Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengungkap kenaikan nilai bahan baku plastik mulai berakibat pada kenaikan ongkos produksi pengusaha UMKM.
Meski demikian, Maman memandang sebagian besar UMKM memilih untuk tidak langsung meningkatkan nilai jual produk mereka. Maman menjelaskan, pelaku UMKM condong menahan nilai demi menjaga daya beli konsumen dan mempertahankan pasar. Konsekuensinya, margin untung mereka tergerus.
“UMKM kan dia juga perlu menjaga nilai peralatan mereka di mata masyarakat dan di mata pembeli. Jadi dia tetap nilai dijaga sama dia, hanya akhirnya untung mereka jadi menipis dong, lantaran cost produksi mereka menjadi naik, lantaran nilai plastik ini naik gitu,” kata Maman di Kantor Kementerian UMKM, Kamis (9/4).
Maman mengatakan, Kementerian UMKM telah berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian untuk mencari solusi jangka pendek hingga jangka panjang.
“Sudah (ada laporan dari pengusaha UMKM) ini kan seminggu terakhir ini kan keluhan sudah banyak, makanya segera kita tindak lanjuti dengan Kementerian Perdagangan,” imbuhnya.
Salah satu opsi jangka pendek nan dilakukan pemerintah adalah dengan membuka opsi pasokan bahan baku plastik dari negara lain. Maman menyebut saat ini importasi nafta alias bahan baku plastik dari negara pengganti telah melangkah dalam proses administrasi.
“Alhamdulillah dari Pak Budi dan seluruh jejeran Eselon I dan Eselon II-nya sudah mulai menindaklanjuti untuk jangka pendeknya tadi itu dulu, mengambil supplier (nafta bahan baku plastik) dari beberapa negara lain, kayak tadi Afrika, India, Amerika,” jelas Maman.
Mau Kembangkan Kemasan dari Rumput Laut
Selain solusi jangka pendek, pemerintah juga menyiapkan strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada plastik berbahan impor nafta. Salah satunya dengan mendorong penggunaan bahan nan lebih ramah lingkungan.
Maman mengungkapkan, salah satu pengganti nan tengah dijajaki adalah pengembangan plastik berbahan dasar rumput laut. Menurut dia, Indonesia mempunyai potensi besar untuk mengembangkan bahan baku tersebut.
“Rumput laut itu juga sebetulnya bisa menjadi bahan baku plastik, hanya cost biaya produksinya tuh dianggap tetap mahal lantaran marketnya sedikit,” ujarnya.
Dia meyakini, jika permintaan meningkat dan didorong melalui kebijakan, biaya produksi diyakini bisa ditekan.
Terlebih menurut dia saat ini, sudah ada sejumlah pelaku upaya mini dan menengah nan memproduksi plastik berbahan rumput laut. Namun, sebagian besar produk mereka justru dipasarkan ke luar negeri nan lebih siap menerima produk ramah lingkungan.
“Kita bakal panggil beberapa usaha-usaha mini menengahnya, dan kita bakal sorong dalam skala nan lebih besar lagi, agar cost produksi plastiknya dari bahan baku rumput laut, dari singkong juga bisa, tapi nan sudah ada ini nan rumput laut,” tutupnya.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·