Menulis: Cara Saya Berdamai dengan Diri Sendiri

Sedang Trending 1 jam yang lalu
https://online.fliphtml5.com/christinadessi/Buku-Cerita---Rex-Sakit-Gigi/#p=1

Pernah ada masa ketika kepala saya terasa begitu penuh. Bukan lantaran pekerjaan nan terlalu banyak, melainkan lantaran terlalu banyak perihal nan saya simpan sendiri. Ada kekhawatiran nan tidak sempat diucapkan, ada kekecewaan nan saya pendam, dan ada angan nan belum menemukan jalannya. Anehnya, semua itu mulai terasa lebih ringan setiap kali saya membuka laptop alias mengambil selembar kertas untuk menulis.

Saya tidak langsung menjadi penulis. Awalnya saya hanya mau menuangkan apa nan ada di pikiran agar tidak terus berputar di kepala. Namun, semakin sering menulis, saya menyadari bahwa aktivitas sederhana ini bukan sekadar merangkai kata. Menulis menjadi langkah saya mengenali diri sendiri.

Di tengah kehidupan nan serba cepat, kita terbiasa mendengar begitu banyak suara. Pendapat orang lain, tuntutan pekerjaan, info nan terus mengalir di media sosial, hingga ekspektasi nan kadang tidak realistis. Di antara semua kebisingan itu, kita sering lupa mendengarkan bunyi diri sendiri.

Menulis memberi saya kesempatan untuk berakhir sejenak dan bertanya, "Apa nan sebenarnya sedang saya rasakan?" Saya percaya banyak orang mengalami perihal nan sama. Tidak semua emosi mudah diceritakan kepada orang lain. Ada nan memilih tak bersuara lantaran takut dihakimi, ada pula nan merasa tidak mau merepotkan siapa pun. Bagi saya, tulisan menjadi ruang nan kondusif untuk menampung semua itu.

Pengalaman tersebut rupanya juga didukung beragam penelitian. Menulis secara reflektif dapat membantu seseorang mengelola emosi, mengurangi stres, dan memahami pengalaman hidupnya dengan lebih baik. Mungkin lantaran ketika menulis, kita dipaksa memperlambat pikiran nan berlarian dan menyusunnya menjadi sesuatu nan lebih teratur.

Ilustrasi menulis. Foto: Getty Images

Hal lain nan saya sukai dari menulis adalah kemampuannya menjangkau orang lain. Kita mungkin menganggap cerita nan kita alami biasa saja. Namun, pengalaman nan terasa sederhana bagi kita bisa menjadi penguat bagi seseorang nan sedang menghadapi situasi serupa. Saya pernah membaca tulisan orang asing nan membikin saya merasa tidak sendirian. Dari situ saya belajar bahwa sebuah tulisan tidak selalu kudu mengubah dunia.

Kadang cukup membikin satu orang merasa dipahami. Karena itu, saya tidak lagi mengejar tulisan nan sempurna. Saya lebih memilih tulisan nan jujur. Tulisan nan lahir dari pengalaman, kegagalan, rasa syukur, alias pertanyaan nan belum menemukan jawaban. Sebab kejujuran sering kali lebih mudah menyentuh pembaca daripada kalimat-kalimat nan terdengar bagus tetapi terasa jauh dari kehidupan nyata.

Bagi saya, menulis bukan hanya soal menghasilkan sebuah artikel. Menulis adalah langkah berbaikan dengan diri sendiri. Di setiap paragraf nan selesai saya tulis, selalu ada sedikit ruang nan terasa lebih lapang. Dan jika suatu hari tulisan itu juga dapat menemani orang lain nan sedang merasa lelah, maka itulah bingkisan terbesar dari sebuah proses menulis.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan