Menurutnya, melalui pendekatan seni, publik diajak kembali memandang Buya sebagai pembimbing bangsa nan mengajarkan cinta kebangsaan melalui kemanusiaan, keislaman, dan keteladanan hidup.

“Buya mengajarkan gimana mencintai kebangsaan melalui kemanusiaan dan nilai-nilai Islam. Kita berambisi generasi muda memandang Buya sebagai sinar bangsa,” katanya.

Febri mengatakan, bagi Buya, kepercayaan tidak berakhir pada diskusi, tetapi kudu diwujudkan dalam tindakan nyata.

“Bagi Buya, kepercayaan bukan untuk diperdebatkan semata, tetapi dilaksanakan. Dan Buya memberi contoh itu dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Ia menilai, pemikiran tokoh besar seperti Buya tidak cukup hanya dikenang melalui kata-kata alias buku, tetapi juga perlu diterjemahkan melalui medium seni nan lebih dekat dengan perkembangan zaman.

“Malam ini, pikiran-pikiran Buya tidak hanya didialogkan, tetapi ditransformasikan melalui seni. Tokoh besar tidak cukup dikenang lewat kata-kata, tetapi juga melalui medium nan hidup di tengah masyarakat,” bilangnya.

Menurut Febri, warisan terbesar Buya bukan kedudukan ataupun penghargaan, melainkan keberanian moral untuk menyampaikan kebenaran, meski sering tidak populer.

“Buya punya keberanian untuk mengatakan kenyataan, meskipun itu tidak populer. Ia berani berdiri di tengah pertengkaran dan memeluk Indonesia dalam segala keberagamannya,” ujar Febri.

Ia berambisi transformasi pemikiran Buya melalui narasi musikal tersebut menjadi bagian dari ikhtiar merawat warisan intelektual dan moral salah satu tokoh besar bangsa.

“Semoga kebersamaan malam ini menjadi bagian dari ikhtiar menyalakan kembali api pemikiran Buya demi Indonesia nan lebih berperadaban,” tandasnya.

Pertunjukan berdurasi sekitar satu jam separuh itu ditutup dengan sajian musik talempong-modifikasi nan memukau ratusan penonton di Gedung Hoerijah Adam, ISI Padang Panjang. (YH/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia