Menperin temui Purbaya, Bahas Insentif Kendaraan Listrik-Kinerja Manufaktur

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian (Menperin), saat ditemui di Kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Selasa (5/5). Foto: Widya Islamiati/kumparan

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menemui Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa untuk membahas beragam rumor strategis, mulai dari insentif kendaraan listrik hingga upaya mendorong keahlian sektor manufaktur.

Agus mengatakan dalam pertemuan tersebut pemerintah membahas beragam corak insentif nan dapat diberikan sebagai stimulus, termasuk untuk kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Menurut dia, insentif menjadi semakin relevan, tidak hanya untuk mendukung pengurangan emisi, tetapi juga untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dan beban subsidi energi.

“Insentif macam-macam tadi kita bicarakan, salah satunya soal insentif sebagai stimulus. Kalau memang pemerintah memberikan insentif untuk motor alias mobil listrik, ini semakin relevan,” kata Agus saat ditemui di Kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Selasa (5/5).

Dia menjelaskan, selain aspek lingkungan, insentif EV juga mempunyai peran krusial dalam memperkuat industri dalam negeri dan melindungi tenaga kerja. Dengan pergeseran pasar menuju kendaraan berbasis listrik, kebijakan ini dinilai dapat menjaga daya saing industri otomotif nasional.

video story embed

Meski demikian, Agus belum merinci skema maupun waktu pemberian insentif EV tersebut. Dia menyebut pembahasan lebih lanjut mengenai perihal itu bakal melibatkan Kementerian Keuangan.

“Kapan EV mau diberikan insentif, gimana corak insentifnya, skemanya seperti apa, mungkin bisa dibicarakan langsung dengan Menteri Keuangan. Tapi memang tadi salah satu nan dibicarakan itu dari beberapa rumor beberapa perihal nan dibicarakan dengan beliau itu,” jelasnya.

Dalam kesempatan nan sama, Agus menekankan pentingnya peran sektor manufaktur sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Agus menyebut kontribusi manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) terus meningkat.

“Kami berdua, Kementerian Keuangan dan Kemenperin sudah duduk, kita bedah beragam macam hambatan nan mungkin dihadapi di lapangan oleh pelaku upaya industri. Nah itu kemudian mencarikan jalan keluarnya,” terangnya.

Upaya ini termasuk mencari solusi atas halangan di lapangan, serta mengoptimalkan peran tim debottlenecking nan dibentuk pemerintah.

Lebih lanjut, Agus menyoroti kontribusi ekspor manufaktur terhadap total ekspor nasional nan mencapai sekitar 75 persen hingga 80 persen, berasas info Badan Pusat Statistik (BPS). Namun, dari sisi output, kebanyakan produk manufaktur Indonesia tetap diserap pasar domestik.

“Kita kudu terbuka, tidak mengurangi dengan tetap memperhatikan dan melindungi pasar dalam negeri. Tapi kita juga perlu memandang kemungkinan meningkatkan ekspor produk ke luar negeri. Itu juga tadi banyak dibicarakan oleh kami berdua dengan antara dua kementerian,” tutupnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan