Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi memastikan pemerintah bakal menyiapkan pendampingan psikologis bagi korban kecelakaan antara kereta commuter (KRL) dan KA Argo Bromo pada Senin malam, 27 April 2026.
“Pendampingan nan kami lakukan bukan hanya dalam perihal medis, tetapi pemulihannya, baik secara bentuk maupun psikologis, lantaran kami lihat ada nan mengalami trauma dan ini perlu pendampingan lebih khusus,” kata Arifah usai menjenguk korban di RSUD Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Arifah menyebut bahwa kondisi korban kecelakaan bervariasi, mulai dari luka ringan hingga cedera serius.
“Dari korban rata-rata kondisinya ada nan memar-memar tapi juga ada nan patah di beberapa bagian,” kata dia.
Ia menjelaskan, pemerintah melalui Kementerian PPPA berbareng Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) turut memantau langsung penanganan korban di rumah sakit.
Berdasarkan info nan diterima, terdapat 55 korban nan dirujuk ke rumah sakit, dengan tiga orang meninggal bumi dan sebagian lainnya telah diperbolehkan pulang.
“Hari ini kami dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan juga dari Kemenko PMK bersama-sama mengunjungi korban kecelakaan dari kereta apa tadi ya? Argo Anggrek dan KRL nan terjadi tadi malam. Terinformasi ada 55 nan dirujuk ke RSUD, tiga orang wafat, kemudian 15 sudah kembali ke rumah, dan sisanya tadi tetap ada beberapa nan kita lihat,” jelas Arifah.
Selain konsentrasi pada pemulihan kesehatan, Arifah juga menyoroti aspek sosial ekonomi korban, khususnya bagi mereka nan tetap aktif bekerja. Ia mengatakan pihaknya bakal mendorong perusahaan untuk memberikan kelonggaran kepada korban hingga pulih.
“Kemudian nan kedua adalah bagi mereka nan sebagai pekerja, kami berupaya agar perusahaan di mana mereka bekerja bisa memberikan keringanan sampai mereka pulih baru bisa masuk lagi ke tempat kerja,” ujarnya.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·